Halaman

Jumat, 02 Maret 2012

Dark Melody, White Melody

Disclaimer : NO COPAS OKEEEE???!!! COPAS DOSAAAA!!!
Original Soundtrack (OST) : The Name I Love (Onew & Kim Yeon Woo)
PS : disaranin bacanya sambil dengerin OST, biar lebih ngena...
Happy reading ^^

Dentingan piano mengalun dari sebuah ruangan. Lagu yang dibentuknya terdengar menyedihkan, menyayatkan, menggambarkan perasaan pemainnya.
Seorang gadis duduk di depan piano itu sambil menutup matanya. Air matanya mengalir, mengikuti perasaannya yang tersakiti. Berbagai rasa tercampur ke dalamnya. Cinta, sayang, suka, sedih, dan luka. Perasaan yang digambarkan dalam bentuk lagu Dark Melody yang ditulisnya sendiri.
Hujan turun dengan deras, menambah kuat suasana kesedihan itu. Tak mau terlarut dalam kesedihan, gadis itu mengganti lagu yang dimainkannya. Lagu yang bisa dibilang ceria ini, mengingatkannya pada kenangannya. Akhirnya gadis itu menghentikan permainannya. Air matanya mengalir deras. Bukannya ikut ceria, ia malah makin terpuruk.
Gadis itu terduduk di lantai. Ia merangkak ke sudut ruangan, bersandar di dinding. Ruangan ini, menyimpan banyak kenangan baginya, dan bagi cintanya. Bagaikan film, kenangan-kenangan itu muncul di depan matanya. Saat-saat di mana cintanya dan dirinya berbahagia.

Flashback
“Rizky!” panggil gadis itu. Mencari seseorang yang tidak menyahut sejak ia panggil 5 menit yang lalu.
“Rizky! Ini nggak lucu!” panggilnya lagi. Kali ini ia mencari di kamar, di kamar mandi, hingga loteng.
“Rizky, kamu di mana?” panggilnya, lirih. Air matanya mulai menetes.
“Rizky...” panggilnya lagi. Suaranya makin memelan. Ia terduduk di sudut ruangan terakhir yang didatanginya, ruang piano.
“Selamat ulang tahun!” seorang lelaki muncul di hadapannya dengan kue di tangannya dan topi kerucut di kepalanya. Lelaki itu kemudian duduk di depannya.
“Maaf udah bikin kamu nangis, aku cuma mau kasih kamu kejutan aja,” sesalnya. Ia menghapus air mata gadis yang telah dibuatnya menangis itu. Gadis yang bernama Rere itu langsung memeluk Rizky. Rizky membalas pelukan Rere, gadis yang telah istrinya selama 2 tahun.
“Aku pikir kamu hilang. Aku pikir kamu udah pergi. Aku pikir...” ucapan Rere terputus karena Rizky menempelkan jari telunjuknya di bibir Rere.
“Jangan ngomong apa-apa lagi. Aku nggak akan pergi dari sisi kamu, Re. Aku akan selalu ada di dalam hati kamu.” Katanya tegas. Tatapannya yang tajam mendukung kalimatnya. Rere menatap mata suaminya itu nanar. Air matanya kembali menetes.
“Maafin aku udah bikin kamu sedih,” Rizky kembali memeluk Rere. Rere mengangguk dalam pelukan Rizky.
“Aku akan selalu ada di dalam hatimu, Re.” Kata Rizky lagi.
Flashback End
Rere memperhatikan sebuah pigura yang dipajang di dinding di ruangan itu. Foto pernikahannya dengan Rizky. Saat-saat paling membahagiakan dalam hidupnya. Meskipun tanpa restu orang tuanya, Rere tetap bahagia.
Pikirannya kembali melayang. Ia teringat bagaimana paniknya ia ketika Rizky dikabarkan pingsan di kantornya.
Flashback
Rere berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Akhirnya ia sampai di depan ruang ICU. Beberapa orang, rekan kerja Rizky, menunggu di depan ruang ICU.
“Rizky kenapa, Za?” tanyanya pada Riza, sahabat Rere sekaligus rekan kerja Rizky.
“Mas Rizky pingsan, Mbak. Tadi waktu kami mau makan siang, Mas Rizky kan berdiri, mau ikut kita. Terus tiba-tiba dia pingsan.” Cerita Riza sambil menangis. Jelas, Rere dan Rizky sudah dianggapnya kakak sendiri.
Rere terduduk di kursi ruang tunggu. Air matanya kembali mengalir. Riza memeluk Rere.
“Sabar ya, Mbak. Mas Rizky pasti kuat kok, Mbak,” katanya, berusaha menenangkan Rere. Rere mengangguk pelan.
Kemudian dokter keluar dari ruang ICU. Kelima teman Rizky beserta Rere langsung merubunginya.
“Siapa diantara kalian yang keluarga pasien?” tanya dokter itu.
“Saya, Dok. Saya istrinya.” Kata Rere.
“Bisa kita bicara di ruangan saya?”
Rere mengangguk. Ia mengikuti dokter itu ke ruangannya.
“Za, tolong jagain Rizky dulu, ya,” pesannya pada Riza sebelum ia mengikuti sang dokter.
“Sebenarnya ada apa dengan suami saya, Dok?” tanya Rere ketika mereka sudah di ruangan sang dokter.
“Kanker otak yang diderita oleh Pak Rizky sudah mencapai stadium akhir, Bu. Waktunya tidak akan lama lagi,” katanya.
“Dok, tolong selamatkan suami saya. Apapun yang terjadi, lakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya. Saya akan bayar berapapun biayanya, tapi tolong sembuhkan suami saya, Dok!” pinta Rere. Air matanya mengalir lagi.
“Kami selalu melakukan yang terbaik, Bu. Tapi kami hanya bisa berusaha. Keputusan tetap di tangan Tuhan. Sekarang yang paling dibutuhkan oleh Pak Rizky adalah doa, ketenangan batin, dan Anda di sisinya. Itu saja.”
Rere tidak bisa berkata apa-apa. Dokter itu benar. Tapi ia tetap menginginkan Rizky hidup.
“Itu saja yang ingin saya bicarakan dengan Ibu. Ibu bisa menemui Pak Rizky sekarang.”
“Ya. Terima kasih, Dok.” Rere bangkit dan keluar dari ruangan sang dokter.
Sepajang koridor, otak Rere terus dipenuhi dengan kalimat dokter itu.
“Sekarang yang paling dibutuhkan oleh Pak Rizky adalah doa, ketenangan batin, dan Anda di sisinya. Itu saja.”
Rere menghapus air matanya dan mempercepat langkahnya menuju ruang ICU. Di sana, kelima rekan Rizky termasuk Riza sedang menunggu Rere.
“Udah, kalian balik aja ke kantor. Biar aku yang jaga Rizky.” Kata Rere.
“Mbak,” panggil Riza.
“Kamu lebih baik balik ke kantor, Za. Aku bisa jaga Rizky sendiri di sini.” Kata Rere lagi.
“Nanti pulang kantor kita akan ke sini lagi, Re.” Kata Kevin, salah satu rekan Rizky. Rere mengangguk. Akhirnya kelima rekan Rizky itu pun kembali ke kantor.
Rere duduk di kursi di sebelah tempat tidur Rizky. Ia mengenggam erat tangan Rizky.
“Tangan ini, yang udah menggenggam tanganku selama ini. Tangan yang selalu menenangkan kalau aku ada masalah sama Mama dan Papa.” gumamnya. Air matanya menetes lagi mengingat masa pacarannya dengan Rizky.
“Tangan ini yang udah menggenggam tanganku di pernikahanku. Tangan yang selalu menemaniku selama ini,” gumamnya lagi. Kini air matanya mengalir cukup deras.
“Re...” panggil Rizky lirih.
“Riz, kamu udah bangun?” tanyanya. Ia tersenyum, tapi air matanya tidak berhenti mengalir. Genggamannya juga tidak dilepaskan. Rizky tersenyum untuk menjawab pertanyaan Rere.
“Kamu janji untuk nggak akan pernah ninggalin aku kan, Riz?” tanya Rere.
“Re...”
“Kamu jangan pergi, Riz. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu,” pinta Rere.
“Aku tau waktuku udah nggak lama lagi, Re. Sebentar lagi kita pasti bakalan pisah.”
“Jangan ngomong gitu, Riz. Aku nggak mau kamu pergi.”
All I want is you, only one is you in my life...”Rere menyanyikan lirik dari lagu Life yang dinyanyikan SHINee, lagu favorit mereka berdua. Rizky tersenyum mendengarnya.
“Kamu nggak boleh mengingatku terus, Re. Kamu harus cari lelaki lain, yang bisa ngebahagiain kamu dan nggak bikin kamu nangis terus kayak gini,” kata Rizky lirih.
“Riz, jangan ngomong gitu. Kamu pasti sembuh. Aku yakin itu. Kamu percaya sama aku, kan?”
“Re, waktuku udah nggak banyak lagi. Kamu harus cari lelaki lain buat ngegantiin aku,”
“Nggak ada yang bisa gantiin kamu, Rizky. Jangan ngomong begitu!”
“Re...” Rizky terbatuk-batuk. Rere yang panik melihatnya memencet bel untuk memanggil suster.
“SUSTER! SUSTEEER!” teriaknya.
“Rizky, kamu harus bertahan. Kamu harus sembuh buat aku, Rizky. Kamu harus!” pinta Rere.
“Re, tolong... sampein... permintaan maafku... ke orang... tua kamu. Aku... minta maaf... udah... bi.. kin, kamu... per.. gi... da.. ri.. me.. re.. ka...” kata Rizky dengan terputus-putus.
“Jangan bilang gitu. Kamu harus minta maaf sendiri sama mereka! Rizky, kamu pasti kuat! Kamu harus kuat!”
“Susteeer!!! Dokteeeer!!!” teriak Rere lagi. Ia kembali memencet-mencet bel.
“Selamat tinggal, Re...” kata Rizky lirih. Ia pun menutup matanya. Sebuah alat pendeteksi detak jantung yang diletakkan tidak jauh dari tempat tidur mengeluarkan suara yang panjang. Garis-garis zigzag pun berubah menjadi lurus.
“Rizky! Bangun! Bangun, Riz!” pinta Rere. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Rizky.
Suster dan dokter pun berdatangan. Rere diminta keluar sebentar. Rere langsung menelepon Riza untuk mengabarinya. Ia juga menelepon mertuanya – orang tua Rizky. Dokter itu akhirnya mencoba mengejutkan jantung Rizky dengan sebuah alat. Mereka mencobanya 5 kali. Mereka terlihat sedih, kemudian sang dokter pun keluar.
“Dokter, suami saya masih hidup kan, Dok?” tanya Rere. Air matanya mengalis.
“Maaf, Bu. Kami tidak bisa menyelamatkan suami Anda.” Sesalnya. Rere sempat kehilangan kata-kata.
“Dokter bohong, kan?! Nggak mungkin suami saya meninggal!” Rere menerobos masuk. Tepat saat suster menutupi tubuh Rizky dengan kain putih. Karena kedatangan Rere, suster itu pun keluar.
“Rizky, bangun, Riz! Kamu pasti cuma bercanda aja, kan? Kamu mau ngasih kejutan buat aku kan, Riz?! Riz, bangun Riz! Jangan bercanda kayak gini, Riz! Nggak lucu!” air mata Rere mengalir deras.
“Rere!” panggil ibu Rizky.
“Ibu, Ayah,” panggilnya.
“Rizky, Rizky, Ibu di sini, Nak! Kamu bangun dong, Nak! Ibu dan Ayah ada di sini!” pinta ibu Rizky sambil menangis. Rere menangis dalam pelukan ayah Rizky.
“Mbak Rere!” panggil Riza. Rere memeluk Riza dan menangis.
“Mas Rizky...” Rizamenunjuk Rizky. Rere menutup mulutnya dengan tangan dan mengangguk.
“Nggak mungkin...” katanya lirih.
“Yang sabar ya, Re,” Kevin memeluk Rere, berusaha menguatkannya. Rere mengangguk dalam pelukan Kevin.
Flashback End
Rere duduk kembali di depan piano. Ia menelan ludahnya, berusaha menahan tangisnya. Jari-jarinya berada di atas tuts-tuts piano.
“Rizky, lagu ini aku mainkan buat kamu...” katanya lirih. Alunan nada pun terdengar lagi. Kali ini, White Melody.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar