Genre : friendship, family, romance
Cast :
1. Cho Jinri
2. Choi Minyoung
3. Lee Chaerin
4. Kim Ryeowook
5. Lee Jinki
6. Kim Jonghyun
Akhirnya part 1 dari FF Over The Rainbow ini selesai juga ^^ mohon komentarnya, ya J oya, satu lagi. NO BASH dan jangan jadi plagiat!! Tokoh-tokoh ini milikku (kecuali Ryeowook, Jonghyun dan Jinki). Ide juga ideku sendiri, tidak meniru cerita yang lain. Cerita ini juga dipost di wordpressku, khairunnisaarsyadhea.wordpress.com gomawo ^^
And the story is... begin! ^^
Matahari muncul, mengawali hari yang cerah ini. Kegiatan di setiap rumah baru saja dimulai, kecuali di rumah keluarga Cho. Sejak pukul 5 pagi, keluarga ini telah bangun dari tidurnya (?) dan memulai kegiatan mereka. Tentu saja, hari ini adalah hari pernikahan Cho Ahra, kakak pertama Jinri. Jinri dan kedua teman baiknya, Minyoung dan Chaerin, akan menjadi pengiring pengantin di pernikahan ini. Karena itu, semalam, Chaerin dan Minyoung menginap di rumah Jinri.
Pernikahan Ahra akan dilaksanakan pukul 10 siang. Dan kini sudah pukul 8. Jinri, Minyoung, dan Chaerin sudah berada di gedung pernikahan. Mereka ikut sibuk mengecek dekorasi gedung, makanan dan minuman, sampai buku tamu.
Jinri, Chaerin, dan Minyoung mengenakan gaun yang sama. Gaun putih selutut dan tidak berlengan. Gaun manis itu sudah menempel (?) pada tubuh mereka sejak pukul 07.30 KST. Dengan riasan natural, menjadikan mereka bertiga begitu cantik. Mereka juga sama-sama memakai high heels 5 cm berwarna putih dengan model yang berbeda. Dan kini, mereka sudah duduk mengelilingi salah satu meja di gedung itu.
“Hah~ aku lelah sekali. Baru jadi pengiring pengantin saja sudah begini, apalagi kalau aku yang menjadi pengantinnya nanti?” keluh Jinri.
“Apa itu artinya kau tidak akan menikah?” tanya Minyoung.
“Yaa! Bukan begitu!”
“Kasihan Ryeowook Oppa kalau kau tidak mau menikah,” goda Chaerin.
“Chaerin-ah, kenapa kau ikut-ikutan Minyoung, sih?”
“Aku tidak sabar menunggu waktu hingga Sooyoung Eonnie menikah!” seru Minyoung.
“Wae?” tanya Jinri dan Chaerin bersamaan.
“Karena pasti kita bisa bolos kuliah lagi.” jawabnya polos.
“MINYOUNG-AH!!!” teriak Chaerin dan Jinri (yang lagi-lagi) bersamaan.
“Wae? Bukankah enak jika kita bolos kuliah? Tidak mengikuti mata kuliah Park Gyosunim, tidak mengikuti mata kuliah Nam Gyosunim.”
“Bagaimana dengan Kim Gyosunim?” Jinri tertarik.
“Maksudmu Kim Jongwoon Gyosunim yang tampan itu?” Chaerin mulai tertarik. Jinri mengangguk.
“Eo! Dia tampan sekali, kan! Oh, Kim Gyosunim~” Jinri mulai membayangkan wajah Kim Gyosunim. Tanpa diketahuinya, 3 orang namja sudah berdiri di belakangnya dan mendengar kalimatnya itu. Chaerin dan Minyoung berusaha menahan tawa melihat ekspresi salah satu namja tersebut.
“Jadi, kesimpulannya adalah, kau menyukai Kim Gyosunim, begitu?” tanya Minyoung. Jinri mengangguk cepat!
“Bagaimana dengan Ryeowook Oppa?” tanya Chaerin.
“Ryeowook Oppa kalah dengan Kim Gyosunim! Kim Gyosunim itu lebih imut, lebih tampan, dan lebih pintar!” seru Jinri.
“Jadi, aku kalah dengan Kim Gyosunim?” Ryeowook berusaha menahan amarahnya dan berbicara tepat di telinga Jinri.
“YAAAA!” Jinri menoleh ke arah suara Ryeowook dan berteriak. Ia hampir jatuh kalau saja Chaerin tidak menahannya.
“Oppa jahat! Kalau aku sampai jatuh bagaimana? Kalau aku lumpuh bagaimana?” omel Jinri.
“Salah siapa membandingkan aku dengan Kim itu?” marah Ryeowook.
“Bukan ‘Kim itu’! Kim Gyosunim! Kim Gyosuniiim!!”
“Aku tidak peduli.” Ryeowook duduk di sebelah Jinri. Jonghyun dan Jinki melakukan hal yang sama.
“Oppaaaa!!” teriak Jinri.
“Sudah, sudah. Kalian ini ribut terus! Tidak lelah?” Jonghyun menengahi.
“Oppa nih bikin marah terus!”
“Aku tidak akan marah kalau kau tidak membandingkan aku dengan Kim Gyosunim-mu itu!” marah Ryeowook. Jinri mehrong *bahasa Indonesianya: melet :p*.
“Sudah, sudah. Jangan ribut terus.” Chaerin menengahi.
“Daripada kita menunggu di sini, lebih baik kita ke ruang rias saja. Bagaimana?” ajak Minyoung.
“Oke.” Semua pun beranjak dari kursinya dan pergi ke ruang rias. Tapi...
“Yaa! Bereskan kursinya, dong!” teriak Jinri, tapi tidak ada yang mempedulikannya.
“Aish,” umpatnya. Ia memasukkan kursi itu ke dalam meja (?) *ngerti maksud author kan?*, tapi kemudian sepasang tangan memeluknya dari belakang. Ia menoleh dan terkejut ketika melihat Ryeowook yang menyandarkan kepalanya ke punggungnya.
“Oppa?”
“Mianhae. Mian karena telah marah-marah padamu tadi.” Kata Ryeowook lembut. Jinri tersenyum. Ia berbalik, tapi tidak melepaskan diri dari pelukan Ryeowook. Ia menatap mata Ryeowook.
“Aku juga minta maaf karena telah membuat Oppa cemburu. Aku kan hanya mengidolakan Kim Gyosunim,” jelasnya. Ryeowook tersenyum dan mengangguk. Ia melepaskan pelukannya dan dengan cepat ia telah membereskan kursi-kursi itu. Kemudian ia merangkul Jinri dan mereka pun berjalan beriringan menuju ruang rias.
-----
Jinri POV
Tepuk tangan yang membahana ini ditujukan hanya untuk eonnieku dan suaminya, Kim Junsu. Sungguh, mereka sangat serasi. Aku pun sangat setuju jika mereka menikah, mereka memang sudah terlihat serasi sejak awal.
Kini, aku, Chaerin, Minyoung, Ryeowook Oppa, Jonghyun dan Jinki sedang dalam perjalanan kami ke restoran. Hanya kami berenam. Dengan masih menggunakan pakaian formal ini. Gaun dan tuksedo. Aku duduk di depan, di sebelah Ryeowook Oppa yang sedang menyetir. Di belakang kami adalah Chaerin dan Minyoung, dan yang paling belakang tentu saja Jinki dan Jonghyun.
Akhirnya kami sampai di restoran. Kami semua turun dari mobil dan masuk restoran. Kami berlima – tanpa Ryeowook Oppa – cukup terkejut melihat suasana restoran yang sepi. Tidak ada pelanggan! Kami sampai berhenti di depan pintu karena tercengang.
“Oppa, Oppa yakin kita akan makan di sini?” bisikku pada Ryeowook Oppa yang berdiri di sebelahku. Ia mengangguk.
“Aku menyewa restoran ini untuk seharian untuk kita berenam.” Ucapan Ryeowook Oppa ini membuat kami berlima menoleh padanya dengan mulut berbentuk huruf O.
“Jinjja? Oppa... menyewa restoran ini seharian untuk kami?” tanya Minyoung.
“Bukan untuk kalian. Untuk Jinri-ku tersayang.” Ryeowook Oppa merangkulku dan mencium pipiku. Minyoung dan Chaerin memekik tertahan.
“Oppa...!” aku melepas tangan Ryeowook Oppa yang melingkar di pundakku. Ia merangkulku lagi dan menarikku masuk. Minyoung-Jinki dan Chaerin-Jonghyun pun mengikuti kami.
Kami berenam duduk terpisah. Aku dengan Ryeowook Oppa di satu sudut, Minyoung dengan Jinki di sudut lain, dan Chaerin dengan Jonghyun di sudut yang lain juga. Aku tidak dapat menghapus senyumku menatapnya.
“Wae? Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Ryeowook Oppa.
“Gomawo. Jeongmal gomawo, Oppa.” Kataku sambil tersenyum.
“Cheonma, Jagi. Apa sih yang tidak untukmu,” godanya. Aku tersenyum malu.
Jinki POV
“Jinki-ya, Jinri itu sangat beruntung, ya. Ia mendapat namja chingu setampan Ryeowook Oppa, sekaya Ryeowook Oppa, yang bisa menyewa restoran ini seharian!” seru Minyoung. Ia memperhatikan Ryeowook Hyeong dan Jinri yang sedang tertawa.
“Yaa, kau membandingkan aku dengan Ryeowook Hyeong, begitu?” sahutku kesal.
“Jinki kesal, ya?” godanya. Ia menunjukkan aegyonya. Ya Tuhan, dia sangat cantik jika sedang ber-aegyo.
“Tapi, aku merasa lebih beruntung daripada Jinri.” Lanjutnya.
“Wae?”
“Karena kau mencintaiku.” Ia tersenyum. Aku juga ikut tersenyum. Aku menjulurkan tanganku, menyelipkan rambut yang menutupi telinga ke belakang telinganya.
“Saranghae,” ucapnya.
“Nado saranghae,” balasku. Aku meraih kedua tangannya dan menciumnya. Ia tersenyum malu.
“You’ll always love me. And I’ll always love you, Jinki-ya.” katanya.
“Kau mengenalku.” Aku mengedipkan mata.
“Of course!” ia tertawa. Ya Tuhan, ia sungguh cantik. Aku tidak ingin kehilangan dia.
Chaerin POV
Jonghyun benar-benar bisa membuatku tertawa dengan leluconnya. Ia sangat humoris. Tipeku ;)
“Jonghyun-ah, sudahlah! Perutku sakit karena terlalu banyak tertawa!” kataku. Aku masih tertawa sambil memegangi perutku yang sakit.
Tiba-tiba Jonghyun memegang tanganku, membuat tawaku berhenti. Ia menatapku dalam, maka aku juga menatapnya. Ya Tuhan, jantungku berdebar keras! Semoga Jonghyun tidak mendengarnya.
“Mukamu merah.” Katanya, lalu tertawa. Aku cemberut dan menarik tanganku dari genggamannya.
“Mianhae, mianhae.” Ia menghentikan tawanya dan kembali menggenggam tanganku. Ia kembali menatapku dalam.
“Wae? Kenapa menatapku seperti itu?” tanyaku salah tingkah.
“Neon neomu yeppeo.” Pujinya. Aku yakin wajahku pasti merah.
“Kau... kau baru sadar?” tanyaku pede :p
“Yaaa, percaya diri sekali kau.”
Aku tertawa kecil.
“Setelah ini kau mau pulang?” tanya Jonghyun. Aku mengangguk.
“Aku lelah, dan Donghae Oppa juga tidak suka jika aku pulang terlalu malam.”
“Bagaimana dengan Lee Minho Hyeong?”
“Minho Hyeong sedang syuting drama terbarunya.”
“Kau tidak ikut menjadi artis?”
“Aku tidak tertarik. Aku lebih suka bekerja di balik layar, membuat naskah, menulis lagu, apapun itu.”
Jonghyun tersenyum. Makanan pun datang. Steak? Sejak kapan kami memesan steak?
“Chogiyo, kami tidak...” ucapanku terputus.
“Tuan Kim memesan ini untuk Anda, Nona.”
“Ah, gamsahamnida.” Ucapku. Kami pun makan. Setelah makan, kami pun pulang. Pertama, kami mengantar Jinri, kemudian aku dan Minyoung. Kalau para namja... itu kan urusan mereka.
Author POV
“Appa!” Jinri memasuki kamar Appanya. Appanya yang sedang membaca buku meletakkan bukunya.
“Appa memanggilku?” Jinri duduk di tepi kasur.
“Hari ini kau tidak ada kuliah, kan?” tanya appanya. Jinri menggeleng.
“Hari ini kau ke Mokpo, ya?”
“Wae?”
“Ada klien Appa di Mokpo, tapi Appa tidak bisa. Appa tidak enak badan.” Kyuhyun (appanya Jinri) terbatuk.
“Appa, gwaenchanayo?” tanya Jinri khawatir.
“Gwaenchana. Kau pergilah ke Mokpo. Jonghyun akan menemanimu. Klien ini adalah klien appa dan Kim Ajussi, karena itu Jonghyun ikut. ia juga menggantikan appanya. Appa juga sudah memesan 3 kamar hotel untuk kalian.”
“3 kamar hotel?”
“Ne. Untukmu, untuk Jonghyun, dan untuk Kang Ajussi. Kang Ajussi akan mengantar kalian ke Mokpo.”
“Ne, Appa. Appa istirahat saja. Appa sudah makan belum? Mau Jinri buatkan teh ginseng?”
“Tidak usah. Appa sudah makan. Sana kau siap-siap. Sebentar lagi Jonghyun akan menjemputmu.”
“Ne, Appa.” Jinri pun keluar dari kamar Appanya.
Jinri pergi ke kamarnya dan memasukkan pakaian untuk 2 hari ke dalam koper kecilnya. Tak lama kemudian, Jonghyun datang. Jinri dan Jonghyun pun langsung berangkat ke Mokpo diantar oleh supir Kang, supir pribadi keluarga Cho.
*skip perjalanan*
Akhirnya mereka bertiga sampai di Mokpo. Mereka sampai di hotel dan langsung berbaring di kamar masing-masing. Kamar yang mereka tempati jenis VIP dan terletak di lantai 6 hotel itu.
Jinri POV
Aku berbaring di kasur setelah meletakkan koper, tas, dan tas laptop di pojok kamar. Karena sudah sampai di Mokpo, lebih baik aku memberitahu Appa. Oya, aku juga belum memberitahu Ryeowook Oppa kalau aku pergi ke Mokpo.
Aku beranjak dan mengambil tasku. Kurogoh, tapi aku tidak dapat menemukan ponselku. Kubalik dan kujatuhkan semua barang di dalam tas ke kasur. Yaaa!!! Ponselku tidak ada!!! Jangan-jangan tertinggal di rumah?
Aku keluar dari kamar dan menekan bel kamar Jonghyun yang berada tepat di depan kamarku.
“Jonghyun-ah, buka pintunya! Jonghyun-ah!!!”
“Wae?” Jonghyun membuka pintu tiba-tiba. Ia terlihat mengantuk. Aku langsung masuk dan mengambil ponselnya yang tergeletak begitu saja (?) di meja dan mengetik nomor ponselku.
“Kenapa tidak pakai ponselmu sendiri? Wae? Kehabisan pulsa?” sindirnya. Ia berbaring di kasur. Aku hanya menatapnya sinis.
“Yoboseyo.” Terdengar suara Min Ajumma. Dia adalah pembantu di rumah.
“Ajumma, ini aku!”
“Agassi?”
“Ajumma temukan ponselku di mana?”
“Di meja belajar Agassi...”
Sial. Tepat dugaanku.
“Tolong simpankan di lemari, ya, Ajumma. Jangan lupa dimatikan.”
“Ne, Ajumma.”
Klik. Aku menutup telepon. Kemudian aku teringat Ryeowook Oppa. Aku ingin menelponnya, tapi ia baru saja mengganti nomor ponselnya 2 hari yang lalu. Aku tidak hafal nomor barunya. Katanya juga baru aku yang dibaritahunya, selain keluarganya. Nomor eomma dan hyeongnya aku tidak hafal juga. Aku frustasiiii!!!
“Jonghyun-ah, gomawo.” Aku meletakkan ponsel itu di meja dan keluar dari kamar Jonghyun. Peduli amat dia dengar atau tidak, yang penting aku sudah berterima kasih. Sudahlah, besok saja kalau sudah di rumah baru aku beritahu Ryeowook Oppa.
Jonghyun POV
“Jonghyun-ah, gomawo.” Ucap Jinri lesu. Ia meletakkan ponselku di meja dan keluar dari kamarku. Ada apa dengannya?
Kalian pasti heran, aku yang seorang mahasiswa jurusan hukum kenapa bisa menggantikan Appa untuk bertemu dengan klien yang jelas-jelas untuk urusan bisnis. Tapi tenang saja, sejak kecil aku sudah sering ikut Appa bertemu dengan klien jadi aku sudah hafal di luar kepala apa saja yang harus kuucapkan nanti. Berbeda dengan noonaku yang buta soal dunia bisnis. Ia lebih suka mendesain pakaian.
Oya, aku lupa aku belum memberitahu Chaerin karena cepat-cepat tadi. Di mobil pun aku lupa. Aku meraih ponselku dan menekan nomor Chaerin.
“Sisa pulsa Anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan...”
Waaa!!! Sial kau Jinriii!!!! Gara-gara kau pulsaku habis!! Aku segera mengeceknya. Ya Tuhan, sisa pulsaku bahkan tidak cukup untuk mengirim pesan. Kemarin aku lupa membeli pulsa._.
Aku mematikan ponsel dan meletakkannya di atas meja. Aku mengantuk. Aku berbaring di kasur dan tertidur.
Author POV
Pukul 9 pagi, Jonghyun dan Jinri sudah berada di jalan untuk pergi ke tempat pertemuan mereka dengan klien. Kali ini Jonghyun yang menyetir, sementara supir Kang berada di hotel supaya bisa beristirahat karena nanti ia akan menyetir lagi pulang ke Seoul.
Tempat pertemuan kali ini berada di kafe. Mereka memakai baju semi-formal. Jonghyun memakai celana panjang dan hem kotak-kotak merah-biru (bukan hem kerja). Sementara Jinri memakai kaus polos berwarna putih yang ujungnya dimasukkan ke dalam rok selutut berwarna merah, dan memakai sabuk hitam yang menawan. Jinri sempat bersyukur karena Appanya membelikan pakaian semi-formal ini untuknya. *Aku nggak tau gimana itu pakaian semi-formal, jadi kayak gini aja ya ;)*
*skip pertemuan dengan klien*
Kontrak kerja sama itupun ditantangani. Setelah klien itu pergi, Jinri dan Jonghyun menghela nafas lega.
“Kurasa kau berbakat menjadi pebisnis.” Ucap Jonghyun.
“Kau juga. Kenapa tidak masuk jurusan bisnis saja? Oya, aku masih heran. Kau kan jurusan hukum? Kenapa kau yang menggantikan appamu?” tanya Jinri sambil meminum es jeruknya.
“Sejak kecil aku sudah terbiasa mengikuti Appa bertemu kliennya. Noona juga tidak terlalu mengerti dunia bisnis Appa. Ia lebih suka mendesainer pakaian.”
“Aku tahu itu.”
“Kalau sudah tahu kenapa bertanya?”
“Aku tahu noonamu lebih suka mendesainer pakaian daripada terjun ke dunia bisnis! Bukan tahu alasanmu menggantikan appamu, babo!” balas Jinri.
“Gara-gara kau nih, pulsaku habis. Belikan aku pulsa!” perintah Jonghyun.
“Kenapa aku?”
“Kemarin kan kau meminjam ponselku untuk menelepon seseorang. Kau yang menghabiskan pulsaku! Sekarang belikan aku pulsa!”
“Shireo!” Jinri memeletkan lidahnya. *bahasa apa ini -____-
“Setelah ini kita ke mana?” tanya Jinri.
“Ke mana lagi? Tentu saja pulang!” Jonghyun berdiri dan menuju kasir untuk membayar minuman yang telah mereka pesan. Jinri ikut berdiri dan mengikuti mereka. Tanpa mereka sadari, sebuah kamera ponsel telah menangkap kebersamaan mereka...
Author POV
Malam harinya, mereka telah sampai di Seoul. Setelah sampai di rumah Jinri, Jonghyun langsung pulang ke rumahnya dengan mobilnya yang ia tinggalkan di rumah Jinri.
Jinri langsung ke kamarnya dan merebahkan dirinya di kasur. Karena menagantuk, dalam beberapa menit ia pun tertidur.
Ryeowook POV
Kulempar ponselku ke kasur. Sudah 2 hari ia mematikan ponselnya. Dan tidak ada satu pesanku pun yang dibalas olehnya. Ke mana dia? Apakah perlu aku ke rumahnya malam ini juga?
“Wook-ah.” Panggil hyeongku dari depan pintu.
“Hyeong sudah pulang?” tanyaku datar. Aku sedikit kesal padanya. Mau tahu kenapa? Dialah Kim Gyosunim, dosen Jinri yang diidolakannya! Kim Jongwoon. Dia bukan kakak kandungku sih, tapi dia kakak sepupuku. Aku juga tidak memberitahu Jinri.
“Eo. Oya, kurasa tadi siang aku melihat Jinri...”
“Tidak usah berbohong, Hyeong kan di masih di Mokpo tadi siang.” Aku duduk di tepi kasurnya.
“Aku tidak bohong! Ia bersama seorang namja, hoobaemu juga. Mereka kelihatannya dekat.”
“Mwo?” kali ini aku terkejut.
“Aku juga mengambil gambarnya, kalau-kalau kau belum tahu.” Jongwoon menyerahkan ponselnya padaku. Aku mengambilnya dengan cepat dan melihatnya. Foto Jinri yang keluar dari kafe berdua dengan Jonghyun. Dan mereka berdua sedang tertawa bersama.
“Ia tidak memberitahumu?”
“Tidak...”
“Benarkah? Tidak mungkin ia tidak memberitahumu.”
Aku tidak mempedulikan kalimat Jongwoon tersebut. Jongwoon pun mengambil ponselnya dari tanganku dan keluar dari kamarku. Aku mengunci pintu dan berbaring. Sial. Aku tidak bisa tidur.
~To Be Continued~

lhaiss..
BalasHapus