Author :
@arsyadhea_k
Genre :
family, friendship, romance
Cast :
1.
Cho Jinri (OC)
2.
Choi Minyoung (OC)
3.
Lee Yeonhee (OC)
4.
Kim Ryeowook
5.
Lee Jinki
6.
Kim Jonghyun
It’s
the second story of Over The Rainbow ^^ dimohon coment-nya J NO BASH dan jangan
jadi plagiat!! Tokoh-tokoh di sini milikku (kecuali Ryeowook, Jonghyun, dan
Jinki). Ide juga milikku, tidak meniru cerita yang lain. Gamsahamnida ^o^
And the story is... begin! ^^
“Ne,
Oppa?”
“Kau
di mana?”
“Di
rumah. Wae?”
“Sekarang
juga ke kafe. Aku tunggu.” Ryeowook Oppa menutup telepon. Kafe? Kafe yang biasa
kan? Tapi kenapa sepertinya ia marah?
Aku
segera berganti pakaian dan pergi ke kafe yang dimaksud Ryeowook Oppa diantar
Kang Ajussi – supir keluargaku.
“Oppa,
wae geurae?” tanyaku langsung ketika aku sudah duduk di depan Ryeowook Oppa.
“Bisa
jelaskan padaku apa yang kau lakukan kemarin?” tanyanya. OMG, dari siapa ia
tahu tentang kemarin?
“Aku
tidak suka kau pergi dengan Jonghyun tanpa memberitahuku.” Aku tertegun.
“Kalau
kau masih menganggapku sebagai kekasihmu, seharusnya kau memberitahu aku.”
“Oppa...”
aku menggerakkan tanganku, hendak mengelus punggungnya. Tapi Ryeowook Oppa
menepisnya.
“Jangan
sentuh aku.”
“Oppa...”
Ryeowook
Oppa berdiri dan meninggalkan rumahku. Meninggalkanku tanpa mendengar satu kata
penjelasan pun dariku!
Aku duduk terpaku setelah ia meninggalkanku. Ya Tuhaaaaan!!!! Aku merasa bersalah padanyaaaaa!!!!
Author POV
Aku duduk terpaku setelah ia meninggalkanku. Ya Tuhaaaaan!!!! Aku merasa bersalah padanyaaaaa!!!!
Author POV
Minyoung
menghela nafas. Ia kembali menggelengkan kepalanya untuk kesekian kalinya.
“Tidak
bisa? Coba lagi.” paksa Yeonhee.
“Tidak
bisa! Kita sudah berusaha meneleponnya 10 kali!”
“Yeonhee-ah!”
panggil Jonghyun. Minyoung dan Yeonhee serentak menoleh.
“Jonghyun-ah!”
Yeonhee melambaikan tangan. Jonghyun menghampiri mereka dan duduk di depan
Yeonhee.
“Ke
mana saja kau? Kenapa tidak mengangkat teleponku? Kenapa tidak membalas
pesanku?” tanya Yeonhee kesal.
“Mianhae,
ponselku mati. Lagipula aku tidak punya pulsa. Oya, apa kalian melihat Jinri?”
“Aku
baru mau bertanya padamu. Kata Jinki, 2 hari yang lalu kau ke rumahnya, kan?”
tanya Minyoung.
“Iya,
itu benar.”
“Ke
rumah Jinri? Ada apa memangnya?”
“Kau
tidak memberitahu Yeonhee?” Minyoung terkejut. Tentu saja ia sudah tahu. Ia
diberitahu appanya kemarin.
“Ada
apa?”
“Em,
begini, Yeonhee-ah. Kuharap kau tidak marah padaku, ataupun pada Jinri. Ini
bukan kemauan kami, tapi kami disuruh oleh appa kami masing-masing.”
“Apa
kalian dijodohkan?” tanya Yeonhee.
“Ani!
Kami tidak dijodohkan!”
“Geureom?”
“Aku
dan Jinri pergi ke Mokpo, untuk...”
“Untuk
apa kalian pergi ke Mokpo? Berdua?!” marah Yeonhee. Ia memotong kalimat
Jonghyun.
“Dengarkan
aku dulu! Aku dan Jinri pergi ke Mokpo untuk menemui klien. Appa Jinri sakit,
jadi Jinri menggantikannya. Appaku juga agak tidak enak badan, jadi ia
menyuruhku menggantikannya. Aku kan juga sering mengikuti Appa menemui klien
dulu. Dan kami tidak pergi berdua. Bertiga, dengan Kang Ajussi, supir pribadi
Jinri.” Jonghyun menyelesaikan kalimatnya dengan super cepat, seakan takut
Yeonhee akan memotong kalimatnya lagi.
Yeonhee
masih menatap Jonghyun tidak percaya. Sedetik kemudian ia sudah membawa tasnya
pergi.
“Yeonhee-ah!”
panggil Jonghyun dan Minyoung bersamaan.
“Aku
kejar Yeonhee, kau pergilah ke rumah Jinri. Pastikan ia baik-baik saja.” Kata
Jonghyun pada Minyoung, lalu berlari mengejar Yeonhee.
“Jonghyun-ah!”
panggil Minyoung. Tapi Jonghyun sudah tidak terlihat.
“Aish,
sebentar lagi kan kelas Park Gyosunim dimulai,” keluh Minyoung. Ia pun membawa tasnya
dan pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobil dan pergi ke rumah Jinri.
...
Kini
aku dan Jinri sedang berada di kedai es krim yang sering aku, Jinri, dan
Yeonhee kunjungi. Seperti biasanya, Jinri memesan semangkuk besar es krim
coklat kesukaannya. Aku sendiri memesan banana split. Tapi tidak seperti biasa,
Jinri cukup lama memakan es krimnya. Biasanya ia bisa menghabiskannya dengan
cepat.
“Ryeowook
Oppa marah padamu?” tanyaku hati-hati. Jinri mengangguk lesu.
“Kurasa
ia tidak hanya marah, ia juga, yah, sakit hati, cemburu, tidak suka.” Jelasnya.
“Kau
sudah menjelaskan padanya?”
“Ia
bahkan pergi dari rumahku sebelum aku sempat menjelaskan!”
“Mwo?”
aku terkejut. Setahuku Ryeowook Oppa bukan orang yang seperti itu.
“Bagaimanapun
juga, kau harus menjelaskan padanya, Jinri-ah!” perintahku.
“Aku
tahu. Tapi saat ini, aku hanya akan membiarkannya terlebih dahulu. Ia perlu
waktu, kan? Ia perlu waktu untuk mendinginkan kepalanya. Itu saja.” Katanya
dewasa. Sejak kapan Jinri yang imut dan agak manja ini jadi dewasa?
“Aku
pernah mengalaminya. Dikhianati. Rasanya sakit dan aku perlu waktu seminggu
untuk benar-benar menerimanya. Gila, kan?” ia tersenyum kecil mengingat masa
lalunya. Jinri pernah dikhianati?
“Oleh
siapa?”
“Kau
tidak kenal. Lagipula, dia sudah pindah keluar negeri.”
“Tapi
setidaknya, aku boleh tahu, kan?”
“Aku
memanggilnya... Cheonsa. Cheonsa Oppa.”
“Cheonsa?
Malaikat? Kau menyebut orang yang telah mengkhianatimu dengan panggilan
malaikat?” Jinri hanya tersenyum.
“Dia
baik. Dan tampan. Ia mirip malaikat. Yah, sebelum ia akhirnya berpaling
dariku.”
Tiba-tiba
Jonghyun dan Yeonhee duduk di sebelahku dan Jinri. Mereka ngos-ngosan dan
saling menatap tajam.
“Yaaa! Kalian mengagetkan kami, tahu!”
protesku.
“Jadi
bagaimana? Ryeowook Hyeong?” tanya Jonghyun tidak mempedulikanku.
“Ia
marah.” Jawab Jinri singkat.
“Hanya
itu?” Jinri mengangguk.
“Yeonhee-ah,
mianhae. Jeongmal mianhae,” sesal Jinri.
“Gwaenchana.
Jonghyun telah menjelaskan semuanya. Kini yang harus kita pikirkan adalah
Ryeowook Oppa.” Yeonhee mengelus punggung Jinri.
“Dan
sekarang yang kita butuhkan adalah Jinki.”
“Wae?”
“Jinki
kan yang paling dekat dengan Ryeowook Hyeong – setelah kau, Jinri. Dia bisa
menjelaskannya pada Ryeowook Hyeong, kan?” cetus Jonghyun. Aku memukul
pundaknya keras.
“Kau
benar! Tumben kau pintar!” seruku riang.
“Tapi
kau juga tidak perlu memukulku, Choi Minyoung!” aku nyengir.
“Sudahlah!
Jjong, kau telepon Jinki!” perintah Yeonhee.
“Kenapa
bukan aku? Aku kan kekasihnya!” protesku.
“Geurae,
geurae. Minyoung-ah, teleponlah Jinki. Suruh ia kemari.”
“Ne.”
Aku mengeluarkan ponselku.
Jinki
POV
Aku
berjalan menghampiri Ryeowook Hyeong yang sedang berkumpul dengan
teman-temannya. Kemarin, Minyoung, Jinri, Yeonhee, dan Jonghyun telah
menjelaskannya padaku. Mereka memintaku untuk menjelaskannya pada Ryeowook
Hyeong.
“Hyeong!”
panggilku. Ryeowook Hyeong menoleh.
“Oh,
kau, Jinki-ah! Wae?” tanyanya.
“Bisa
kita bicara sebentar?”
“Tentu.”
Ryeowook Hyeong mengikutiku ke depan salah satu meja kosong di taman kampus.
“Wae
geurae? Tidak biasanya kau ingin bicara berdua denganku.”
“Jinri
tidak bersalah, Hyeong.”
Ryeowook
Hyeong tersenyum sinis.
“Ternyata
kau ingin membicarakan itu. Kau sudah tahu ternyata? Jinri memintamu
menjelaskannya padaku? Jangan lakukan itu. Suruh dia temui aku dan jelaskan
sendiri.”
“Tapi,
Hyeong...”
“Kurasa
sudah jelas, Jinki-ah. Dan suruh dia temui aku 3 hari lagi. Di sini.” Ryeowook
Hyeong beranjak meninggalkanku.
Aku
segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi Jinri.
“Jinki-ah,
bagaimana?” belum aku sapa, Jinri sudah bertanya.
“Ryeowook
Hyeong, ia tidak mau mendengar penjelasanku.”
“Jinjja?”
ia terdengar sedih.
“Hajiman,
ia bilang kau harus menemuinya 3 hari lagi dan kau harus menjelaskan secara
langsung padanya. Di taman kampus.”
“Dia
bilang begitu? Geurae. Aku akan menemuinya 3 hari lagi. Oya, pukul berapa?”
Sial.
Aku lupa bertanya jamnya. Aku melihat jam tanganku.
“Sekitar
pukul 10, mungkin.” Aku tidak yakin. Ryeowook Hyeong ingin Jinri menemuinya di
sini, kan? Jadi mungkin ia juga ingin bertemu di jam yang sama.
“Oke.
Gomawo, Jinki-ah!”
“Ne,
cheonma.” Aku menutup telepon. Aku pun beranjak dan pergi ke kelas.
Author
POV
Jinri
dan Ryeowook berbicara empat mata di taman kampus. Ryeowook bersikap dingin,
dan Jinri bersikap sabar. Ia pernah mengalami rasa sakit yang dirasakan
Ryeowook saat ini, jadi ia tahu bagaimana harus menghadapi Ryeowook. Hingga
akhirnya Ryeowook menyerah. Ia memaafkan Jinri. Jinri tersenyum gembira.
“Gomawo,
Oppa,” Jinri tersenyum. Ryeowook menatapnya lembut. Ia tidak bisa lebih marah
lagi pada Jinri. Tidak pernah bisa.
“Tapi
aku minta satu hal padamu.”
“Apa
itu?”
“Jangan
buat aku kehilangan kepercayaanku padamu.”
Jinri
mengangguk cepat.
“Aku
janji.”
Ryeowook
mengacak rambut Jinri. Jinri cemberut. Ryeowook tertawa melihatnya. Tapi
kemudian mereka saling tatap sambil tersenyum. Tepat saat itu keempat teman
mereka keluar dari persembunyian mereka.
“Akhirnya
baikan jugaaa!” seru Minyoung.
“Ka,
kalian?! Sejak kapan kalian di sini?” Jinri terkejut.
“Sejak
awal. Kami takut kau kalian malah bertengkar semakin parah, jadi kau memutuskan
untuk mengawasi.” Jelas Jonghyun santai.
“Semua
ini ide Jjong, Jinri-ah!” kata Minyoung.
“Dasar
kau Jonghyuuuuun!!!!” teriak Jinri. Ia memukuli Jonghyun. Semuanya hanya
tertawa melihatnya. Mereka tidak menyadari, sepasang mata memperhatikan mereka
dengan senyum sinisnya, saat melihat Jinri berada di tengah-tengah mereka.
To Be Continued

waaaaa~ lanjutkan dhe! :D eh ada bagian bilang diri sendiri imut-_-
BalasHapusdiri sendiri siapa nih? aku apa kamu? -____-
Hapuskamuuuuu-__-
Hapus