Author : @arsyadhea_k
Genre : romance, friendship
Cast :
1.
Kai (EXO-K)
2.
Cho Jinri (OC)
OST : SNSD – Singing in The
Rain
Pertama, mau ngucapin makasih buat COVERMAKER yang udah bikinin posternya ^^ FF ini udah pernah dipublish di wordpressku, Fan Fiction World ^^ buat yang mau baca FFku yang lain, berkunjung (?) aja ke sana, beberapa FF ada di sana dan nggak aku publish di sini.
Terinsipirasi
dari dramanya Yoona ‘Love Rain’ dan film Blind ^^ mian kalau ada typo atau
bahasa gaul J
kesamaan nama dan tempat adalah sebuah KETIDAKSENGAJAAN. No bash and no
plagiat!!
Pagi
ini hujan turun. Kai, siswa kelas 3 di Paran High School berdiri di bus stop
bersama beberapa orang lain. Kai memakai celana panjang dan sweater putih-hitam
dan topi putih. Ia tidak memakai seragamnya. Hari ini ia bolos sekolah lagi.
Kai
berbalik dan pergi dari bus stop itu. Secara tidak sengaja seorang gadis
menabraknya. Tongkat yang dipegang gadis itu terjatuh.
“Mianhaeyo,
jeongmal mianhaeyo.” Sesalnya. Ia membungkuk, tapi tidak menghadap Kai.
“Kalau
jalan dilihat pakai mata!” bentak Kai.
“Jeongmal
mianhaeyo. Chogiyo, apa kau melihat tongkatku?”
“Ada
di sana.” Kata Kai dingin.
“Di
mana?” gadis itu duduk dan meraba-raba trotoar. Kai baru menyadarinya. Gadis
itu buta. Kai pun mengambil tongkat itu dan memberikannya pada gadis itu.
“Gamsahamnida!”
serunya senang. Ia kembali melanjutkan langkahnya. Kai memperhatikannya. Rasa
khawatir muncul di hatinya. Ia pun mengikuti gadis itu.
“I’m singing in the rain, just singing in the
rain,” nyanyi gadis itu. Kai tahu lagu itu. Singing in The Rain. Gadis itu
menyanyikannya dengan penuh perasaan. Suara juga bagus. Setelah agak jauh dari
bus stop, tiba-tiba gadis itu berhenti. Kai juga ikut berhenti.
“Chogiyo,
kenapa kau mengikutiku?” tanya gadis itu tanpa berbalik.
“Aku,
aku khawatir padamu.” jawab Kai. Begitu ia mengucapkannya ia sadar, bagaimana
kalau ia menyakiti perasaan gadis di depannya ini?
“Kau
tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku sudah biasa.”
“Siapa
namamu?” tanya gadis itu.
“Kai
imnida.”
“Kau
masih SMA, ya? Kelas 3, kan?”
“Bagaimana
kau bisa tahu?”
“Terdengar
jelas dari suaramu.”
“Kalau
kau, siapa namamu?” tanya Kai. Gadis itu pun mulai berjalan lagi. Kai
mengikutinya, kini ia di sebelah gadis itu.
“Cho
Jinri imnida.”
“Tapi,
ini kan jam sekolah. Kenapa kau bisa berada di sini? Apa kau membolos?”
“I,
itu...”
“Seharusnya
kau bersyukur kau masih bisa melihat. Kau masih bisa belajar, masih bisa
sekolah. Kenapa kau membolos?”
“Mianhaeyo,”
“Jangan
minta maaf padaku. Kau harus minta maaf pada orang tuamu, pada dirimu sendiri.
Kau harus menjadi anak yang lebih baik mulai saat ini. Yaksok?”
“Kenapa
aku harus berjanji padamu? Kenapa kau perhatian padaku? Orang tuaku saja
tidak.” Ujar Kai kesal. Bukan kesal pada Jinri, namun pada kedua orang tuanya.
“Apa
kau punya kakak?”
“Punya.
Tapi mereka sekolah di luar negeri.”
“Kalau
begitu aku yang akan menjadi kakakmu. Aku yang akan memperhatikanmu saat ini.”
“Memangnya
berapa usiamu?”
“20
tahun. Kau masih 19, kan?”
“Bagaimana
kau tahu?” Kai berhenti berjalan. Ia terkejut dengan tebakan Jinri yang selalu
benar. Jinri tertawa.
“Aku
bisa mengetahui usia dan tinggi badan orang lain saat aku mendengar suaranya.”
“Kau,
eh, Noona punya indra yang sangat peka. Hebat.” Jinri tersenyum lembut.
“Setiap
orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.” Ucapnya bijak.
Tiba-tiba
Jinri kembali berhenti. Kai juga berhenti.
“Noona,
waeyo?”
“Ini
adalah rumahku.” Kai melongo. Bagaimana Jinri bisa tahu?
“Yang
mana?”
“Rumah
di sebelah kananku.”
Kai
kembali melongo. Rumah itu besar dan megah! Seperti istana.
“Kau
heran, kenapa aku bisa tahu? Aku selalu menghitung langkahku. Sekarang, kau
boleh pergi. Kembalilah ke sekolahmu.”
“Shireo.”
“Wae?”
“Sudah
siang. Aku malas.”
“Yaaa! Kau ini ingin sukses atau tidak?
Apa kau tidak kasihan pada orang tuamu, hah?!”
“Iya,
iya. Besok aku akan sekolah. Tapi, sepulang sekolah besok aku kemari, ya. Nanti
aku akan ajak Noona jalan-jalan. Oke?”
Jinri
tersenyum.
“Geurae.”
“Sekarang
Noona masuklah. Aku juga mau pergi.”
“Mau
kemana kau?”
“Studio.
Latihan dance. Noona mau ikut?”
“Apa
tidak merepotkan?”
“Tentu
saja tidak. Aku malah senang jika Noona ikut.” Kai tersenyum. Biasanya ia tidak
pernah mengajak siapapun ke studio, tapi kali ini ia ingin mengajak Jinri.
“Baiklah.”
Jinri melingkarkan lengannya di lengan Kai. Kai menahan nafas. Rasanya ia
begitu gugup dan senang.
“Jauhkah?”
tanya Jinri.
“Tidak
juga. Sekitar 10 menit jika berjalan kaki dari sini.”
Mereka
berjalan pelan. Kai tidak henti-hentinya tersenyum. Jika Jinri melingkarkan
lengannya di lengan Kai, itu artinya Jinri mempercayainya, kan? Entah kenapa
Kai merasa senang Jinri mempercayainya.
Tidak
lama kemudian, mereka pun sampai. Mereka langsung ke lantai 2, tempat Kai biasa
latihan bersama beberapa temannya.
“Wow,
Kai! Siapa ini?” tanya Chanyeol, salah satu teman latihannya.
“Kekasihmu?”
goda Sehun.
“Bukan!
Dia, dia temanku, Cho Jinri. Noona, ini Chanyeol dan Sehun.”
Chanyeol
dan Sehun melongo. Noona? Jinri lebih tua dari Kai? Mereka heran karena Kai
tidak pernah membawa teman saat latihan, apalagi wanita yang lebih tua!
Kai
menatap Sehun dan Chanyeol tajam. Mereka pun segera menyiapkan kaset sementara Kai
mengantar Jinri duduk di sudut ruangan.
“Noona
tunggu aku, ya.” pesan Kai. Jinri mengangguk.
Kai,
Sehun, dan Chanyeol pun bersiap di tempat masing-masing. Lagu yang mengiringi dance mereka kali ini adalah Here We Go
(Super Junior). Mendengar lagu yang mengiringinya, tanpa sadar Jinri ikut
bernyanyi. Lagu selanjutnya adalah Beautiful (B2ST). Mereka menari sampai 4
lagu, kemudian beristirahat. Kai duduk di sebelah Jinri. Jinri menyodorinya
sebotol minum. Kai menerimanya meski ia menatap Jinri heran.
“Aku
selalu membawa minum kemana pun aku pergi. Dan itu juga belum kuminum.” Jinri
tersenyum, seakan ia bisa membaca pikiran Kai.
“Noona
lelah?” tanya Kai.
“Memang
kenapa?”
“Kalau
Noona lelah, aku bisa mengantar Noona pulang sekarang.”
“Terserah
kau.”
“Kita
pulang sekarang, ya, Noona.”
“Oke.”
Jinri mengeluarkan tongkatnya. Kai membantunya berdiri. Setelah pamit pada
kedua temannya, mereka pun berjalan pulang. Di jalan, Kai mengeluarkan MP3nya
dan memakai satu earphone di
telinganya, dan memasangkan yang satu lagi di telinga Jinri. Ia memutar lagu
Singing in The Rain, lagu kesukaan Jinri.
“Kai,”
panggil Jinri.
“Ne?”
“Nama
aslimu siapa?”
“Ne?”
“Nama
aslimu?”
“Kim
Jongin imnida.”
“Kim
Jongin? Itu nama yang bagus. Kenapa kau mengganti namamu dengan nama ‘Kai’?”
“Waeyo?
Noona tidak suka?”
“Bukan
begitu.”
“Kai,
kau bawa ponsel, kan?”
“Bawa,
Noona. Waeyo?” Kai mengeluarkan ponselnya.
“Catat
nomor ponselku.” Jinri pun menyebutkan nomor ponselnya.
“Kalau
kau ada masalah, kau bisa menghubungiku. Aku pasti akan mendengarkanmu,”
katanya lembut.
“Gamsahamnida,
Noona,” Kai tersenyum gembira.
“Jangan
bicara formal seperti itu. Kau kan adikku.”
Deg!
Rasanya hati Kai menjadi sakit. Kenapa hatinya menjadi sakit ketika Jinri
bilang ia adalah adiknya?
“Kai,
kita sudah sampai di depan rumahku, kan?” pertanyaan Jinri menyadarkan Kai. Kai
pun berhenti.
“Noona
masuklah. Aku akan pergi setelah Noona masuk.”
Jinri
tersenyum.
“Gomawo
telah mengajakku, Kai.”
“Cheonma,
Noona.”
Jinri
pun masuk rumahnya. Kai menghela nafas, kemudian berjalan pulang.
...
Jinri
menyalakan MP3-nya. Ia memutar lagu Singing in The Rain. Ia kembali teringat
dengan Kai. Kai adalah orang pertama, selain keluarganya, yang
memperhatikannya. Hatinya begitu senang saat Kai mengajaknya jalan-jalan ke
studio. Tadinya ia pikir Kai akan malu akan keadaannya, tapi ternyata tidak.
Jinri
berbaring di kasurnya. Ia memeluk boneka kelincinya, boneka kesayangannya sejak
kecil. Ia pun tertidur.
...
Kai
menepati janjinya. Ia berkunjung ke rumah Jinri setelah ia pulang sekolah. Ia
mengajak Jinri ke taman.
“Noona,
hari ini aku mengajak Noona ke taman paliiiing indah. Aku menemukannya 2 hari
yang lalu, Noona!” seru Kai senang.
“Jinjja?
Wah, Kai, gomawo!” Jinri tersenyum.
“Andai
aku bisa melihat, aku pasti bisa melihat keindahan taman ini, Kai.” Kata Jinri
pelan, seakan menyesali kebutaannya.
“Noona,”
Kai menjadi sedih. Ia tidak suka Jinri merendah diri seperti itu.
Jinri
segera tersenyum.
“Dwaesseo.
Jangan dipikirkan lagi. Aku senang kau mengajakku ke sini. Sungguh.” Katanya
meyakinkan.
“Noona,
boleh aku tanya sesuatu?”
“Boleh.
Apa itu?”
“Walaupun
nantinya akan menyakiti perasaan Noona?”
Jinri
tersenyum. Ia mengangkat tanganya, dan merangkul Kai yang duduk di sebelahnya.
“Aku
akan baik-baik saja. Sekarang, tanyakan saja.”
“Sejak
kapan Noona tidak bisa melihat?” tanya Kai hati-hati. Di luar dugaannya, Jinri
malah tersenyum.
“Banyak
orang yang bertanya seperti itu padaku. Jadi kau jangan khawatir. Aku tidak
bisa melihat sejak satu tahun yang lalu.”
“Waeyo?”
“Kecelakaan.
Tapi aku sungguh tidak apa-apa. Lagipula, kalau aku tidak buta, kita tidak akan
bertemu. Mungkin kemarin aku sedang kuliah, jadi kita tidak akan bertemu.
Meskipun aku tidak kuliah, kau tidak akan mengikutiku, kan?”
Kai
diam saja. Air matanya menetes.
“Kai?”
“Ne,
Noona?”
“Kenapa
kau diam saja?”
“Aku
sedang berpikir. Noona benar. Mungkin, kalau Noona tidak buta, aku tidak akan
mengikuti Noona kemarin.” Air matanya menetes lagi.
“Kau
menangis?”
Jinri
mengangkat tangannya, berusaha mencari wajah Kai. Kai meraih tangan Jinri dan
meletakkannya di wajahnya. Jinri menghapus air mata Kai.
“Uljima.
Aku saja tidak menangis, kenapa kau menangis? Lagipula itu sudah lama.”
Hiburnya. Kai mengangguk.
“Kai,
kau mau berjanji padaku, kan?” tanya Jinri lagi.
“Janji
apa, Noona?”
“Kalau
nanti aku sudah bisa melihat, kau mau mengajakku ke sini lagi?”
“Aku
janji, Noona.”
“Aku
tidak pernah menceritakannya pada orang lain, jadi kaulah yang pertama kali
mengetahuinya. Sebenarnya, sudah ada orang yang akan mendonorkan matanya
padaku.”
“Jeongmal?
Wah, chukhae, Noona.” Kai bertepuk tangan.
“Tapi,
yah, aku harus menunggunya.”
Kai
mengangguk-angguk mengerti.
“Gwaenchana,
Noona. Aku siap mengajak Noona ke sini lagi kapan pun.”
“Gomawo,
Kai.” Jinri tersenyum. Kai sempat terpaku melihatnya. Jinri sangat cantik jika
tersenyum.
“Kai?”
“Ne?”
Kai tersadar dari pikirannya.
“Bisa
kita pulang sekarang? Aku lelah,”
“Ne,
Noona.” Kai bangkit dan membantu Jinri berdiri. Ia pun mengantar Jinri pulang.
...
Sudah
2 bulan Kai dan Jinri dekat. Selama itu pula, Kai berusaha memperbaiki dirinya.
Ia tidak lagi nakal, tidak lagi membolos, dan nilainya pun naik. Semua guru dan
teman-temannya tidak percaya akan perubahannya ini. Mereka bertanya pada Kai,
tapi Kai hanya menjawabnya dengan senyum. Sejak saat itu pula setiap pulang
sekolah Kai selalu mengunjungi Jinri, entah mereka mengobrol, berjalan-jalan, atau
Jinri mengajari Kai mengerjakan tugas rumah matematikanya. Caranya, Kai
membacakan soalnya, dan Jinri mengucapkan rumusnya. Kai sempat kagum pada Jinri
karena memiliki ingatan yang kuat.
“Kai!”
panggil Jinri riang di telepon.
“Noona
sepertinya senang sekali? Ada apa?”
“Aku
tidak tahu harus senang atau tidak. Seharusnya aku senang, tapi rasanya tidak
etis kalau aku senang. Bagaimana ini?” Jinri pusing sendiri. Kai tertawa
mendengarnya.
“Katakan
saja padaku ada apa, Noona.”
“Orang
yang akan mendonorkan matanya padaku, ia sudah meninggal,”
“Jadi,
Noona akan mendapatkan mata Noona segera?!”
“Ne!
Kai, aku sangat senang! Tapi, aku turur sedih untuk keluarga orang itu. Kau mau
menemaniku ke rumahnya kan, saat aku sudah bisa melihat nanti?”
“Tentu,
Noona.”
“Oh,
jangan lupa akan janjimu untuk mengajakku ke taman lagi.”
“Aku
tidak lupa, Noona. Tenang saja. Aku akan mengajak Noona ke sana secepat
mungkin.”
Jinri
tersenyum.
“Kata
dokter, operasiku akan berlangsung lusa. Besok, kau mau menemaniku, kan? Jujur
saja, aku sedikit gugup.”
“Geurae,
Noona. Besok aku akan bolos sekolah untukmu.”
“Jangan
bolos! Kalau kau bolos sekolah, jangan pernah temui aku lagi!”
“Noona!”
protes Kai.
“Geurae,
geurae, aku tidak akan bolos.”
“Begitu,
dong. Jadilah anak baik dan belajar yang rajin, oke?”
“Noona,
aku bukan anak kecil lagi!”
Jinri
tertawa.
“Sampai
jumpa, Kai!”
“Sampai
jumpa, Noona!”
Kai
menutup telepon. Ketiga temannya menatapnya heran. Mereka adalah Sehun,
Chanyeol, dan Suho.
“Siapa
itu, Kai?” tanya Suho.
“Noona?
Biar kutebak. Cho Jinri Noona?” tebak Chanyeol. Kai hanya tersenyum.
“Kau
masih berhubungan dengannya?” Sehun terkejut.
“Memangnya
kenapa?” tanya Kai balik.
“Tidak
biasanya kau dekat dengan gadis. Tapi kali ini, ah, aku sampai tidak bisa
berkata apapun. Apa kalian berpacaran?” tanya Chanyeol.
“Siapa
yang kalian bicarakan?” tanya Suho bingung.
“Sekitar
2 bulan yang lalu, Kai mengajak seorang gadis ke tempat latihan kita. Saat itu
kau tidak ada. Kai sangat memperhatikannya.” Jelas Sehun.
“Mwo?”
Suho terkejut.
“Apa
dia kekasihmu?” tanyanya.
“Bukan!”
elak Kai.
“Apa
karena dia kau berubah?” tanya Chanyeol. Kai hanya tersenyum.
“Aku
jadi ingin bertemu dengannya. Ajak dia ke acara kelulusan kita, Kai!”
Kai
mengangguk mantap. Bel masuk berbunyi. Mereka pun masuk kelas.
...
Kai
menunggu dengan cemas. Sudah 1 jam operasi Jinri berlangsung. Di sana ada juga
appa Jinri. Ia sudah berkenalan dengan appanya. Saat Kai bertanya di mana eomma
Jinri, appa Jinri hanya tersenyum masam.
Dokter
pun keluar dari ruang operasi. Kai dan appa Jinri langsung berdiri dan
menujunya.
“Dokter,
bagaimana keadaan anak saya? Apakah operasinya berjalan dengan lancar?” tanya
appa Jinri.
“Operasinya
berjalan dengan baik, Pak. Tapi mata pasien masih harus diperban. 3 hari lagi
baru kita buka perbannya.”
“Syukurlah,
gamsahamnida, Dokter.”
“Pasien
akan dibawa ke kamar rawat sekarang juga. Namun ia masih dalam pengaruh obat
bius. Setelah ia sadar nanti, kalian boleh menemuinya.”
“Gamsahamnida,
Dokter.” Ucap Kai senang.
“Kai,
ayo kita makan dulu. Ini sudah siang. Setelah ini kita baru pergi ke kamar
rawat Jinri.” Ajak appa Jinri.
“Ne,
Ajussi.”
Di
restoran...
“Kai,
apa kau dekat dengan Jinri?” tanya appa Jinri.
“Ne,
Ajussi.”
“Seberapa
dekat kalian?”
Kai
jadi gelagapan ditanya seperti ini.
“Saya
sudah menganggap Noona sebagai kakak saya sendiri.”
“Tidakkah
kau mencintainya?”
Kai
diam saja.
“Sejak
Jinri bertemu denganmu, ia menjadi lebih ceria. Ia memang tidak pernah
bercerita pada saya, tapi saya tahu saat saya mendengar Jinri berbicara pada
pelayannya. Ia bercerita tentangmu. Dapat saya lihat Jinri menjadi lebih
gembira.”
“Saya
senang kehadiran saya dapat membuat Noona menjadi lebih ceria,” aku Kai.
“Kai,
saya akan menceritakan sesuatu padamu. Tapi, kau tidak boleh mengatakannya pada
Jinri. Sayalah yang akan menjelaskannya pada Jinri.”
“Apa
itu?”
...
Kai
dan appa Jinri menunggu di kamar rawat Jinri dengan gugup. Dokter sekarang
sedang membuka perban di mata Jinri. Perlahan, Jinri membuka matanya. Awalnya
kurang jelas, tapi akhirnya ia bisa melihat dokter, Kai, dan appanya
mengelilinginya.
“Aku
bisa melihat!” serunya senang.
“Selamat,
Jinri-ah. Mulai sekarang kau harus berhati-hati. Jaga matamu dengan baik.”
Pesan dokter.
“Baik,
Dokter. Gamsahamnida,”
“Cheonmaneyo.
Saya permisi dulu.” Dokter pun keluar dari kamar.
“Appa!”
Jinri memeluk appanya.
“Appa
senang kau sudah bisa melihat lagi, Sayang.”
“Jinri
juga senang, Appa.” Jinri melepas
pelukannya. Kini ia menatap Kai sambil tersenyum.
“Annyeong,
Kai.” Jinri tersenyum padanya. Kai juga tersenyum. Refleks Kai memeluk Jinri.
“Aku
senang Noona mengenaliku.” Kai melepas pelukannya.
“Bagaimana
aku tidak mengenalimu! Kau kan adikku!” Jinri tertawa kecil.
Deg!
Lagi-lagi rasa sakit itu datang. Jinri hanya menganggapnya sebagai adik. Kai berusaha
tersenyum.
“Appa,
Eomma mana?” tanya Jinri heran karena tidak melihat eommanya. Kai dan appa
Jinri berpandangan.
“Appa,
mana Eomma?”
“Jinri-ah,
eommamu sudah... meninggal.”
“Mwo?!”
Jinri terkejut mendengar pemberitahuan appanya.
“Appa
kenapa tidak memberitahuku?! Kapan, Appa? Kapan?!”
“Seminggu
yang lalu, Eomma kecelakaan. Sebelum ia meninggal, ia sudah mendaftarkan diri
untuk mendonorkan matanya untukmu, Jinri-ah...”
“Ja,
jadi...” air mata Jinri menetes.
“Matamu
adalah mata eomma, Sayang,” jelas appanya.
Air
mata Jinri mengalir makin deras. Appa Jinri terduduk di sofa di kamar itu. Kai
memeluk Jinri dan mengelus punggungnya, berusaha menenangkan Jinri.
...
Jinri
masih belum keluar kamarnya sejak ia keluar dari rumah sakit seminggu yang
lalu. Ia tidak melakukan apapun. Ia hanya terduduk, menatap ke depan dengan
pandangan kosong. Ia tidak menyahut jika dipanggil, tidak pernah menjawab
pertanyaan pelayan dan appanya, juga Kai. Ia bahkan tidak pernah menoleh pada
mereka. Namun air matanya juga tidak menetes.
Hati
Kai seperti tercabik-cabik melihat keadaan Jinri. Ia tidak bisa melihat Jinri
seperti ini. Setiap hari, sepulang sekolah ia selalu mengunjungi Jinri.
Mengajaknya berbicara walaupun Jinri tidak menanggapinya.
“Noona,”
panggilnya. Ia duduk di kursi yang diletakkan di sebelah kasur Jinri. Pelayan
jinri sengaja meletakkannya di situ saat Kai berkunjung.
“Sampai
kapan Noona mau diam begini?” Kai menghela nafas.
“Aku
tidak bisa melihat Noona diam begini. Noona, jebal, sadarlah untukku, untuk
ayah Noona,” pinta Kai. Ia hampir saja menangis.
“Noona,
Noona ingat tidak dengan janji kita? Aku akan mengajak Noona ke taman lagi,
kalau Noona sudah bisa melihat. Tapi kenapa Noona jadi seperti ini? Apa Noona
tidak mau ke taman bersamaku?”
Jinri
tetap tidak merespon. Kai menghela nafas.
“Setelah
bertemu Noona waktu itu, aku berusaha berubah menjadi anak yang baik. Aku tidak
lagi membolos demi Noona. Kini, apa Noona tidak mau berusaha berubah demi aku?
Demi ayah Noona,” pinta Kai lirih.
“Aku
sangat ingin mengundang Noona ke acara kelulusanku lusa. Aku ingin
memperkenalkan Noona pada teman-temanku. Aku ingin membuat Noona bangga dengan
melihatku berpidato nanti.” Air mata Kai menetes. Tapi ia segera menghapusnya.
“Aku
harus pulang, Noona. Tapi mianhae, aku tidak bisa kemari besok. Aku harus
mempersiapkan kelulusanku. Aku harap Noona mau datang ke acara kelulusanku
lusa. Pukul 10 di aula sekolahku. Noona akan datang, kan?” tanya Kai penuh
harap. Jinri tidak merespon.
“Saranghaeyo,
Noona.” Kai mencium puncak kepala Jinri. Kemudian ia keluar dari kamar Jinri.
Sejenak ia berhenti di depan pintu kamar Jinri, menatap Jinri sedih, kemudian
ia benar-benar pergi dari kamar Jinri.
...
Brak!
Pintu
tertutup. Di kamarnya, Jinri mulai mengedipkan matanya. Dalam beberapa menit,
ia mulai sadar kembali. Ia menoleh ke arah pintu, seakan berharap seseorang
akan muncul. Jinri mengalihkan pandangannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kenapa
aku di sini? Apa yang terjadi padaku?” tanyanya pada diri sendiri.
Pintu
kamarnya terbuka. Ternyata pelayannya.
“Hana-ah,”
panggilnya.
“Agassi?
Agassi sudah sadar?” pelayannya terkejut.
“Apa
aku pingsan?”
...
Jinri
tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Yang ia ingat, ia masih berada di
rumah sakit, sedang menangis dalam pelukan Kai. Sekarang ia sudah berada di
rumah, yang kata pelayannya ia sempat tidak sadar selama seminggu.
“Agassi,
mau coklat hangat?” tawar pelayannya. Jinri mengangguk ia masih memikirkan
alasan kenapa ia tidak sadar dan apa yang membuatnya sadar kembali.
“Hana-ah,”
panggilnya.
“Ne,
Agassi?”
“Siapa
yang terakhir mengunjungiku saat aku tidak sadar?” tanyanya penasaran.
“Kai-ssi,
Agassi.”
“Kai?”
“Ne.”
Pelayannya mengiyakan.
“Kai-ssi
juga menitip pesan. Besok pukul 10, Kai-ssi ingin Agassi datang ke acara
kelulusannya.”
“Besok?”
“Ne,
Agassi.” Setelah itu, pelayannya keluar kamar.
Jinri
beranjak dari kasurnya. Ia menuju lemari, dan membukanya. Entah kenapa ia ingin
tampil yang terbaik di acara kelulusan Kai besok. Tangannya mulai menyentuh
pakaian-pakaian itu. Tangannya berhenti saat ia menyentuh sebuah dress simple
yang anggun berwarna kalem. Jinri tersenyum. Ia akan memakainya besok.
...
Kai
duduk di antara teman-temannya, menunggu namanya dipanggil untuk menerima
ijazah. Ia masih memikirkan Jinri. Sejak kemarin ia belum menemuinya. Ia
berjanji pada dirinya sendiri, setelah acara ini selesai ia akan langsung
menemui Jinri.
“Kim
Jongin!” panggil kepala sekolah. Kai segera berdiri dan maju untuk menerima
ijazah. Kepala sekolah menyalaminya.
“Kau
hebat. Kau bisa berubah dalam waktu yang singkat.” pujinya.
“Gamsahamnida,
Seonsaengnim.” Ucap Kai sopan. Ia pun berbalik, hendak membacakan pidato
kelulusannya. Tiba-tiba matanya menangkap sesosok yang ia rindukan. Jinri.
Jinri berdiri di antara orang tua murid lainnya. Rambut panjangnya digerai, ia
memakai dress berwarna kalem dengan lengan pendek.
“Annyeonghaseo,
Kim Jongin imnida.” Kai memulai pidatonya. Dapat ia lihat Jinri mengangkat
kameranya dan memotret Kai. Kai tersenyum.
“Pertama,
aku ucapkan terima kasihku pada Tuhan yang telah membuatku lulus dengan nilai
cukup baik. Kedua, untuk guru-guruku yang membimbingku dan selalu sabar setiap
aku berulah.” Terdengar tawa kecil di aula.
“Ketiga,
untuk teman-teman yang aku sayangi, yang selalu bersabar dalam menghadapiku.
Dan yang terakhir, tapi menjadi yang paling spesial.” Ia mengambil jeda.
“Untuk
Jinri Noona, yang telah menunjukkan padaku tujuan dalam hidup. Gomawoyo,
Noona.” Kai tersenyum sambil menatap Jinri. Dilihatnya Jinri tersenyum padanya.
Kai pun turun dari panggung. Setelah acara selesai, ia langsung berlari ke
belakang untuk mencari Jinri.
“Kai!”
panggil Jinri dari sudut aula. Kai menoleh dan berlari padanya. Ia langsung
memeluk Jinri.
“Kai?
Apa yang kau lakukan?” tanya Jinri terkejut. Namun ia senang Kai memeluknya.
“Noona,
Noona ada di sini?” tanya Kai tidak percaya.
“Noona
sudah sadar?”
“Ne.
Dan itu karena kau. Pelayanku bilang, kaulah yang terakhir mengunjungiku. Apa
yang kau lakukan padaku?” Jinri bertanya dengan curiga. Kai jadi salah tingkah.
“Yah,
itu...”
“Kai!”
panggil Sehun. Kai menoleh. Ada Sehun, Chanyeol, dan Suho.
“Selamat,
ya! Kau bahkan lulus dengan nilai yang lebih bagus dariku!” ucap Suho.
“Em,
Jinri-ssi?” tanya Chanyeol.
“Oh,
kenalkan, ini Cho Jinri. Noona, ini teman-temanku. Sehun, Chanyeol, dan Suho.”
“Annyeonghaseo,
Cho Jinri imnida. Bangapseumnida,” Jinri memberi salam.
“Banganseumnida,”
ucap Sehun, Chanyeol, dan Suho bersamaan.
“Jongin-ah!”
panggil eomma Kai. Kai menoleh. Ekspresinya menjadi datar saat ia melihat kedua
orang tuanya.
“Kenapa
kau tidak menyebut kami dalam pidatomu? Kami kan orang tuamu!” protes eommanya.
“Walaupun
begitu, kami tetap bangga padamu, Jongin.” Appanya menepuk pundak Kai.
“Oh,
siapa kau? Apa kau kekasih Jongin?” tanya eomma Kai saat melihat Jinri.
“A,
aniyo.” Elak Jinri.
“Untuk
apa kalian ke sini?” tanya Kai dingin. Teman-teman Kai diam-diam pergi. Jinri
juga ingin pergi, tapi tangannya digenggam erat oleh Kai.
“Jongin-ah,
kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja karena kami orang tuamu,”
“Orang
tua yang tidak pernah memperhatikan anaknya tidak pantas datang ke acara
kelulusan anak itu. Kkaja Noona, kita pergi.” Kai menarik tangan Jinri pergi.
Ia tidak mempedulikan panggilan eomma dan appanya.
“Kai,”
panggil Jinri, berusaha menghentikan langkah Kai.
“Kai,
tunggu sebentar,”
“Kai!”
teriak Jinri. Berhasil. Kai menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap
Jinri.
“Ayo
kita beli es krim,” ajak Jinri. Kai mengernyit.
...
Kini
mereka duduk di taman, seperti yang pernah dijanjikan Kai. Jinri memakan es
krim coklatnya dan Kai memakan es krim vanilanya. Jinri sudah menyuruh supirnya
pulang duluan tadi, karena ia akan pulang dengan Kai.
“Aku
pernah bilang padamu, kan, kalau aku akan selalu mendengarkan masalahmu?” tanya
Jinri. Kai mengangguk. Es krim mereka sudah habis.
“Tapi
kau tidak pernah menceritakan masalah keluargamu padaku. Bukannya aku ingin
ikut campur, tidak. Tapi mungkin aku bisa sedikit membantumu, Kai,” bujuk
Jinri.
“Dan
sikapmu tadi di aula, membentak orang tuamu? Ayolah, Kai, itu tidak baik. Kau
telah banyak berubah akhir-akhir ini. Kau menjadi lebih baik, tidak pernah
bolos, nilaimu juga naik. Tapi kenapa kau membentak orang tuamu?”
“Mereka
bukan orang tuaku.” Ujar Kai dingin.
“Kai!”
bentak Jinri.
“Mereka
tidak pernah memperhatikanku. Selalu dan selalu, hanya kedua noonaku yang
mereka perhatikan. Kedua noonaku juga tidak pernah memperhatikanku. Mereka
bahkan tidak pernah menganggapku.” Ujar Kai sedih. Jinri merangkul Kai.
“Tapi
mereka orang tuamu, Kai. Mereka peduli padamu, mereka sayang padamu. Buktinya,
tadi mereka datang ke acara kelulusanmu. Iya, kan?”
“Mereka
baru peduli padaku setelah nilaiku naik. Kalau nilaiku tidak naik? Hah, mereka
mungkin akan membuangku.”
“Kai,
tatap aku.” Perintah Jinri lembut. Kai menoleh dan menatap mata Jinri. Mata
yang sangat ia sukai.
“Kalau
mereka tidak sayang padamu, mereka tidak akan menyekolahkanmu, tidak akan
memberimu makan. Mereka bekerja, mereka mencari uang untukmu, untuk kedua
noonamu, itu artinya mereka menyayangimu, Kai. Mereka menunjukkannya dengan
bekerja.” ucap Jinri bijak. Kai diam saja, namun ia masih menatap Jinri.
“Mulai
sekarang aku tidak ingin kau membentak orang tuamu lagi, atau kedua noonamu,
atau siapapun itu. Kai-ku adalah Kai yang baik, pintar, dan menyayangi semua
orang. Arasseo?” Jinri tersenyum.
“Ne,
arasseo.” Sahut Kai. Jinri tersenyum puas.
“Jangan
lupa minta maaf pada orang tuamu, Kai,” pesan Jinri.
“Ne,
Noona.”
“Ayo
kita pulang.” Ajak Jinri. Mereka beranjak dari sana.
...
“Eomma,
Appa,” panggil Kai dari pintu ruang kerja. Eomma dan appanya yang sedang
bekerja menghentikan pekerjaan mereka dan menoleh.
“Mianhae
karena telah membentak kalian di sekolah tadi.” Sesalnya. Eomma dan appanya
berpandangan.
“Kemarilah,
Jongin.” Perintah eommanya lembut. Kai menghampiri kedua orang tuanya.
“Eomma
dan Appa juga minta maaf, karena selama ini kami hanya bekerja tanpa
memperhatikanmu dan kedua kakakmu. Tapi apa yang Eomma dan Appa lakukan
semuanya untuk kalian, untuk sekolah kalian, supaya kalian menjadi manusia yang
berguna nantinya.” Kata eommanya. Kai mengangguk.
“Ngomong-ngomong,
apa yang membuatmu berubah? Apa karena gadis itu?” tanya appanya. Kai jadi
salah tingkah.
“Gadis
yang mana?” Kai pura-pura tidak tahu.
“Gadis
yang bersamamu di sekolah tadi.”
“Di,
dia bukan siapa-siapa.”
“Yang
benar? Jangan bohong, Jongin!” goda eommanya.
“Dia
memang bukan siapa-siapa! Dia temanku!” Kai keluar dari ruang kerja orang
tuanya sebelum eomma dan appanya bertanya lebih jauh. Ia berlari ke kamarnya.
Di
kamarnya, Kai mengeluarkan foto Jinri yang ia potret 2 bulan lalu, di taman. Ia
tersenyum menatapnya.
“Saranghae,
Noona,” ucapnya lembut.
The End

Tidak ada komentar:
Posting Komentar