Halaman

Kamis, 31 Mei 2012

Blind

Author                  : @arsyadhea_k
Genre                   : romance, friendship
Cast                       :              
1.       Kai (EXO-K)
2.       Cho Jinri (OC)
OST                        : SNSD – Singing in The Rain
Pertama, mau ngucapin makasih buat COVERMAKER yang udah bikinin posternya ^^ FF ini udah pernah dipublish di wordpressku, Fan Fiction World ^^ buat yang mau baca FFku yang lain, berkunjung (?) aja ke sana, beberapa FF ada di sana dan nggak aku publish di sini.
Terinsipirasi dari dramanya Yoona ‘Love Rain’ dan film Blind ^^ mian kalau ada typo atau bahasa gaul J kesamaan nama dan tempat adalah sebuah KETIDAKSENGAJAAN. No bash and no plagiat!!
And the story is... begin! ^^
Pagi ini hujan turun. Kai, siswa kelas 3 di Paran High School berdiri di bus stop bersama beberapa orang lain. Kai memakai celana panjang dan sweater putih-hitam dan topi putih. Ia tidak memakai seragamnya. Hari ini ia bolos sekolah lagi.
Kai berbalik dan pergi dari bus stop itu. Secara tidak sengaja seorang gadis menabraknya. Tongkat yang dipegang gadis itu terjatuh.
“Mianhaeyo, jeongmal mianhaeyo.” Sesalnya. Ia membungkuk, tapi tidak menghadap Kai.
“Kalau jalan dilihat pakai mata!” bentak Kai.
“Jeongmal mianhaeyo. Chogiyo, apa kau melihat tongkatku?”
“Ada di sana.” Kata Kai dingin.
“Di mana?” gadis itu duduk dan meraba-raba trotoar. Kai baru menyadarinya. Gadis itu buta. Kai pun mengambil tongkat itu dan memberikannya pada gadis itu.
“Gamsahamnida!” serunya senang. Ia kembali melanjutkan langkahnya. Kai memperhatikannya. Rasa khawatir muncul di hatinya. Ia pun mengikuti gadis itu.
I’m singing in the rain, just singing in the rain,” nyanyi gadis itu. Kai tahu lagu itu. Singing in The Rain. Gadis itu menyanyikannya dengan penuh perasaan. Suara juga bagus. Setelah agak jauh dari bus stop, tiba-tiba gadis itu berhenti. Kai juga ikut berhenti.
“Chogiyo, kenapa kau mengikutiku?” tanya gadis itu tanpa berbalik.
“Aku, aku khawatir padamu.” jawab Kai. Begitu ia mengucapkannya ia sadar, bagaimana kalau ia menyakiti perasaan gadis di depannya ini?
“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku sudah biasa.”
“Siapa namamu?” tanya gadis itu.
“Kai imnida.”
“Kau masih SMA, ya? Kelas 3, kan?”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Terdengar jelas dari suaramu.”
“Kalau kau, siapa namamu?” tanya Kai. Gadis itu pun mulai berjalan lagi. Kai mengikutinya, kini ia di sebelah gadis itu.
“Cho Jinri imnida.”
“Tapi, ini kan jam sekolah. Kenapa kau bisa berada di sini? Apa kau membolos?”
“I, itu...”
“Seharusnya kau bersyukur kau masih bisa melihat. Kau masih bisa belajar, masih bisa sekolah. Kenapa kau membolos?”
“Mianhaeyo,”
“Jangan minta maaf padaku. Kau harus minta maaf pada orang tuamu, pada dirimu sendiri. Kau harus menjadi anak yang lebih baik mulai saat ini. Yaksok?”
“Kenapa aku harus berjanji padamu? Kenapa kau perhatian padaku? Orang tuaku saja tidak.” Ujar Kai kesal. Bukan kesal pada Jinri, namun pada kedua orang tuanya.
“Apa kau punya kakak?”
“Punya. Tapi mereka sekolah di luar negeri.”
“Kalau begitu aku yang akan menjadi kakakmu. Aku yang akan memperhatikanmu saat ini.”
“Memangnya berapa usiamu?”
“20 tahun.  Kau masih 19, kan?”
“Bagaimana kau tahu?” Kai berhenti berjalan. Ia terkejut dengan tebakan Jinri yang selalu benar. Jinri tertawa.
“Aku bisa mengetahui usia dan tinggi badan orang lain saat aku mendengar suaranya.”
“Kau, eh, Noona punya indra yang sangat peka. Hebat.” Jinri tersenyum lembut.
“Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.” Ucapnya bijak.
Tiba-tiba Jinri kembali berhenti. Kai juga berhenti.
“Noona, waeyo?”
“Ini adalah rumahku.” Kai melongo. Bagaimana Jinri bisa tahu?
“Yang mana?”
“Rumah di sebelah kananku.”
Kai kembali melongo. Rumah itu besar dan megah! Seperti istana.
“Kau heran, kenapa aku bisa tahu? Aku selalu menghitung langkahku. Sekarang, kau boleh pergi. Kembalilah ke sekolahmu.”
“Shireo.”
“Wae?”
“Sudah siang. Aku malas.”
Yaaa! Kau ini ingin sukses atau tidak? Apa kau tidak kasihan pada orang tuamu, hah?!”
“Iya, iya. Besok aku akan sekolah. Tapi, sepulang sekolah besok aku kemari, ya. Nanti aku akan ajak Noona jalan-jalan. Oke?”
Jinri tersenyum.
“Geurae.”
“Sekarang Noona masuklah. Aku juga mau pergi.”
“Mau kemana kau?”
“Studio. Latihan dance. Noona mau ikut?”
“Apa tidak merepotkan?”
“Tentu saja tidak. Aku malah senang jika Noona ikut.” Kai tersenyum. Biasanya ia tidak pernah mengajak siapapun ke studio, tapi kali ini ia ingin mengajak Jinri.
“Baiklah.” Jinri melingkarkan lengannya di lengan Kai. Kai menahan nafas. Rasanya ia begitu gugup dan senang.
“Jauhkah?” tanya Jinri.
“Tidak juga. Sekitar 10 menit jika berjalan kaki dari sini.”
Mereka berjalan pelan. Kai tidak henti-hentinya tersenyum. Jika Jinri melingkarkan lengannya di lengan Kai, itu artinya Jinri mempercayainya, kan? Entah kenapa Kai merasa senang Jinri mempercayainya.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai. Mereka langsung ke lantai 2, tempat Kai biasa latihan bersama beberapa temannya.
“Wow, Kai! Siapa ini?” tanya Chanyeol, salah satu teman latihannya.
“Kekasihmu?” goda Sehun.
“Bukan! Dia, dia temanku, Cho Jinri. Noona, ini Chanyeol dan Sehun.”
Chanyeol dan Sehun melongo. Noona? Jinri lebih tua dari Kai? Mereka heran karena Kai tidak pernah membawa teman saat latihan, apalagi wanita yang lebih tua!
Kai menatap Sehun dan Chanyeol tajam. Mereka pun segera menyiapkan kaset sementara Kai mengantar Jinri duduk di sudut ruangan.
“Noona tunggu aku, ya.” pesan Kai. Jinri mengangguk.
Kai, Sehun, dan Chanyeol pun bersiap di tempat masing-masing. Lagu yang mengiringi dance mereka kali ini adalah Here We Go (Super Junior). Mendengar lagu yang mengiringinya, tanpa sadar Jinri ikut bernyanyi. Lagu selanjutnya adalah Beautiful (B2ST). Mereka menari sampai 4 lagu, kemudian beristirahat. Kai duduk di sebelah Jinri. Jinri menyodorinya sebotol minum. Kai menerimanya meski ia menatap Jinri heran.
“Aku selalu membawa minum kemana pun aku pergi. Dan itu juga belum kuminum.” Jinri tersenyum, seakan ia bisa membaca pikiran Kai.
“Noona lelah?” tanya Kai.
“Memang kenapa?”
“Kalau Noona lelah, aku bisa mengantar Noona pulang sekarang.”
“Terserah kau.”
“Kita pulang sekarang, ya, Noona.”
“Oke.” Jinri mengeluarkan tongkatnya. Kai membantunya berdiri. Setelah pamit pada kedua temannya, mereka pun berjalan pulang. Di jalan, Kai mengeluarkan MP3nya dan memakai satu earphone di telinganya, dan memasangkan yang satu lagi di telinga Jinri. Ia memutar lagu Singing in The Rain, lagu kesukaan Jinri.
“Kai,” panggil Jinri.
“Ne?”
“Nama aslimu siapa?”
“Ne?”
“Nama aslimu?”
“Kim Jongin imnida.”
“Kim Jongin? Itu nama yang bagus. Kenapa kau mengganti namamu dengan nama ‘Kai’?”
“Waeyo? Noona tidak suka?”
“Bukan begitu.”
“Kai, kau bawa ponsel, kan?”
“Bawa, Noona. Waeyo?” Kai mengeluarkan ponselnya.
“Catat nomor ponselku.” Jinri pun menyebutkan nomor ponselnya.
“Kalau kau ada masalah, kau bisa menghubungiku. Aku pasti akan mendengarkanmu,” katanya lembut.
“Gamsahamnida, Noona,” Kai tersenyum gembira.
“Jangan bicara formal seperti itu. Kau kan adikku.”
Deg! Rasanya hati Kai menjadi sakit. Kenapa hatinya menjadi sakit ketika Jinri bilang ia adalah adiknya?
“Kai, kita sudah sampai di depan rumahku, kan?” pertanyaan Jinri menyadarkan Kai. Kai pun berhenti.
“Noona masuklah. Aku akan pergi setelah Noona masuk.”
Jinri tersenyum.
“Gomawo telah mengajakku, Kai.”
“Cheonma, Noona.”
Jinri pun masuk rumahnya. Kai menghela nafas, kemudian berjalan pulang.
...
Jinri menyalakan MP3-nya. Ia memutar lagu Singing in The Rain. Ia kembali teringat dengan Kai. Kai adalah orang pertama, selain keluarganya, yang memperhatikannya. Hatinya begitu senang saat Kai mengajaknya jalan-jalan ke studio. Tadinya ia pikir Kai akan malu akan keadaannya, tapi ternyata tidak.
Jinri berbaring di kasurnya. Ia memeluk boneka kelincinya, boneka kesayangannya sejak kecil. Ia pun tertidur.
...
Kai menepati janjinya. Ia berkunjung ke rumah Jinri setelah ia pulang sekolah. Ia mengajak Jinri ke taman.
“Noona, hari ini aku mengajak Noona ke taman paliiiing indah. Aku menemukannya 2 hari yang lalu, Noona!” seru Kai senang.
“Jinjja? Wah, Kai, gomawo!” Jinri tersenyum.
“Andai aku bisa melihat, aku pasti bisa melihat keindahan taman ini, Kai.” Kata Jinri pelan, seakan menyesali kebutaannya.
“Noona,” Kai menjadi sedih. Ia tidak suka Jinri merendah diri seperti itu.
Jinri segera tersenyum.
“Dwaesseo. Jangan dipikirkan lagi. Aku senang kau mengajakku ke sini. Sungguh.” Katanya meyakinkan.
“Noona, boleh aku tanya sesuatu?”
“Boleh. Apa itu?”
“Walaupun nantinya akan menyakiti perasaan Noona?”
Jinri tersenyum. Ia mengangkat tanganya, dan merangkul Kai yang duduk di sebelahnya.
“Aku akan baik-baik saja. Sekarang, tanyakan saja.”
“Sejak kapan Noona tidak bisa melihat?” tanya Kai hati-hati. Di luar dugaannya, Jinri malah tersenyum.
“Banyak orang yang bertanya seperti itu padaku. Jadi kau jangan khawatir. Aku tidak bisa melihat sejak satu tahun yang lalu.”
“Waeyo?”
“Kecelakaan. Tapi aku sungguh tidak apa-apa. Lagipula, kalau aku tidak buta, kita tidak akan bertemu. Mungkin kemarin aku sedang kuliah, jadi kita tidak akan bertemu. Meskipun aku tidak kuliah, kau tidak akan mengikutiku, kan?”
Kai diam saja. Air matanya menetes.
“Kai?”
“Ne, Noona?”
“Kenapa kau diam saja?”
“Aku sedang berpikir. Noona benar. Mungkin, kalau Noona tidak buta, aku tidak akan mengikuti Noona kemarin.” Air matanya menetes lagi.
“Kau menangis?”
Jinri mengangkat tangannya, berusaha mencari wajah Kai. Kai meraih tangan Jinri dan meletakkannya di wajahnya. Jinri menghapus air mata Kai.
“Uljima. Aku saja tidak menangis, kenapa kau menangis? Lagipula itu sudah lama.” Hiburnya. Kai mengangguk.
“Kai, kau mau berjanji padaku, kan?” tanya Jinri lagi.
“Janji apa, Noona?”
“Kalau nanti aku sudah bisa melihat, kau mau mengajakku ke sini lagi?”
“Aku janji, Noona.”
“Aku tidak pernah menceritakannya pada orang lain, jadi kaulah yang pertama kali mengetahuinya. Sebenarnya, sudah ada orang yang akan mendonorkan matanya padaku.”
“Jeongmal? Wah, chukhae, Noona.” Kai bertepuk tangan.
“Tapi, yah, aku harus menunggunya.”
Kai mengangguk-angguk mengerti.
“Gwaenchana, Noona. Aku siap mengajak Noona ke sini lagi kapan pun.”
“Gomawo, Kai.” Jinri tersenyum. Kai sempat terpaku melihatnya. Jinri sangat cantik jika tersenyum.
“Kai?”
“Ne?” Kai tersadar dari pikirannya.
“Bisa kita pulang sekarang? Aku lelah,”
“Ne, Noona.” Kai bangkit dan membantu Jinri berdiri. Ia pun mengantar Jinri pulang.
...
Sudah 2 bulan Kai dan Jinri dekat. Selama itu pula, Kai berusaha memperbaiki dirinya. Ia tidak lagi nakal, tidak lagi membolos, dan nilainya pun naik. Semua guru dan teman-temannya tidak percaya akan perubahannya ini. Mereka bertanya pada Kai, tapi Kai hanya menjawabnya dengan senyum. Sejak saat itu pula setiap pulang sekolah Kai selalu mengunjungi Jinri, entah mereka mengobrol, berjalan-jalan, atau Jinri mengajari Kai mengerjakan tugas rumah matematikanya. Caranya, Kai membacakan soalnya, dan Jinri mengucapkan rumusnya. Kai sempat kagum pada Jinri karena memiliki ingatan yang kuat.
“Kai!” panggil Jinri riang di telepon.
“Noona sepertinya senang sekali? Ada apa?”
“Aku tidak tahu harus senang atau tidak. Seharusnya aku senang, tapi rasanya tidak etis kalau aku senang. Bagaimana ini?” Jinri pusing sendiri. Kai tertawa mendengarnya.
“Katakan saja padaku ada apa, Noona.”
“Orang yang akan mendonorkan matanya padaku, ia sudah meninggal,”
“Jadi, Noona akan mendapatkan mata Noona segera?!”
“Ne! Kai, aku sangat senang! Tapi, aku turur sedih untuk keluarga orang itu. Kau mau menemaniku ke rumahnya kan, saat aku sudah bisa melihat nanti?”
“Tentu, Noona.”
“Oh, jangan lupa akan janjimu untuk mengajakku ke taman lagi.”
“Aku tidak lupa, Noona. Tenang saja. Aku akan mengajak Noona ke sana secepat mungkin.”
Jinri tersenyum.
“Kata dokter, operasiku akan berlangsung lusa. Besok, kau mau menemaniku, kan? Jujur saja, aku sedikit gugup.”
“Geurae, Noona. Besok aku akan bolos sekolah untukmu.”
“Jangan bolos! Kalau kau bolos sekolah, jangan pernah temui aku lagi!”
“Noona!” protes Kai.
“Geurae, geurae, aku tidak akan bolos.”
“Begitu, dong. Jadilah anak baik dan belajar yang rajin, oke?”
“Noona, aku bukan anak kecil lagi!”
Jinri tertawa.
“Sampai jumpa, Kai!”
“Sampai jumpa, Noona!”
Kai menutup telepon. Ketiga temannya menatapnya heran. Mereka adalah Sehun, Chanyeol, dan Suho.
“Siapa itu, Kai?” tanya Suho.
“Noona? Biar kutebak. Cho Jinri Noona?” tebak Chanyeol. Kai hanya tersenyum.
“Kau masih berhubungan dengannya?” Sehun terkejut.
“Memangnya kenapa?” tanya Kai balik.
“Tidak biasanya kau dekat dengan gadis. Tapi kali ini, ah, aku sampai tidak bisa berkata apapun. Apa kalian berpacaran?” tanya Chanyeol.
“Siapa yang kalian bicarakan?” tanya Suho bingung.
“Sekitar 2 bulan yang lalu, Kai mengajak seorang gadis ke tempat latihan kita. Saat itu kau tidak ada. Kai sangat memperhatikannya.” Jelas Sehun.
“Mwo?” Suho terkejut.
“Apa dia kekasihmu?” tanyanya.
“Bukan!” elak Kai.
“Apa karena dia kau berubah?” tanya Chanyeol. Kai hanya tersenyum.
“Aku jadi ingin bertemu dengannya. Ajak dia ke acara kelulusan kita, Kai!”
Kai mengangguk mantap. Bel masuk berbunyi. Mereka pun masuk kelas.
...
Kai menunggu dengan cemas. Sudah 1 jam operasi Jinri berlangsung. Di sana ada juga appa Jinri. Ia sudah berkenalan dengan appanya. Saat Kai bertanya di mana eomma Jinri, appa Jinri hanya tersenyum masam.
Dokter pun keluar dari ruang operasi. Kai dan appa Jinri langsung berdiri dan menujunya.
“Dokter, bagaimana keadaan anak saya? Apakah operasinya berjalan dengan lancar?” tanya appa Jinri.
“Operasinya berjalan dengan baik, Pak. Tapi mata pasien masih harus diperban. 3 hari lagi baru kita buka perbannya.”
“Syukurlah, gamsahamnida, Dokter.”
“Pasien akan dibawa ke kamar rawat sekarang juga. Namun ia masih dalam pengaruh obat bius. Setelah ia sadar nanti, kalian boleh menemuinya.”
“Gamsahamnida, Dokter.” Ucap Kai senang.
“Kai, ayo kita makan dulu. Ini sudah siang. Setelah ini kita baru pergi ke kamar rawat Jinri.” Ajak appa Jinri.
“Ne, Ajussi.”
Di restoran...
“Kai, apa kau dekat dengan Jinri?” tanya appa Jinri.
“Ne, Ajussi.”
“Seberapa dekat kalian?”
Kai jadi gelagapan ditanya seperti ini.
“Saya sudah menganggap Noona sebagai kakak saya sendiri.”
“Tidakkah kau mencintainya?”
Kai diam saja.
“Sejak Jinri bertemu denganmu, ia menjadi lebih ceria. Ia memang tidak pernah bercerita pada saya, tapi saya tahu saat saya mendengar Jinri berbicara pada pelayannya. Ia bercerita tentangmu. Dapat saya lihat Jinri menjadi lebih gembira.”
“Saya senang kehadiran saya dapat membuat Noona menjadi lebih ceria,” aku Kai.
“Kai, saya akan menceritakan sesuatu padamu. Tapi, kau tidak boleh mengatakannya pada Jinri. Sayalah yang akan menjelaskannya pada Jinri.”
“Apa itu?”
...
Kai dan appa Jinri menunggu di kamar rawat Jinri dengan gugup. Dokter sekarang sedang membuka perban di mata Jinri. Perlahan, Jinri membuka matanya. Awalnya kurang jelas, tapi akhirnya ia bisa melihat dokter, Kai, dan appanya mengelilinginya.
“Aku bisa melihat!” serunya senang.
“Selamat, Jinri-ah. Mulai sekarang kau harus berhati-hati. Jaga matamu dengan baik.” Pesan dokter.
“Baik, Dokter. Gamsahamnida,”
“Cheonmaneyo. Saya permisi dulu.” Dokter pun keluar dari kamar.
“Appa!” Jinri memeluk appanya.
“Appa senang kau sudah bisa melihat lagi, Sayang.”
“Jinri juga senang, Appa.”  Jinri melepas pelukannya. Kini ia menatap Kai sambil tersenyum.
“Annyeong, Kai.” Jinri tersenyum padanya. Kai juga tersenyum. Refleks Kai memeluk Jinri.
“Aku senang Noona mengenaliku.” Kai melepas pelukannya.
“Bagaimana aku tidak mengenalimu! Kau kan adikku!” Jinri tertawa kecil.
Deg! Lagi-lagi rasa sakit itu datang. Jinri hanya menganggapnya sebagai adik. Kai berusaha tersenyum.
“Appa, Eomma mana?” tanya Jinri heran karena tidak melihat eommanya. Kai dan appa Jinri berpandangan.
“Appa, mana Eomma?”
“Jinri-ah, eommamu sudah... meninggal.”
“Mwo?!” Jinri terkejut mendengar pemberitahuan appanya.
“Appa kenapa tidak memberitahuku?! Kapan, Appa? Kapan?!”
“Seminggu yang lalu, Eomma kecelakaan. Sebelum ia meninggal, ia sudah mendaftarkan diri untuk mendonorkan matanya untukmu, Jinri-ah...”
“Ja, jadi...” air mata Jinri menetes.
“Matamu adalah mata eomma, Sayang,” jelas appanya.
Air mata Jinri mengalir makin deras. Appa Jinri terduduk di sofa di kamar itu. Kai memeluk Jinri dan mengelus punggungnya, berusaha menenangkan Jinri.
...
Jinri masih belum keluar kamarnya sejak ia keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu. Ia tidak melakukan apapun. Ia hanya terduduk, menatap ke depan dengan pandangan kosong. Ia tidak menyahut jika dipanggil, tidak pernah menjawab pertanyaan pelayan dan appanya, juga Kai. Ia bahkan tidak pernah menoleh pada mereka. Namun air matanya juga tidak menetes.
Hati Kai seperti tercabik-cabik melihat keadaan Jinri. Ia tidak bisa melihat Jinri seperti ini. Setiap hari, sepulang sekolah ia selalu mengunjungi Jinri. Mengajaknya berbicara walaupun Jinri tidak menanggapinya.
“Noona,” panggilnya. Ia duduk di kursi yang diletakkan di sebelah kasur Jinri. Pelayan jinri sengaja meletakkannya di situ saat Kai berkunjung.
“Sampai kapan Noona mau diam begini?” Kai menghela nafas.
“Aku tidak bisa melihat Noona diam begini. Noona, jebal, sadarlah untukku, untuk ayah Noona,” pinta Kai. Ia hampir saja menangis.
“Noona, Noona ingat tidak dengan janji kita? Aku akan mengajak Noona ke taman lagi, kalau Noona sudah bisa melihat. Tapi kenapa Noona jadi seperti ini? Apa Noona tidak mau ke taman bersamaku?”
Jinri tetap tidak merespon. Kai menghela nafas.
“Setelah bertemu Noona waktu itu, aku berusaha berubah menjadi anak yang baik. Aku tidak lagi membolos demi Noona. Kini, apa Noona tidak mau berusaha berubah demi aku? Demi ayah Noona,” pinta Kai lirih.
“Aku sangat ingin mengundang Noona ke acara kelulusanku lusa. Aku ingin memperkenalkan Noona pada teman-temanku. Aku ingin membuat Noona bangga dengan melihatku berpidato nanti.” Air mata Kai menetes. Tapi ia segera menghapusnya.
“Aku harus pulang, Noona. Tapi mianhae, aku tidak bisa kemari besok. Aku harus mempersiapkan kelulusanku. Aku harap Noona mau datang ke acara kelulusanku lusa. Pukul 10 di aula sekolahku. Noona akan datang, kan?” tanya Kai penuh harap. Jinri tidak merespon.
“Saranghaeyo, Noona.” Kai mencium puncak kepala Jinri. Kemudian ia keluar dari kamar Jinri. Sejenak ia berhenti di depan pintu kamar Jinri, menatap Jinri sedih, kemudian ia benar-benar pergi dari kamar Jinri.
...
Brak!
Pintu tertutup. Di kamarnya, Jinri mulai mengedipkan matanya. Dalam beberapa menit, ia mulai sadar kembali. Ia menoleh ke arah pintu, seakan berharap seseorang akan muncul. Jinri mengalihkan pandangannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kenapa aku di sini? Apa yang terjadi padaku?” tanyanya pada diri sendiri.
Pintu kamarnya terbuka. Ternyata pelayannya.
“Hana-ah,” panggilnya.
“Agassi? Agassi sudah sadar?” pelayannya terkejut.
“Apa aku pingsan?”
...
Jinri tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Yang ia ingat, ia masih berada di rumah sakit, sedang menangis dalam pelukan Kai. Sekarang ia sudah berada di rumah, yang kata pelayannya ia sempat tidak sadar selama seminggu.
“Agassi, mau coklat hangat?” tawar pelayannya. Jinri mengangguk ia masih memikirkan alasan kenapa ia tidak sadar dan apa yang membuatnya sadar kembali.
“Hana-ah,” panggilnya.
“Ne, Agassi?”
“Siapa yang terakhir mengunjungiku saat aku tidak sadar?” tanyanya penasaran.
“Kai-ssi, Agassi.”
“Kai?”
“Ne.” Pelayannya mengiyakan.
“Kai-ssi juga menitip pesan. Besok pukul 10, Kai-ssi ingin Agassi datang ke acara kelulusannya.”
“Besok?”
“Ne, Agassi.” Setelah itu, pelayannya keluar kamar.
Jinri beranjak dari kasurnya. Ia menuju lemari, dan membukanya. Entah kenapa ia ingin tampil yang terbaik di acara kelulusan Kai besok. Tangannya mulai menyentuh pakaian-pakaian itu. Tangannya berhenti saat ia menyentuh sebuah dress simple yang anggun berwarna kalem. Jinri tersenyum. Ia akan memakainya besok.
...
Kai duduk di antara teman-temannya, menunggu namanya dipanggil untuk menerima ijazah. Ia masih memikirkan Jinri. Sejak kemarin ia belum menemuinya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, setelah acara ini selesai ia akan langsung menemui Jinri.
“Kim Jongin!” panggil kepala sekolah. Kai segera berdiri dan maju untuk menerima ijazah. Kepala sekolah menyalaminya.
“Kau hebat. Kau bisa berubah dalam waktu yang singkat.” pujinya.
“Gamsahamnida, Seonsaengnim.” Ucap Kai sopan. Ia pun berbalik, hendak membacakan pidato kelulusannya. Tiba-tiba matanya menangkap sesosok yang ia rindukan. Jinri. Jinri berdiri di antara orang tua murid lainnya. Rambut panjangnya digerai, ia memakai dress berwarna kalem dengan lengan pendek.
“Annyeonghaseo, Kim Jongin imnida.” Kai memulai pidatonya. Dapat ia lihat Jinri mengangkat kameranya dan memotret Kai. Kai tersenyum.
“Pertama, aku ucapkan terima kasihku pada Tuhan yang telah membuatku lulus dengan nilai cukup baik. Kedua, untuk guru-guruku yang membimbingku dan selalu sabar setiap aku berulah.” Terdengar tawa kecil di aula.
“Ketiga, untuk teman-teman yang aku sayangi, yang selalu bersabar dalam menghadapiku. Dan yang terakhir, tapi menjadi yang paling spesial.” Ia mengambil jeda.
“Untuk Jinri Noona, yang telah menunjukkan padaku tujuan dalam hidup. Gomawoyo, Noona.” Kai tersenyum sambil menatap Jinri. Dilihatnya Jinri tersenyum padanya. Kai pun turun dari panggung. Setelah acara selesai, ia langsung berlari ke belakang untuk mencari Jinri.
“Kai!” panggil Jinri dari sudut aula. Kai menoleh dan berlari padanya. Ia langsung memeluk Jinri.
“Kai? Apa yang kau lakukan?” tanya Jinri terkejut. Namun ia senang Kai memeluknya.
“Noona, Noona ada di sini?” tanya Kai tidak percaya.
“Noona sudah sadar?”
“Ne. Dan itu karena kau. Pelayanku bilang, kaulah yang terakhir mengunjungiku. Apa yang kau lakukan padaku?” Jinri bertanya dengan curiga. Kai jadi salah tingkah.
“Yah, itu...”
“Kai!” panggil Sehun. Kai menoleh. Ada Sehun, Chanyeol, dan Suho.
“Selamat, ya! Kau bahkan lulus dengan nilai yang lebih bagus dariku!” ucap Suho.
“Em, Jinri-ssi?” tanya Chanyeol.
“Oh, kenalkan, ini Cho Jinri. Noona, ini teman-temanku. Sehun, Chanyeol, dan Suho.”
“Annyeonghaseo, Cho Jinri imnida. Bangapseumnida,” Jinri memberi salam.
“Banganseumnida,” ucap Sehun, Chanyeol, dan Suho bersamaan.
“Jongin-ah!” panggil eomma Kai. Kai menoleh. Ekspresinya menjadi datar saat ia melihat kedua orang tuanya.
“Kenapa kau tidak menyebut kami dalam pidatomu? Kami kan orang tuamu!” protes eommanya.
“Walaupun begitu, kami tetap bangga padamu, Jongin.” Appanya menepuk pundak Kai.
“Oh, siapa kau? Apa kau kekasih Jongin?” tanya eomma Kai saat melihat Jinri.
“A, aniyo.” Elak Jinri.
“Untuk apa kalian ke sini?” tanya Kai dingin. Teman-teman Kai diam-diam pergi. Jinri juga ingin pergi, tapi tangannya digenggam erat oleh Kai.
“Jongin-ah, kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja karena kami orang tuamu,”
“Orang tua yang tidak pernah memperhatikan anaknya tidak pantas datang ke acara kelulusan anak itu. Kkaja Noona, kita pergi.” Kai menarik tangan Jinri pergi. Ia tidak mempedulikan panggilan eomma dan appanya.
“Kai,” panggil Jinri, berusaha menghentikan langkah Kai.
“Kai, tunggu sebentar,”
“Kai!” teriak Jinri. Berhasil. Kai menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Jinri.
“Ayo kita beli es krim,” ajak Jinri. Kai mengernyit.
...
Kini mereka duduk di taman, seperti yang pernah dijanjikan Kai. Jinri memakan es krim coklatnya dan Kai memakan es krim vanilanya. Jinri sudah menyuruh supirnya pulang duluan tadi, karena ia akan pulang dengan Kai.
“Aku pernah bilang padamu, kan, kalau aku akan selalu mendengarkan masalahmu?” tanya Jinri. Kai mengangguk. Es krim mereka sudah habis.
“Tapi kau tidak pernah menceritakan masalah keluargamu padaku. Bukannya aku ingin ikut campur, tidak. Tapi mungkin aku bisa sedikit membantumu, Kai,” bujuk Jinri.
“Dan sikapmu tadi di aula, membentak orang tuamu? Ayolah, Kai, itu tidak baik. Kau telah banyak berubah akhir-akhir ini. Kau menjadi lebih baik, tidak pernah bolos, nilaimu juga naik. Tapi kenapa kau membentak orang tuamu?”
“Mereka bukan orang tuaku.” Ujar Kai dingin.
“Kai!” bentak Jinri.
“Mereka tidak pernah memperhatikanku. Selalu dan selalu, hanya kedua noonaku yang mereka perhatikan. Kedua noonaku juga tidak pernah memperhatikanku. Mereka bahkan tidak pernah menganggapku.” Ujar Kai sedih. Jinri merangkul Kai.
“Tapi mereka orang tuamu, Kai. Mereka peduli padamu, mereka sayang padamu. Buktinya, tadi mereka datang ke acara kelulusanmu. Iya, kan?”
“Mereka baru peduli padaku setelah nilaiku naik. Kalau nilaiku tidak naik? Hah, mereka mungkin akan membuangku.”
“Kai, tatap aku.” Perintah Jinri lembut. Kai menoleh dan menatap mata Jinri. Mata yang sangat ia sukai.
“Kalau mereka tidak sayang padamu, mereka tidak akan menyekolahkanmu, tidak akan memberimu makan. Mereka bekerja, mereka mencari uang untukmu, untuk kedua noonamu, itu artinya mereka menyayangimu, Kai. Mereka menunjukkannya dengan bekerja.” ucap Jinri bijak. Kai diam saja, namun ia masih menatap Jinri.
“Mulai sekarang aku tidak ingin kau membentak orang tuamu lagi, atau kedua noonamu, atau siapapun itu. Kai-ku adalah Kai yang baik, pintar, dan menyayangi semua orang. Arasseo?” Jinri tersenyum.
“Ne, arasseo.” Sahut Kai. Jinri tersenyum puas.
“Jangan lupa minta maaf pada orang tuamu, Kai,” pesan Jinri.
“Ne, Noona.”
“Ayo kita pulang.” Ajak Jinri. Mereka beranjak dari sana.
...
“Eomma, Appa,” panggil Kai dari pintu ruang kerja. Eomma dan appanya yang sedang bekerja menghentikan pekerjaan mereka dan menoleh.
“Mianhae karena telah membentak kalian di sekolah tadi.” Sesalnya. Eomma dan appanya berpandangan.
“Kemarilah, Jongin.” Perintah eommanya lembut. Kai menghampiri kedua orang tuanya.
“Eomma dan Appa juga minta maaf, karena selama ini kami hanya bekerja tanpa memperhatikanmu dan kedua kakakmu. Tapi apa yang Eomma dan Appa lakukan semuanya untuk kalian, untuk sekolah kalian, supaya kalian menjadi manusia yang berguna nantinya.” Kata eommanya. Kai mengangguk.
“Ngomong-ngomong, apa yang membuatmu berubah? Apa karena gadis itu?” tanya appanya. Kai jadi salah tingkah.
“Gadis yang mana?” Kai pura-pura tidak tahu.
“Gadis yang bersamamu di sekolah tadi.”
“Di, dia bukan siapa-siapa.”
“Yang benar? Jangan bohong, Jongin!” goda eommanya.
“Dia memang bukan siapa-siapa! Dia temanku!” Kai keluar dari ruang kerja orang tuanya sebelum eomma dan appanya bertanya lebih jauh. Ia berlari ke kamarnya.
Di kamarnya, Kai mengeluarkan foto Jinri yang ia potret 2 bulan lalu, di taman. Ia tersenyum menatapnya.
“Saranghae, Noona,” ucapnya lembut.
The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar