Halaman

Selasa, 10 Januari 2012

Another Love Story

Main Cast :
1.       Kim Hyuna (you)
2.       Choi Siwon (Super Junior)
3.       Yoo Changhyun / Ricky (Teen Top)
4.       Seo Joohyun / Seohyun (SNSD)
5.       Kim Kibum / Key (SHINee)
6.       Kim Jongwoon / Yesung (Super Junior)
Aku sedang menjalani pemotretan untuk iklan sebuah merek pakaian ternama di Korea. Tak perlu menunggu lama, akhirnya pemotretan ini selesai. Baguslah. Aku sangat lelah.
“Kerja bagus, Kim Hyuna-ssi!” kata si fotografer. Aku tersenyum dan membungkuk 90 derajat untuk mengucapkan terima kasih. Aku kembali ke ruang ganti. Manajerku sekaligus namja chinguku sendiri, Choi Siwon, menyodorkan sebotol air. Aku meminumnya.
“Apa kau lelah, Chagi?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Apa besok aku ada jadwal?” tanyaku. Ia menggeleng.
“Aku sengaja mengosongkannya untukmu, supaya kau bisa beristirahat.”
“Aaah, kau sangat baik, Oppa. Saranghaeyo...” aku mencium pipinya. Ia hanya tersenyum dan mengelus-elus rambutku.
“Sekarang ganti baju. Lalu kita akan pergi makan. Tidak apa kan kalau kita pergi makan dulu?”
“Ne.” Jawabku. Lalu masuk ke ruang ganti untuk mengganti bajuku.

...
“Besok Oppa ada acara tidak?” tanyaku di mobil setelah kami pulang dari restoran. Sekarang ia akan mengantarku pulang.
“Ada. Reuni dengan teman-temanku di SMP.”
“Boleh aku ikut?” pintaku. Ia terkekeh.
“Andwae, Chagi. Kau harus beristirahat.”
“Aku bisa tidur malam ini.” kataku. Tapi ia tetap menggeleng. Aku cemberut. Aku melipat tanganku dan memandang ke luar jendela.
“Apakah Kim Hyuna sedang kesal?” goda Siwon. Aku tetap cemberut.
“Begini saja. Aku reuni pukul 8 dan selesai pukul 10. Setelah itu, aku akan menjemputmu dan kita akan pergi ke taman bermain. Kau mau, kan?”
Aku menoleh ke arahnya dengan senyum lebar.
“Benarkah?” tanyaku antusias.
“Ne. Kau suka taman bermain, kan?”
Aku mengangguk cepat.
“Lotte World?”
“Ne. Terserah kau, Chagi.”
“Gomawo, Oppa.” Kataku. Ia tersenyum sambil tetap melihat ke depan. Akhirnya kami sampai di depan rumahku. Aku keluar dari mobil. Ia membuka jendelanya.
“Annyeong, Oppa! Jangan lupa janji kita besok!” kataku sambil melambai padanya. Ia mengangguk, lalu pergi. Aku masuk ke rumah.
“Aku pulang!” seruku.
“Hyuna, apa kau sudah makan?” tanya eomma yang duduk di ruang tamu dan sedang membaca majalah.
“Sudah, Eomma. Tadi dengan Siwon Oppa.”
“Oh, baiklah. Oya, besok appamu akan pulang.”
“Mwo? Appa akan pulang?” tanyaku terkejut.
“Ne. Wae?”
Aku menggeleng. “Aku ke kamar dulu, Eomma. Aku lelah.” Kataku.
“Ne, selamat tidur, Sayang!” serunya, sementara aku berjalan gontai ke kamarku di lantai 2.
Aku belum mengenalkan diriku, ya? Kenalkan, Kim Hyuna imnida. Umurku 22 tahun. Aku sudah lulus kuliah jurusan akting. Tapi aku malah menjadi model. Ya, tidak apa-apalah. Yang penting aku menikmati pekerjaanku.
Aku mulai menjadi model sejak aku berumur 20 tahun. Saat itu aku dan temanku Seo Joohyun sedang berjalan-jalan di Pulang Jeju. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri kami dan menawariku untuk menjadi model. Setelah berbicara dengan orang tuaku, aku menerima tawaran itu. Dan sejak itu, aku menjadi model. Setelah itu mulai banyak tawaran iklan yang masuk. Karena kewalahan, aku meminta bantuan salah satu sahabatku, yaitu Choi Siwon. Dan setahun kemudian ia menjadi namja chinguku.
“KIM HYUNAAAA!” teriak seseorang, menyadarkanku dari lamunanku. Dia adalah Kim Jongwoon, oppaku yang pertama. Ia biasa dipanggil Yesung. Dia sudah menikah dengan Im Yoona 2 tahun yang lalu. Sekarang dia tinggal di rumahnya sendiri, dan sesekali pulang kemari.
“Apa, Oppa? Oppa tidak usah berteriak juga aku dengar.” Protesku.
“Aku sudah memanggilmu dari tadi, tahu!”
“Ada apa?” tanyaku ketus.
“Aish, kau ini. Aku tidak selalu berada di rumah, dan saat aku di rumah kau malah mengajak bertengkar?”
“Lalu aku harus bersikap bagaimana? Apa aku harus bilang ‘Oppa! Jeongmal bogoshipeo!’ seperti itu?”
“Ani, ani. Aku malah muak melihatnya.”
Aku mendengus kesal.
“Apakah Yoong Eonnie juga datang?” tanyaku. Kami biasa memanggi Yoona dengan panggilan Yoong, kecuali appa dan eomma. Yoona juga tidak keberatan.
“Ne. Dia di bawah bersama Eomma.”
“Bersama Kyungsan?” tanyaku berharap. Kyungsan adalah anak pertama mereka, umurnya sekarang 9 bulan. Yesung oppa mengangguk. Cepat-cepat aku turun untuk menemui mereka.
“Eonnie! Kyungsan-ah!!!” teriakku senang saat melihat Kyungsan yang duduk di pangkuan eomma. Aku menggendongnya dan mencium pipinya.
“Kalian akan menginap?” tanyaku pada Yoona. Ia mengangguk.
“Kyungsan-ah, aku sangat rindu padamu! Kenapa kau tidak menyuruh appamu untuk pulang, hah? Ish, lucunya anak ini!” aku mencubit pipinya. Yoona hanya tersenyum melihatku.
“Yah! Jangan mencubitnya seperti itu! Ia anakku!” kata Yesung oppa. Aku menatapnya sinis. Lalu Kyungsan menangis. Aku memberikannya pada Yoona.
“Lihat apa yang kau lakukan pada Kyungsan?” ia mulai jengkel.
“Oppa saja yang berteriak, Kyungsan jadi takut dan menangis! Aku tidak melakukan apapun padanya.”
Ponselku berdering. Aku mengeluarkan ponselku dari saku. Siwon menelepon! Aku langsung pergi ke teras depan untuk mengangkat telepon.
“Yoboseyo, Oppa...” sapaku di telepon.
“Yoboseyo, Chagiya. Aku ingin memberitahumu, besok aku tidak jadi pergi ke reuni.”
“Wae?”
“Acara itu dibatalkan.”
“Jadi, apa besok kita jadi pergi ke taman bermain?”
“Tentu saja. Aku akan menjemputmu pukul 10, Chagi.”
“Oya, besok malam eommaku mengundangmu untuk makan malam di rumah kami. Kebetulan appaku besok pulang. Jadi, kami berniat mengadakan acara makan malam. Kau bisa datang, kan?”
“Tentu saja.”
“Oke. Annyeong, Oppa!” seruku senang.
“Annyeong. Sweet dream, Chagi.” Katanya.
“Gomawo. Oppa juga, ya.”
“Ne.” Siwon menutup telepon.
Terdengar suara tepuk tangan. Aku menoleh terkejut.
“Sejak kapan Oppa di situ?” tanyaku.
“Sejak tadi.” Goda Yesung oppa mengulang kalimatku tadi.
“Oppa!” protesku. Yesung oppa tertawa.
“Kalian itu masih muda, sudah mesra. Bagaimana nanti kalau sudah menikah?” ia tertawa lagi.
“Oppa!” protesku. Aku langsung beranjak ke kamarku dan mengunci pintu. Aku kesal kalau digoda seperti itu. Aku berbaring. Lama-lama aku mengantuk dan tertidur.
...
Saat ini aku sedang menjalani pemotretan untuk iklan sebuah ponsel terbaru. Semalam, keluargaku dan Siwon makan malam bersama di restoran. Appa sangat senang bisa mengenal Siwon. Katanya, mungkin sekarang ia bisa tenang karena ada yang menjagaku. Oya, semalam aku juga bertemu dengan seorang teman lamaku. Namanya Yoo Changhyun. Kami bertemu di tempat cuci tangan.
“Hyuna-ssi!” seru fotografer yang memotretku. Aku sudah lama mengenalnya. Sudah beberapa kali kami bekerjasama. Namanya adalah Park Jungsoo.
“Ne?”
“Direktur perusahaan iklan ini ingin bertemu denganmu!” katanya.
“Ne!”
Aku segera menuju sebuah ruang di studio ini. Di ruang itu ada direktur Cho dan sekretarisnya, mungkin.
“Annyeonghaseo, Direktur Cho.” Sapaku. Aku menunjukkan senyum terbaikku.
“Annyeonghaseo, Kim Hyuna-ssi. Silakan duduk.”
Aku duduk di hadapan mereka.
“Kami ingin membayarmu di muka. 2 juta won untuk iklan ini.” ia meletakkan sebuah amplop coklat di atas meja, Aku tersenyum senang.
‘”Gamsahamnida, Direktur Cho.”
“Dan sebagai hadiah, kami ingin memberikan ini.” ia meletakkan sebuah kotak di atas meja yang membuatku terkejut. Ponsel!
“Ini bonus untukmu, Hyuna-ssi. Kau telah bekerja untuk perusahaan kami beberapa kali dengan sangat baik.”
“Gamsahamnida, Direktur.” Aku menarik kotak itu ke pangkuanku.
“Sekarang saya akan kembali ke kantor, Nona Kim. Semoga kita bisa bekerja sama lagi.”
“Ne, Direktur. Gamsahamnida,”
Ia tersenyum, kemudian keluar dari ruangan dengan sekretarisnya itu. Aku melonjak kegirangan.
“Chagiya, wae?” Siwon masuk.
“Oppa, lihat ini! Aku mendapat honorku di muka dan ponsel baru!”
“Ini ponsel yang diiklan kan?” tanyanya.
“Ne! Aku sangat menginginkan ponsel ini, kau tahu? Dan aku mendapatkannya!” seruku senang. Siwon hanya menatapku sambil tersenyum.
“Kau sangat manis jika sedang gembira.” Katanya. Aku tertegun. Wajahku pasti merah sekarang. Ia tertawa.
“Kau bahkan sangat manis jika sedang malu.”
“Yah! Jangan bercanda, Oppa!” aku menutupi mukaku. Ia tertawa.
“Aku kemari untuk memberitahu sesuatu padamu.”
“Apa itu?” aku mendekatinya.
“Ini. Sebuah kontrak. Pemotretan iklan pakaian. Dan ada temannya.”
“Nugu?”
“Choi Minho dan Lee Taemin.”
“Mwo? Choi Minho dan Lee Taemin? Yang baru saja mengeluarkan album duet 2Min itu?”
“Ne. Bagaimana? Kau mau menerimanya?”
“Tentu saja! Aku ini TaeMinho, kau tahu?”
TaeMinho adalah nama fans 2Min, yang membernya adalah Minho dan Taemin. Lagu mereka sangat bagus, suara mereka juga.
“Ne, ne. Kalau kau setuju, pemotretan itu akan dilaksanakan minggu depan.”
“Gomawo, Oppa...” aku mencium pipinya. Ia balas mencium dahiku.
“Kkaja, akan kuantar kau pulang.”
...
Hari ini adalah pemotretanku dengan 2Min. Aku memakai rok selutut berwarna putih dengan polkadot hitam dan kaus merah bergambar yeoja yang sedang naik sepeda. Kaus ini dibelikan oleh Yesung oppa. Meskipun kelihatannya ia jahil, tapi sebenarnya ia seorang oppa yang baik. Ia juga seorang pendengar yang baik dan memberi masukan-masukan yang baik juga.
“Kau sangat cantik, Chagiya.” Kata Siwon ketika aku keluar rumah. Aku tersenyum dan masuk mobilnya. Lalu kami pergi ke studio. Kami langsung menuju ruang rias. Aku mengganti pakaianku dengan pakaian yang harus kukenakan untuk pemotretan nanti. Saat aku kembali ke ruang ganti, Taemin dan Minho sudah datang dan sedang duduk di sofa. Mereka tersenyum dan berdiri ketika melihatku.
“Annyeonghaseo,” sapa mereka bersamaan sambil membungkuk. Aku juga membungkuk.
“Annyeonghaseo,” sapaku.
“Apakah kau Kim Hyuna?” tanya Taemin.
“Ne.”
“Apa kau masih ingat padaku?” tanya Taemin. Aku jadi bingung.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku bingung.
“Aish, dasar. Aku Lee Taemin, Hyuna-ah! Sahabatmu di SD!”
“Ah! Min Oppa! Tentu saja aku ingat.” Kataku sambil tersenyum.
“Ingat bagaimana? Aku harus mengigatkanmu terlebih dahulu itu namanya kau lupa.”
Aku tersenyum kecil dan duduk di kursi, membiarkan perias merias wajahku sementara Minho dan Taemin berganti baju.
“Kau mengenal Taemin, Chagiya?” tanyanya saat perias keluar dari ruangan.
“Ne. Dia kakak kelasku di SD. Dulu aku sangat dekat dengannya, tapi setelah dia lulus kami kehilangan kontak.”
Siwon hanya mengangguk-anggung mendengar penjelasanku. Tak lama kemudian Minho dan Taemin keluar dari ruang ganti. Mereka sudah dirias saat menungguku tadi. Kemudian kami bertiga keluar dari ruang rias dan menuju tempat pemotretan. Siwon sempat mencium pipiku sebelum aku keluar dari ruang rias.
Pemotretan ini berjalan sekitar 3 jam, dan sudah 10 kali kami bertiga berganti baju dan riasan. Aku lelah sekali, tapi aku harus profesional. Aku tetap tersenyum cerah. Apalagi ada Siwon yang menyemangatiku.
“Akhirnya selesai juga,” kataku sambil duduk di sofa empuk di ruang rias. Siwon duduk di sebelahku dan menyodorkan sebotol minum. Aku menerimanya dan meminumnya. Taemin dan Minho masuk, dan duduk di sofa lain di ruangan ini. Kemudian perias kami datang membawa baju-baju yang tadi kami pakai. Ia memberikannya sebagian ke Taemin dan Minho, dan sebagian padaku. Baju-baju itu dimasukkan ke dalam 2 tas kertas.
“Kenapa pakaian ini diberikan pada kami, Noona?” tanya Minho.
“Pakaian-pakaian itu untuk kalian. Anggap saja sebagai bonus. Dan, setelah ini kalian pergilah ke tempat Jungsoo-ssi. Kalian akan mendapatkan bayaran kalian.”
“Ne, gamsahamnida, Noona.” Kata Taemin. Perias itu keluar.
“Apa kau lelah, Chagi?” tanya Siwon pelan.
“Ne.”
“Kalau begitu, cepatlah berganti baju, lalu aku akan mengantarmu pulang. Tadi Hyung menelepon. Katanya kau harus cepat pulang.”
“Tidak usah. Katanya pakaian ini untukku?”
“Ne. Kalau begitu, ayo kita pulang.”
Aku berdiri dan membawa tasku. Siwon membawakan pakaian-pakaianku.
“Kami pulang dulu, Oppa. Annyeong,” kataku pada Minho dan Taemin mereka hanya mengangguk.
Setelah Siwon mengambil honorku di tempat Jungsoo, ia mengantarku pulang. Aku sempat tertidur di mobilnya. Dan baru bangun setelah 1 jam kami sampai di depan rumahku.
“Kenapa Oppa tidak membangunkanku?” tanyaku pada Siwon.
“Kau kan lelah, Chagi. Aku tidak tega membangunkanmu.” Jawabannya membuatku tersenyum. Saat ia melepas seatbeltnya, aku tahu ia akan turun untuk mengantarku masuk.
“Oppa tidak perlu mengantarku masuk. Aku bisa sendiri.” Aku mengambil pakaian-pakaianku di belakang dan turun dari mobil Siwon.
“Hubungi aku besok pagi, Chagi.” Katanya. Aku mengangguk.
“Jangan lupa makan, setelah itu istirahat.” Katanya lagi. Aku mengangguk, kemudian masuk. Dapat kudengar mobilnya meninggalkan rumahku.
“Aku pulang.” Kataku pelan sambil melepas sepatu dan memakai sandal rumah.
“Hyuna-ah! Annyeong!” seseorang muncul dari ruang makan yang membuatku terkejut. Kibum oppa.
“Oppa!” seruku, kemudian memeluknya. Ia balas memelukku.
“Kapan Oppa pulang? Kenapa tidak memberitahu?” tanyaku setelah aku melepas pelukanku.
“Baru saja. Kau darimana?”
“Pemotretan.”
“Dengan Siwon?”
“Darimana Oppa tahu?”
“Yesung Hyung memberitahuku.”
Aku cemberut.
“Yesung Oppa memang tidak bisa menjaga rahasia.” Keluhku.
“Kau sudah makan?” tanyanya. Aku menggeleng.
“Kalau begitu kau harus makan. Aku baru saja membuat kimchi dan japchae.”
“Sudah lama aku tidak makan masakan Oppa, jadi ya, aku akan makan.” Aku mengikutinya masuk ke ruang makan.
...
Aku berjalan kaki menuju rumah Seohyun, temanku. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Rumah kami cukup dekat, jadi aku tidak perlu memohon-mohon pada Kibum oppa atau Yesung oppa untuk mengantarku.
Sebentar lagi aku tiba di rumah Seohyun. Rumahnya sudah terlihat. Tapi ada 2 mobil di depan rumah Seohyun. Aku sangat mengenali salah satu mobil itu sebagai mobil Siwon. Aku hafal nomor plat mobilnya. Karena pintu pagarnya terbuka, aku langsung masuk.
“Siwon-an, Joohyun-ah, kalian akan menikah 2 bulan lagi.” kata Tuan Seo.
Deg! Menikah? Siwon dan Seohyun?
Aku mngurungkan niatku untuk masuk rumah Seohyun begitu mendengar kalimat itu. Air mataku langsung menetes.
“Kalian bisa memesan cincin dan gaun pernikahan hari ini.” kata Tuan Choi.
“Besok saja, Appa. Aku lelah,” kata Siwon.
“Kau sudah mengakhiri hubunganmu dengan Hyuna, kan?” tanya Tuan Choi.
Deg! Mwo? Mengakhiri hubunganku dengan Siwon? Air mataku mengalir.
“Sudah, Appa.” Jawab Siwon.
Mwo?!
“Bagus.” Kata Tuan Choi, kemudian tertawa bersama Tuan Seo.
“Semuanya sudah beres. Kalau begitu, kami pulang dulu, Tuan Seo.” Kata Tuan Choi.
“Ne.”
Aku langsung berjalan cepat meninggalkan rumah itu. Sial. Aku memakai stiletto 10 centimeterku yang tidak bisa membuatku bebas berlari.
“Hyuna-ah?!” aku mendengar suara Siwon yang terkejut ketika aku baru keluar dari pagar rumah Seohyun. Aku tidak menghiraukannya. Aku melepas stilettoku dan berlari pulang.
“Hyuna-ah! Gidaryo!” teriak Siwon. Dapat kudengar langkah kakinya berlari mengejarku. Aku semakin menambah kecepatan lariku. Tapi Siwon berlari lebih cepat daripada aku. Ia berhasil menahanku. Tapi aku tidak mau memandangnya. Aku membelakanginya.
“Hyuna-ah, dengarkan aku dulu.” Katanya.
Aku membanting stilettoku hingga patah.
“Apa lagi yang harus kudengar?! Oppa dan Seohyun akan menikah. Kau sudah mengakhiri hubungan kita. Itu sudah cukup jelas, Oppa.” Kataku sambil menangis. Aku tetap tidak mau memandangnya. Siwon membalik tubuhku hingga aku berhadapan dengannya. Air mataku sudah mengalir deras.
“Hyuna-ah, mianhae,” kata Siwon. Aku menatapnya tidak percaya. Setelah semua kebohongannya itu, ia hanya meminta maaf?
“Lepaskan tanganku!” aku menarik tanganku dari genggamannya, tapi tidak bisa. Genggaman Siwon terlalu kuat.
“Aku bilang lepas!” teriakku.
“Hyuna-ah! Tolong dengarkan aku dulu! Aku tidak bermaksud menyembunyikan semua ini darimu. Aku pasti akan memberitahumu.”
“Memberitahuku dengan memberikan undangan pernikahan kalian?” tanyaku sinis.
“Yah! Hyuna-ah! Bisakah kau tidak seperti itu?”
“Aniya!” aku menghadap ke arah lain. Tiba-tiba Siwon memegang kedua pundakku dan memelukku.
Aku memukul-mukul tubuhnya, mendorongnya, dan melakukan apapun yang bisa membuatku lepas dari pelukannya tapi tangannya begitu kuat menahanku. Hingga akhirnya aku kelelahan pun ia tidak melepaskanku. Begitu ia melepas pelukannya, aku langsung menarik tanganku dari genggamannya dan berlari pulang tanpa membawa stilettoku.
“Kita putus!” teriakku.
Aku membanting pintu pagar dan langsung berlari ke kamar tanpa memakai sandal rumah. Bahkan aku sempat menabrak Yesung oppa yang sedang membawa segelas es teh hingga tehnya tumpah dan mengenai bajuku. Tapi aku tidak peduli. Hatiku sangat sakit.
BAM!
Aku menutup pintu kamar dengan keras dan menguncinya. Aku melompat ke kasur dan menangis sepuasnya, berharap itu bisa mengurangi sakit hatiku. Tapi tidak bisa, semakin aku menangis hatiku semakin sakit.
“YAH! HYUNA-AH!!!!” teriak Yesung oppa sambil menggedor-gedor pintu kamarku. Aku melempar weker kecilku sebagai balasannya. Alhasil, wekerku mengenai pintu dan jatuh hancur berantakan.
“DIAM!!” teriakku.
Kurasa ia terkejut. Tapi, aku tidak peduli. Hatiku terlalu sakit untuk mempedulikannya. Ponselku berdering. Aku mengeceknya. Seohyun. Aku langsung melepas baterai ponsel dan memasukkannya ke dalam laci meja di samping kasurku.
Tak sengaja mataku tertumpu (?) pada pigura-pigura yang memuat foto-fotoku dengan Siwon. Aku beranjak dan mengambil semua pigura itu. Kemudian aku keluar dari kamar. Yesung oppa dan Kibum oppa yang ada di depan kamarku terkejut melihatku. Tapi aku tidak mempedulikan mereka. Aku berjalan keluar rumah lalu membuang semua pigura itu di tempat sampah di luar rumah. Saat aku berbalik, aku melihat mobil Siwon dengan Siwon di kursi mengemudi memperhatikanku. Aku hanya melengos kemudian masuk dengan membanting pintu pagar.
“Yah! Hyuna-ah! Ada apa dengamu?” tanya Kibum oppa khawatir. Aku tidak menjawabnya dan kembali masuk ke kamarku, dan menguncinya.
Aku berbaring di kasur dan kembali menangis. Entah berapa lama aku menangis, karena aku kelelahan dan tertidur.
...
Aku terbangun. Kamarku gelap. Kurasa sudah malam. Aku beranjak dan mencari-cari saklar lampu. Akhirnya aku menemukannya dan... tring! Lampu pun menyala.
Aku melihat jam di dinding. Sudah pukul 1 pagi. Aku lapar. Pelan-pelan aku membuka pintu kamar dan tertegun melihat pemandangan di depan kamarku. Kibum oppa tertidur di sofa dengan sebuah nampan di meja di depannya. Semangkuk nasi, semangkuk bulgogi dan segelas air putih tersedia di depannya.
Aku memperhatikannya. Sejak kapan ia di sana? Akhirnya aku turun untuk memakai sandal rumahku, kemudian kembali ke atas. Langkahku menimbulkan suara sehingga membangunkan Kibum oppa.
“Hyuna-ah?” panggilnya. Aku duduk di sampingnya.
“Kau sudah makan?” tanyanya. Aku menggeleng.
“Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu. Aku tahu kau akan keluar kamar dan mencari makan.” Katanya yang membuatku terharu. Ia benar-benar seorang kakak yang baik.
“Aku tidak memasak yang lain karena tidak ada bahan makanan yang lain. Mungkin sudah agak dingin, biar aku panaskan dulu.” Ia membawa nampannya pergi, tapi aku menahannya dan menggeleng. Tanpa banyak bicara, aku mengambil sumpit dan mulai memakan makanan yang disiapkan Kibum oppa. Kibum oppa bersandar sambil memperhatikanku.
“Waeyo?” tanyaku pelan setelah aku selesai makan.
“Aku tahu apa masalahmu.” Kata Kibum oppa. Aku meminum air putih.
“Ini tentang... Siwon dan Joohyun, kan?” tebaknya. Amarahku muncul lagi setelah mendengar nama kedua orang itu.
“Aku mau tidur.” Aku beranjak ke kamar dan mengunci pintu. Aku berbaring di kasur,
“Hyuna-ah,” terdengar suara Kibum oppa dan suara ketukan pintu.
“Kumohon, maafkan mereka.” Katanya.
Tidak, tidak semudah itu aku memaafkan mereka. Tidak bisa semudah itu. Siwon telah berbohong padaku. Dan aku tidak bisa menerimanya.
...
Sudah pukul 6. Aku ada pemotretan dengan 2Min hari ini. Aku merasa agak senang. Dengan cepat aku mandi dan memakai dress berwarna krem, berlengan pendek dan panjangnya sampai 10 centimeter di atas lutut. Rambutku kubiarkan tergerai begitu saja.
Kemudian aku teringat dengan ponselku. Aku mengeluarkannya dan menyalakannya. Ada 20 pesan masuk dari Siwon, dan 5 pesan dari Seohyun. Yah, aku terlalu malas untuk membacanya. Aku langsung menghapus semuanya. Kemudian ada 1 pesan masuk dari Taemin.
Annyeong, Hyuna-ah! Hari ini kita pemotretan bersama ^^ aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Sampai bertemu di sana, ya!
Aku tersenyum membacanya. Tidak sabar untuk bertemu denganku? Aku ini fan-nya! Bagaimana aku tidak senang mengetahuinya seperti itu?
Sebuah telepon masuk. Dari Changhyun.
“Yoboseyo.” Sapaku.
“Yoboseyo. Hari ini kau ada acara?”
“Ada. Pukul berapa?”
“Pukul 9.”
“Kujemput pukul setengah 8, lalu kita sarapan dulu, bagaimana?”
Aku menaikkan alis.
“Hyuna-ssi?”
“Oke.”
“Bagus. Aku akan menjemputmu. Annyeong!”
“Annyeong.”
“Hyuna-ah, sarapan!” terdengar suara Yesung oppa mengetuk pintuku.
“Ne!”
Aku membuka pintu kamar. Ia menatapku heran.
“Kau mau ke mana dengan pakaian itu?” tanyanya.
“Pemotretan.”
“Hem, baiklah. Ayo sarapan, eomma dan appa sudah menunggu di bawah.”
“Aku sudah berjanji untuk sarapan dengan temanku.”
“Aish, anak ini. Sudahlah, ayo turun!” Yesung oppa menarik tanganku.
“Hyuna-ah, kau mau ke mana?” tanya Yoona ketika kami sudah sampai di ruang makan. Kyungsan tidak ada. Kurasa Kyungsan masih tidur.
“Pemotretan, Eonnie.”
“Kau masih menekuni pekerjaanmu sebagai model?”
“Ne. Tapi, mungkin aku akan berhenti.” Kataku sambil duduk di kursi di sebelah Kibum oppa.
“Waeyo? Bukankah kau sangat menyukai pekerjaan itu?” tanya eomma.
“Akhir-akhir ini aku merasa bosan. Setelah jadwalku bulan ini selesai aku tidak akan menjadi model lagi. Gomawo, Oppa.” Kataku ketika Kibum oppa meletakkan segelas susu coklat di depanku. Aku meminumnya.
“Roti isi selai coklat, Hyuna-ah?” tawar eomma.
“Tidak usah, Eomma. Nanti aku akan sarapan dengan temanku.”
“Dengan Siwon?”
“Aniya. Bukan dengannya.”
“Lalu dengan siapa? Joohyun?”
“Aniya. Dia teman lamaku.”
“Makanlah sedikit, Hyuna.” Perintah appa.
Eomma meletakkan sepiring besar kimchi di meja dan duduk di depanku. Setelah berdoa, kami mulai makan. Aku tidak makan sih.
“Hyuna-ah, makanlah sedikit.” Perintah appa. Mau tak mau, aku mengambil semangkuk sup tahu dan memakannya. Saat aku mau memakannya, bel berbunyi.
“Biar aku yang membukanya.” Kataku, kemudian beranjak.
“Hyuna-ah, kalau itu temanmu, ajak makan bersama!” seru appa.
Aku membuka pintu. Changhyun berdiri di depan pintu pagar. Aku tersenyum dan berlari kecil ke pintu.
“Kau sudah siap?” tanyanya.
“Ne. Kata Appa, kau ikut makan saja bersama kami. Kita tidak jadi makan di luar, tidak apa kan?”
“Baiklah.”
“Silakan masuk, Pangeran.” Candaku. Ia tertawa. Kemudian kami masuk bersama.
“Appa, Eomma, kenalkan, ini temanku, Yoo Changhyun.” Kataku saat kami tiba di ruang makan.
“Oh, duduklah, Changhyun-ssi.” Kata appa. Kibum oppa sudah pindah duduk di sebelah Yoona. Changhyun duduk di sebelahku. Kibum oppa meletakkan semangkuk nasi dan sumpit di depannya. Changhyun tersenyum berterima kasih.
“Kau mau kuambilkan?” tanyaku.
“Tidak usah,” katanya.
Kibum oppa dan Yesung oppa langsung berpura-pura batuk. Aku cemberut, Yoona malah senyum-senyum menggodaku. Aku lebih memilih melanjutkan makanku daripada meladeni mereka dan membuat mereka senang.
“Hyuna-ah, makan nasi.” Perintah appa. Aku berdiri dan mengambil semangkuk nasi di dapur.
“Changhyun-ssi, kenal di mana dengan Hyuna?” tanya appa. Ia sudah selesai makan. Changhyun menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab.
“Dulu kami kuliah di tempat yang sama,” jawab Changhyun.
“Changhyun-ssi juga jurusan akting?”
“Aniya, saya jurusan perhotelan.”
“Wow, perhotelan?” tanya eomma.
“Ne,” kata Changhyun.
Changhyun melanjutkan makannya. Aku sudah selesai. Aku melihat jam. Pukul 8 kurang 15 menit. Changhyun sudah selesai makan.
“Changhyun-ssi, lebih baik kita pergi sekarang saja.” Kataku.
“Bukankah kau pemotretan, Hyuna-ah? Biasanya kau dijemput Siwon?” tanya appa.
“Aniya.” Aku langsung beranjak dan berlari ke kamar, mengambil tas. Kemudian turun. Changhyun sudah memakai sepatunya. Aku memakai stiletto 10 centimeterku yang berwarna krem.
“Kkaja, Changhyun-ssi. Appa, Eomma, aku berangkat dulu.” Kataku, kemudian langsung keluar diikuti Changhyun. Saat keluar, mobil Siwon sudah berada beberapa meter di depan mobil Changhyun. Aku langsung cepat-cepat masuk mobil Changhyun.
“Changhyun-ssi, palliwa!” perintahku.
“Wae?”
“Nanti akan kuberitahu. Tapi sekarang cepatlah!” perintahku. Changhyun menjalankan mobilnya. Saat melewati mobil, aku menutupi mataku. Aku tahu Siwon menatapku. Setelah melewati mobilnya aku menghela nafas lega.
“Sebenarnya kau kenapa?” tanya Changhyun tanpa menoleh.
“Mobil yang tadi itu.” Kataku.
“Wae?”
“Mobil manajerku.”
“Manajer?”
“Ne. Kita ke studio G. Kau tahu tempatnya, kan?”
“Ne. Kita ke sana?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Oh ya, aku baru ingat. Kau model. Jadi dia manajermu?”
“Ne.”
Changhyun mengarahkan mobilnya ke arah studio. Ia berkali-kali menghela nafas. Aku meliriknya. Ia terlihat gugup. Changhyun menepikan mobilnya. Aku menatapnya heran. Ia juga menatapku, sambil tersenyum. Kegugupannya seakan hilang begitu saja.
“Nuga bwado sarangseureoun
Nuga bwado neomuna yeppeun
Hana hana neomu wanbyeokhan
There’s an angel in my heart
Nunbushige yeppeun eolguleun
Haessalcheoreom hwanhan useumun
Bamhaneure balkeun byeol gata
There’s an angel in my heart”
Aku terpaku mendengar reff lagu yang ia nyanyikan. Angel, salah satu lagu 2Min yang sangat aku sukai. Setiap aku mendengar lagu itu, aku selalu berharap akan ada seorang namja yang menyanyikannya untukku.
“Saranghae, Hyuna-ah.” Katanya pelan sambil tersenyum.
Aku menahan nafas. Aku begitu terkejut dengan apa yang kudengar dari mulutnya. Saranghae? Ia bilang tadi, saranghae?
“Sudah lama aku mencintaimu, sejak pertama kali kita bertemu di kampus.” Lanjutnya. Ia mengelus rambutku. Kemudian ia menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya menuju studio.
...
Aku melamun di meja rias. Aku menopang kepalaku dengan ponselku. Aku terus memegang ponselku, siapa tahu Changhyun menghubungiku.
“Annyeong, Hyuna-ah!” sapa Taemin. Aku tersenyum padanya.
“Ada apa? Sepertinya kau lesu sekali? Apa kau sakit?” tanyanya khawatir. Dari cermin di depanku, dapat kulihat Siwon yang duduk di sofa di belakangku menatapku tajam.
“Aniya, Oppa. Nan gwaenchana.” Kataku sambil tersenyum.
“Kalau begitu, ayo keluar. Pemotretannya sudah mau dimulai.” Katanya. Aku mengangguk. Dengan berat hati, aku memasukkan ponselku ke tas dan keluar dari ruang rias.
Pemotretan kali ini lumayan cepat. Kami hanya 5 kali berganti pakaian. Setelah selesai, aku mengganti pakaianku dengan pakaianku semula dan mengecek ponsel. Aku duduk di meja rias karena Siwon duduk di sofa. Yah, aku masih berusaha menjauhinya. Ada 2 pesan. Salah satunya dari Changhyun. Aku buru-buru membukanya.
Aku akan menjemputmu siang ini. Mau makan siang? Aku sudah menunggu di depan
Aku membuka pesan yang satu lagi. Dari Kibum oppa.
Makan siang di rumah, ya
Aku menyimpan ponselku di tas dan berdiri. Aku merapikan sedikit rambutku, lalu berjalan keluar. Tapi tanganku ditahan Siwon.
“Mau ke mana kau?” tanyanya.
“Urusanmu apa?” balasku dengan ketus.
“Aku bukan yeoja chingumu lagi. Lepaskan tanganku.” Aku menarik tanganku dari genggamannya, tapi genggamannya terlalu kuat.
“Apa maumu?!” bentakku.
“Aku mau kau mendengarkan penjelasanku.”
“Apa lagi yang perlu dijelaskan? Tidak ada! Semuanya sudah jelas! Kau dan Seohyun akan menikah. Dan di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi! Jadi tolong jangan halangi aku!” aku menarik tanganku dari genggamannya. Berhasil. Aku langsung membuka pintu ruang rias yang tertutup. Taemin dan Minho berdiri di depan pintu dengan canggung ketika melihatku. Kurasa mereka mendengar pertengkaranku dengan Siwon.Tapi aku tidak peduli. Aku langsung berjalan pergi dari sana, menuju lapangan parkir studio itu. Benar saja, Changhyun sudah menunggu di sana.
“Kau sudah selesai? Kukira akan lama.” Katanya ketika aku masuk mobilnya.
“Kau sudah menunggu lama?” tanyaku.
“Aku tidak pergi kemana-mana sejak kita sampai tadi.”
“Mianhae,”
“Tidak apa. Aku saja yang terlalu cepat. Makan siang?”
“Tidak. Oppaku menyuruhku makan siang di rumah. Mau makan siang di rumahku?” tawarku. Ia menyalakan mesin dan kami meninggalkan lapangan parkir studio.
“Tidak usah. Kalau oppamu menyuruh makan siang di rumah, itu artinya keluargamu akan berkumpul, kan? Kapan-kapan saja.” Katanya.
Aku mengangguk-angguk. Ponselku berbunyi. Kibum oppa.
“Yoboseyo.”
“Di mana kau?”
“Aku di jalan, baru saja keluar dari lapangan parkir studio. Wae?”
“Hari ini kita akan makan siang di luar dengan keluarga yeoja chinguku.” Katanya sambil berbisik.
“Jinri Eonnie dan keluarganya?” tanyaku. Kibum oppa memang pernah mengajak Jinri, yeoja chingunya, ke rumah dan memperkenalkannya pada kami setahun yang lalu. Tapi karena tidak mendengar kabarnya lagi, jadi kukira mereka sudah putus. Tak kusangka ternyata mereka masih bersama.
“Ne. Jadi cepatlah.”
“Ne, ne, tunggu aku.” Aku menutup telepon.
Setelah itu, di antara kami tidak ada yang berbicara. Changhyun fokus menyetir, dan aku... aku menatap ke luar jendela. Entah kenapa hatiku berdebar jika ada di dekat Changhyun. Setelah ia menyatakan cintanya tadi pagi, hatiku berdebar setiap ada di dekatnya. Mungkinkah aku... aniya, aniya. Aku tidak mungkin suka padanya, kan?
Aku meliriknya. Ia masih fokus menyetir. Tapi kemudian ia melirikku. Aku langsung menatap ke luar jendela lagi. Tak lama kemudian, kami sudah sampai di depan rumahku. Aku melepas seatbelt.
“Hyuna-ah,” panggilnya. Aku menoleh.
“Ne?”
“Soal yang tadi pagi, aku serius, Hyuna-ah. Saranghae,”
Aku tidak berani menatapnya. Aku menunduk, menghindari tatapannya.
“Hyuna-ah, maukah kau menjadi yeoja chinguku?”
Aku menatapnya terkejut. Aku tidak salah dengar, kan?
“Hyuna-ah, bisa jawab aku sekarang?” pintanya.
“Kurasa, aku masih perlu memikirkannya, Changhyun-ssi. Annyeong,” aku turun dari mobilnya. Aku berbalik dan cepat-cepat masuk rumah.
Kenapa hatiku berdebar seperti ini? Apakah aku menyukai Changhyun? Aku tidak mungkin melupakan Siwon secepat itu, kan? Aku baru saja putus dengan Siwon kemarin, dan aku sudah melupakannya? Aniya, itu tidak mungkin.
“Hyuna-ah!” panggil Kibum oppa, menyadarkanku dari lamunan.
“Ne?” aku baru sadar aku duduk di depan pintu.
“Kenapa kau duduk di sini? Kenapa tidak langsung masuk? Kita akan segera pergi!” katanya.
“Ne, Oppa.” Kataku menurut.
“Yah! Kibum-ah, Hyuna-ah! Kenapa malah berkumpul di sini? Segara masuk mobil!” tiba-tiba Yesung oppa muncul.
“Kibum-ah, kau menyetir mobil dengan appa dan eomma, Hyuna-ah, kau denganku dan Yoona. Arasseo?” perintah Yesung oppa.
“Ne, Hyung.” Jawab Kibum oppa. Sementara aku langsung menuju garasi. Yoona dan Kyungsan sudah berada di sana. Aku masuk mobil Yesung oppa. Yoona duduk di depan, sementara Kyungsan duduk di kursi bayi di sebelahku. Ia tertidur.
Hening. Mobil ini sepi sekali. Yoona dan Yesung oppa bahkan tidak mengobrol seperti biasanya. Tidak ada canda tawa kali ini. Hanya musik yang mengalun dari radio dengan suara kecil. Tak lama kemudian, kami sampai di restoran. Aku turun dengan menggendong Kyungsan. Kibum oppa dengan eomma dan appa juga sudah sampai.
“Oppa,tumben kau mengajak kami makan siang dengan keluarga Jinri Eonnie?” tanyaku saat kami masuk dan berjalan menuju meja yang sudah kami pesan.
“Kami akan menikah.” Kata Kibum oppa senang.
“Mwo? Apa yang lain sudah tahu?”
“Sudah.”
“Lalu kenapa aku tidak diberitahu?” protesku.
“Nanti kau cemburu,” Kibum oppa terkekeh. Aku memukul lengannya.
“Yah! Oppa pikir aku akan cemburu? Dasar pabo.”
“Yah! Kau berani menyebutku pabo?!”
“Ssst! Kyungsan sedang tidur. Nanti ia terbangun.” Kataku. Benar saja, setelah Kibum oppa berkata tadi, Kyungsan terbangun. Untung ia tidak menangis.
Aku duduk di sebelah Yoona. Aku menyerahkan Kyungsan pada Yoona. Sekarang waktunya Kyungsan minum susu. Kyungsan tampak lucu saat ia minum dari botol dot itu. Aku mengelus-elus rambutnya gemas.
“Mianhae, Oppa,” aku dengar suara yang sangat kukenal dari belakangku. Aku duduk dengan tegak, berusaha mencuri dengar apa yang sedang ia katakan.
“Tidak apa-apa.”
Deg! Siwon dan Seohyun. Apakah mereka sedang makan bersama? Aku menoleh ke arah pintu masuk, sebenarnya aku ingin melihat apakah benar kedua orang itu duduk di belakangku. Benar!
“Tapi, gara-gara aku, hubungan Oppa dengan Hyuna...”
“Tidak apa-apa, Joohyun-ah. Bukan kau yang salah.”
“Tapi...”
“Sudahlah, Joohyun-ah. Aku yang salah, aku tidak memberitahu Hyuna sejak dulu. Kalau sejak dulu aku memberitahunya, mungkin ia akan mengerti.” Kata Siwon.
“Aku hanya ingin pernikahan ini dibatalkan, Oppa. Aku tidak mau menyakiti perasaannya, dia sahabatku, Oppa,” Seohyun hampir menangis.
“Aku juga begitu. Tapi aku juga tidak mau menyakiti perasaan appa.”
“Oppa, apa kau tidak mau memperjuangkan cintamu pada Hyuna? Kenapa kau menyerah seperti ini?!”
Mereka diam sesaat.
“Tidak ada seorang anak pun yang mau melihat appanya bunuh diri, Joohyun-ah.”
“Maksud Oppa?”
“Appa pernah melukai tangannya sendiri saat aku menentang perjodohan ini. Ia mengancam akan bunuh diri jika aku tidak menerima perjodohan ini.”
“Sebenarnya, kau sudah mengakhiri hubunganmu dengan Hyuna belum, Oppa?” tanya Seohyun.
“Sebelum ia mengetahui perjodohan ini, belum. Aku tidak mau mengakhiri hubungan kami. Dia sangat berarti untukku. Aku sangat mencintainya. Tapi setelah ia mengetahui semua ini, ia langsung mengakhiri hubungan kami.” Siwon terdengar sangat menyesal dan tersiksa.
Air mataku hampir menetes.
“Kalau begitu kau harus memperjuangkan cintamu, Oppa! Hyuna pasti mau menerimamu lagi jika ia mendengar ucapanmu tadi.” Kata Seohyun.
“Kau menangis?” tanya Siwon.
“Ne. Aku sangat terharu mendengar ucapanmu tadi. Hyuna sangat beruntung dicintai olehmu.” Kata Seohyun. Aku tahu ia tersenyum. Nada suaranya sangat menunjukkan senyumnya.
“Hyuna-ah!” panggil Kibum oppa. Aku tersadar. Kulihat Jinri eonnie dan kedua orang tuanya sudah datang. Aku berdiri dan mengucapkan salam pada mereka. Aku menoleh ke belakangku. Siwon dan Seohyun menatapku. Aku tersenyum pada mereka dan duduk lagi. Fokus pada percakapan keluarga kami dan keluarga Jinri eonnie.
...
“Hyuna-ah!” panggil Siwon. Aku baru mau membuka pintu mobil Yesung oppa. Aku berbalik. Siwon berlari kecil ke arahku.
“Wae?” tanyaku.
“Bisa kita bicara sebentar?” tanyanya. Aku melirik Yesung oppa. Ia mengangguk.
“Oke.” Kataku. Ia tersenyum, lalu merangkulku menuju mobilnya. Ia membukakan pintu untukku. Suatu hal yang selalu dilakukannya dulu. Aku tersenyum. Lalu ia masuk dan duduk di kursi pengemudi.
“Kau mendengar percakapanku dengan Joohyun tadi?” tanyanya langsung. Menatapku. Dengan tatapan tajam yang kusukai.
“Ne.” Aku balas menatapnya, menahan senyumku dan hati yang bergejolak.
“Aku sangat mencintaimu, Hyuna-ah. Tidak bisakah kau menerimaku lagi?” tanyanya berharap.
“Bagiamana dengan Choi Ahjussi? Oppa bilang ia mengancam akan bunuh diri?”
“Aku akan mencoba membujuknya kembali. Aku akan berusaha menggagalkan pernikahan itu dengan segala cara. Kau percaya kepadaku, kan?”
Aku mengangguk. Ia mengelus rambutku, dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku berusaha keras agar tidak menangis. Dan, momen romantis ini pun rusak karena ponselku berdering. Siwon melepaskan pelukannya, dan aku mengecek ponselku. Changhyun. Kenapa aku jadi berdebar begini?
“Yoboseyo.”
“Yoboseyo, Hyuna-ah. Aku punya tawaran untukmu.”
“Apa itu?”
“Tadi aku baru saja ditelepon Lee Seonsaengnim. Katanya, untuk perayaan ulang tahun kampus kita tahun ini, akan melibatkan para alumni. Mereka akan menampilkan sebuah drama musikal. Kau mau ikut?”
“Drama?”
“Ne. Kampus kita juga bekerja sama dengan KBS. Bagaimana? Kau mau ikut, kan?”
“KBS?!” aku menahan nafas. Aku menatap Siwon, antara terkejut dan senang.
“Ne. Kau mau ikut?”
“Tentu saja! Aku ikut! Aku pasti ikut!”
“Bagus.”
“Tapi, kapan acara itu?”
“2 bulan lagi. Jadi para pemain punya waktu untuk bersiap-siap. Kalau kau mau ikut, minggu depan kau datang saja ke aula kampus pukul 10 siang. Nanti akan dijelaskan lebih lanjut tentang drama ini. dan juga seleksinya.”
“Kalau aku mengajak seorang temanku boleh, kan?”
“Tentu saja boleh. Nanti akan ada seleksinya.”
“Gomawo, Changhyun-ssi!”
“Ne, cheonmaneyo. Annyeong.”
“Annyeong!” aku menutup telepon. Aku menatap Siwon gembira.
“Wae?”
“Oppa! Kampus kita akan mengadakan acara ulang tahun 2 bulan lagi, dan mereka akan mengadakan sebuah drama musikal. Aku ingin ikut, kau ikut juga, ya?” pintaku.
“Drama musikal?”
“Ne. Oppa kan jago akting meskipun tidak masuk jurusan akting, dan suara Oppa juga bagus. Oppa ikut, ya?” pintaku.
“Baiklah.”
“Yei! Lalu, minggu depan akan diadakan seleksi untuk drama ini di aula kampus. Kita datang bersama ya, Oppa!”
Siwon tersenyum dan mengangguk. Lalu ia menyalakan mesin mobilnya dan mengantarku pulang.
...
Aku duduk di kursi rias. Pemotretan hari ini sudah selesai, dan pemotretan hari ini adalah pemotretan terakhirku. Aku memang sudah berencana untuk berhenti menjadi model. Aku lebih ingin menjadi aktris. Siwon juga sudah bekerja di perusahaan periklanan milik appanya.
Ngomong-ngomong, sejak Changhyun memberitahuku tentang drama musiklat itu 2 minggu yang lalu, ia tidak pernah menghubungiku lagi. Ada apa sebenarnya?
Ponselku berdering, membuyarkan lamunanku. Aku mengecek ponsel. Choi Sooyoung?
“Yoboseyo.”
“Hyuna-ssi, ini aku. Yeodongsaeng Siwon Oppa.”
“Ne, aku tahu. Ada apa?”
“Siang ini kau ada acara?”
“Ani. Wae?”
“Aku ingin bicara denganmu siang ini di Bennie Bear Ice Cream sekarang juga.”
“Oke. Aku ke sana sekarang juga. Annyeong.”
“Annyeong.” Soooyoung menutup telepon. Aku membereskan barang-barangku dan segera pergi.
...
Segelas es krim ‘Choco Lava’ tersedia di depanku. Aku memakannya dengan cepat. Es krim itu habis ketika Choi Sooyoung datang. Aku menyengir ketika ia memperhatikan gelas es krim yang telah kosong. Ia tersenyum, kemudian memanggil pelayan dan memesan segelas orange juice. Tidak ada yang memulai pembicaraan sebelum minum pesanannya datang.
“Sudah lama menunggu?” tanyanya, setelah minumannya datang dan ia meminumnya sedikit. Aku menggeleng.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku. Ia diam sejenak, meminum orange juicenya.
“Apakah ini tentang... Siwon Oppa?”
“Ne.”
Aku diam. Menunggu Sooyoung melanjutkan kalimatnya.
“Siwon Oppa bercerita tentangmu padaku.”
“...”
“Ia juga bercerita tentang perasaannya padamu.”
“...”
“Ia sangat mencintaimu. Aku tahu itu, dan aku jamin itu benar. Aku melihat sendiri, di matanya hanya ada kau.”
“Jadi apa maksudmu?” tanyaku. Aku juga tahu itu.
“Apakah kalian sudah kembali bersama?”
“Berpacaran kembali maksudmu? Molla.”
Sooyoung menatapku heran.
“Maksudku, aku tidak tahu. Siwon Oppa memang bilang ia masih mencintaiku. Tapi ia tidak... tidak menanyaku apakah aku mau menjadi yeojanya lagi.”
“Kau mau menerimanya sebagai namjamu lagi?”
Mendengar pertanyaan Sooyoung ini, aku jadi teringat dengan Changhyun. Dan hatiku yang berdebar tiap kali berada di dekat Changhyun.
“Hyuna-ssi?”
“Ne?”
“Kau mau menerima Siwon Oppa sebagai namjamu lagi, kan?” ia mengulang pertanyaannya.
“Molla.” Kataku lesu. Semua ini sangat membingungkan.
“Apa maksudmu? Apakah seorang namja... muncul?”
“Ne. Dia menyatakan cintanya padaku 3 hari yang lalu, tapi sampai sekarang aku belum menjawabnya.”
“Kau akan memilih Siwon Oppa, kan?” harap Sooyoung.
“Molla. Argh! Entahlah. Aku bingung.”
Hening. Tidak ada di antara kami yang berbicara. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
“Sebenarnya aku juta tidak setuju dengan perjodohan Oppa. Aku lebih memilihmu untuk dijadikan kakak iparku.” Katanya.
“Ne?”
“Kau lebih cocok dengan Oppa.”
Aku tersenyum kecil.
“Kalau aku tidak memilih Siwon Oppa bagaimana?” tanyaku.
“Apa kau berniat memilih namja yang menyatakan cintanya padamu itu?”
“Molla. Ini hanya perumpamaan saja.”
“Aku hanya akan menerima keputusanmu. Apapun yang kau pilih, itu kan terserah padamu. Aku tidak akan marah padamu, apalagi sampai membencimu.”
“Tapi?”
“Tapi, aku sangat berharap kau akan memilih Siwon Oppa.”
Aku tersenyum.
“Hyuna-ah?”
Aku dan Sooyoung menoleh. Changhyun berdiri di depan kami. Ia tersenyum.
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Oya, rahasiakan pembicaraan kita ini, ya! Aku juga akan merahasiakannya dari Oppa! Annyeong! Dan satu hal lagi, jangan membuatnya menunggu terlalu lama.” pamit Sooyoung, menepuk pundakku pelan, lalu pergi.
“Boleh aku duduk di sini?” tanya Changhyun, menunjuk kursi Sooyoung tadi. Aku mengangguk. Ia duduk, lalu memanggil pelayan.
“Kau mau es krim lagi?” tanyanya, membaca menu.
“Choco Lava?” kataku. Ia tersenyum.
“Choco Lava satu dan Banana Split satu.” Katanya pada pelayan itu.
“Siapa yeoja tadi?” tanyanya, setelah pelayan meninggalkan meja kami.
“Temanku. Kau kemari sendirian?” tanyaku. Ia mengangguk. Aku memperhatikan jalan raya di sebelahku.
“Jadi, bagaimana?”
Aku menoleh padanya.
“Apanya yang bagaimana?”
“Jawabanmu?”
Aku kembali teringat dengan pernyataan cintanya. Dengan kata-kata Sooyong tadi, ‘jangan membuatnya menunggu terlalu lama’.
“Aku... belum tahu.” Akhirnya aku mengatakannya juga. Ia menatapku tajam.
“Apakah ada seseorang yang kau tunggu?”
“Aku tidak menunggunya. Ia memang sudah kembali.”
“Jadi kau menolakku?”
“Bukan begitu. Ia belum memintaku menjadi yeoja chingunya, tapi aku mencintainya. Aku tidak tahu siapa di antara kalian yang harus kupilih.”
Pelayan datang mengantarkan es krim pesanan kami.
“Gamsahamnida,” kataku dan Changhyun hampir bersamaan.
“Kalau kau perlu waktu lagi, aku akan menunggu.” Katanya. Aku membulatkan mataku. Tidak percaya akan apa yang ia katakan barusan.
“Kau akan menunggu?”
“Tentu saja. Aku mencintaimu.”
“Kalau kau mencintaiku, kenapa kau tidak meneleponku selama 3 hari?”
“Ponselku tertinggal di rumah saudaraku, di Busan. Aku baru mengambil kemarin.”
“Busan?”
“Ne. Cepat makan es krimnya, nanti meleleh.” Katanya, ia memakan es krimnya. Aku segera memakan es krimku.
“Aku yang traktir.” Katanya.
“Ne? Gomawo.”
“Cheonmaneyo,” katanya sambil tersenyum, kemudian melanjutkan makan es krimnya.
...
Akhirnya aku sampai di depan rumah. Aku melepas seat belt.
“Busan?” kataku lirih.
“Bagaimana keadaannya? Sedang apa dia sekarang? Perlukah aku pergi ke Busan?” tanyaku pada diriku sendiri.
“Ne. Aku harus pergi ke Busan.” Kataku mantap, lalu turun mobil.
“Aku pulang!” seruku, melepas sepatu dan memakai sandal rumah. Tidak ada orang di ruang tamu. Pasti semua sedang beristirahat. Aku berjalan pelan menuju kamarku. Aku mengisi koper kecilku dengan 7 pasang pakaian, dan pakaian dalam juga. Setelah itu aku keluar kamar membawa koper.
“Kau mau ke mana, Hyuna-ah?” tanya appa di ruang tamu. Ia sedang membaca koran.
“Busan.” Kataku singkat.
“MWO?!” teriak appa. Ia membanting korannya.
“Wae?” tanyaku, meski aku sudah tahu alasannya. Tapi ia tidak bisa melarangku.
“Kau tidak boleh pergi ke sana!” larang appa.
“Wae? Apa alasannya?” tanyaku tegas.
“Kau tidak boleh pergi ke sana!”
“Wae? Karena Busan adalah tempat tinggal Hyunshik Ahjussi?” tanyaku.
“Yah!” teriak appa. Eomma muncul dari dapur. Kibum oppa juga turun dari kamar mereka. Mereka memperhatikan dari tangga. Kalau Yesung oppa, dia sudah kembali ke rumahnya bersama Yoona dan Kyungsan kemarin.
“Sampai kapan Appa mau membenci Hyunsik Ahjussi?! Ahjussi sudah meninggal, Appa! Ia akan tersiksa!”
“Biar saja! Orang seperti itu pantas merasakannya.”
“Appa!” bentakku.
“Kau berani membentak Appa?!” ia terkejut.
“Ne! Selama yang aku lakukan benar, aku tidak akan segan-segan membentak siapapun!”
“Kim Hyuna!” Appa berteriak.
“Mwo?! Hanya karena satu masalah saja, Appa dan Ahjussi bertengkar sampai seperti ini. Bahkan saat Ahjussi meninggal Appa tidak mengizinkan kami berkunjung! Mereka keluarga kita, Appa!”
PLAAKKK!
Tamparan appa mendarat di pipiku.
“Yeobo!” teriak eomma. Ia menghampiriku.
“Kenapa kau menamparnya seperti itu?” tanyanya marah pada appa. Sedangkan aku menatap marah pada appa.
“Kau tidak seharusnya membela anak kurang ajar ini!”
“Appa yang kurang ajar!” seruku.
“Hyuna!” bentak eomma.
“Apa perlu kusebutkan bahwa Appa menyuruh orang-orang suruhan Appa untuk membunuh Ahjussi?!”
Semua orang yang mendengarnya terkejut.
“Da, darimana kau tahu itu?”
“Tentu saja aku tahu! Aku tahu semua yang dilakukan Appa! Kenapa Appa membunuh ayah tiriku?!” air mataku mulai mengalir.
Appa tampak terkejut.
“Aku tahu semuanya! Jangan berpikir untuk menyembunyikan sesuatu dariku, Appa! Eomma kandungku, sudah meninggal, 3 tahun setelah bercerai dengan Appa karena Hyunshik Ahjussi. Oke, aku mengerti kebencian Appa pada Hyunshik Ahjussi. Tapi setelah Appa kembali bersatu dengan Eomma, kenapa Appa masih membencinya!”
PLAKK!
Appa kembali menampar pipiku.
“KIM HYUNA!” teriaknya.
“Aku benci Appa.” Kataku tegas, kemudian membawa koperku pergi.
“Hyuna-ah!” teriak eomma. Eomma menangis.
Aku memasukkan koper ke dalam mobil dan pergi ke Busan. Sepanjang jalan aku menangis, hingga akhirnya aku menghentikan mobilku di tengah jalan karena tidak kuat menahan emosiku. Aku menangis dan memukul-mukul setir hingga jendela mobilku diketuk. Aku menoleh. Changhyun. Aku membuka kunci mobil, Changhyun membuka pintu dan masuk.
“Kau kenapa, Hyuna-ah?” tanyanya khawatir.
Aku tidak menjawab.
“Boleh aku duduk di situ? Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat, kau pasti menyukainya.”
Aku mengangguk. Ia keluar dari mobil, aku pindah ke kursinya tadi. Ia masuk mobil dan membawaku pergi. Entah ke mana. Aku menutupi mataku karena aku menangis. Saat aku membuka mataku...
Changhyun tersenyum. Aku melepas seat belt dan keluar dari mobil. Aku bersandar pada pagar pembatas jalan. Menghadap ke laut. Seingatku, saat aku masih kecil dulu, eomma kandungku sering mengajakku kemari. Aku menatapnya heran.
“Kalau aku sedang stres, sedang punya masalah, aku selalu kemari. Berteriak sekeras-kerasnya adalah caraku untuk menghilangkan stres.” Katanya sambil tersenyum.
“YAAAAAAAAAAAAAHHHHH!!!!!!!!” teriakku. Air mataku mengalir deras. Changhyun menarikku ke dalam pelukannya.
Lama sekali ia memelukku, hingga akhirnya emosiku benar-benar reda. Tangisku sudah benar-benar berhenti. Aku melepaskan diri dari pelukan Changhyun. Tapi ia tidak benar-benar melepasku, ia tetap merangkulku. Kami bersandar di pagar pembatas itu.
“Gomawo,” kataku pelan.
“Cheonmaneyo.”
Hening. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Entah apa yang ia pikirkan, aku tidak peduli.
“Sebenarnya kau mau pergi ke mana?” tanyanya, memecah keheningan di antara kami.
“Busan.”
“Busan? Wae?”
“Aku ingin menemui seseorang...” aku menggantung kalimatku. Aku menoleh, menatapnya. Ia juga menatapku, menungguku melanjutkan kalimatku.
“Seseorang yang sangat berarti untukku.” Kataku. Aku ingin melihat reaksinya. Ia mengalihkan pandangannya dariku. Kulihat tangannya mengepal, gemetar.
“Kakak tiriku.” Kataku singkat. Sudah kutebak, Changhyun langsung menoleh padaku.
“Abeojinya, ayah tiriku, memiliki marga yang sama dengan appaku. Jadi marga kami sama-sama Kim.”
Ia mengangguk-angguk mengerti.
“Tidak usah cemburu.” Aku tertawa kecil.
“Siapa yang cemburu?” ia salah tingkah. Aku tertawa.
“Kkaja. Akan kuantar kau ke Busan.”
“Lalu bagaimana nanti dengan keluargamu?”
“Mereka di Mokpo.”
Aku mengangguk mengerti, lalu mengikutinya masuk mobil. Kami sampai di Busan sekitar pukul 7 malam. Aku sendiri tidak terlalu ingat di mana letak rumahnya, hingga kami sampai di depan sebuah rumah yang kuyakini sebagai rumah kakak tiriku.
Rumah ini agak kecil, tapi rapi dan terawat. Pintu pagarnya terbuat dari kayu, mirip rumah jaman dulu. Aku menekan bel yang berada di sebelah pintu pagar itu. Sudah malam, dan udara mulai dingin. Aku memeluk tubuhku sambil bersandar di tubuh mobil untuk menghangatkan tubuhku. Changhyun juga melakukan hal yang sama.
“Nuguseyo?” terdengar suara seorang namja. Spontan aku langsung berdiri tegak. Hatiku berdebar.
Pintu pagar terbuka. Seorang namja dengan celana panjang dan mengenakan jaket berwarna abu-abu keluar.
“Anda siapa?” tanyanya dengan senyuman ramah.
“Kim Ryeowook-ssi?” tanyaku yakin.
“Ne, saya Kim Ryeowook. Anda siapa?”
Aku tersenyum lega. Akhirnya aku menemukannya.
“Aku Kim Hyuna...” kataku. Ia tampak terkejut.
“Hyuna-ah? Nae dongsaeng?” tanyanya terkejut. Aku mengangguk cepat. Ia langsung memelukku, dan aku balas memeluknya.
“Masuklah,” katanya. Aku mengambil koperku di mobil dan berjalan masuk mengikuti Ryeowook oppa. Changhyun mengikuti di belakang, membantu membawakan koperku. Ia memaksa sih.
“Duduklah, aku akan membuatkan kalian teh hangat.” Katanya ketika kami sampai di ruang tamu, lalu ia berlalu ke dapur. Tak lama kemudian ia kembali dengan 2 cangkir teh hangan di tangannya.
“Gomawo,” kataku dan Changhyun.
Ryeowook oppa duduk di depan kami, menatap kami senang.
“Apa kalian sudah menikah?” tanyanya, sambil menunjuk kami berdua. Aku terbatuk karena terkejut.
“A, aniya!” elakku. Ryeowook oppa tertawa.
“Kalian berpacaran?” tanyanya lagi.
“Aniya! Dia bukan namja chinguku.” Kataku pelan. Takut menyinggung perasaannya. Kulirik Changhyun. Ia hanya tersenyum.
“Lalu kenapa datang bersama?”
“Ia bilang mau mengantarku.”
“Siapa namamu?” tanya Ryeowook oppa pada Changhyun.
“Yoo Changhyun imnida.”
“Kim Ryeowook imnida, aku kakaknya Hyuna.”
“Ngomong-ngomong, kenapa kalian tiba-tiba kemari?”
“Oppa sendirian di sini?” tanyaku, mengalihkan topik pembicaraan.
“Ne, sejak Abeoji meninggal 4 tahun yang lalu, aku tinggal sendirian di sini.”
“Mian aku tidak kemari saat itu,” kataku menyesal. Ia tersenyum, seakan mengatakan ‘tidak apa-apa’.
“Ayo kuantar ke kamarmu.” Ryeowook oppa berdiri.
“Kamarku dulu masih ada?”
“Tentu saja. Masih berwarna pink, kalau kau menanyakannya.”
Aku tersenyum senang. Aku berdiri dan mengikutinya ke kamarku. Aku berteriak senang saat memasuki kamar lamaku. Ryeowook oppa meletakkan koperku di sudut kamar. Changhyun juga masuk kamarku.
“Abeoji selalu menyuruhku untuk merawat kamar ini, kalau-kalau kau datang dan menginap.” Katanya. Aku tersenyum.
“Gomawo.” Aku terharu. Hyunshik ahjussi, maksudku abeoji, bahkan masih mengingatku.
“Ini kau saat masih kecil?” tanya Changhyun, memegang sebuah pigura di atas meja. Aku mendekatinya dan melihat foto apa yang ada di sana.
“Ne.” Jawabku singkat.
“Changhyun-ah, kau juga menginap, kan? Kau bisa tidur di kamar tamu. Ikut aku.” Ryeowook oppa keluar kamar, diikuti Changhyun yang menutup pintu kamarku. Aku terduduk di kasur yang ditutupi bed cover kesukaanku dulu. Berwarna pink dengan gambar barbie. Aku mengelus bed cover yang lembut itu. Dan tiba-tiba aku bisa merasakan kenyamanan yang sangat kusukai. Kenyamanan yang kurasakan saat eomma kandungku berada di dekatku.
“Eomma,” panggilku. Air mataku menetes. Aku yakin ia berada di sini, di kamar ini, di dekatku.
“Bogoshipeo,” kataku lirih.
Aku berbaring di kasur dan menutupi tubuhku dengan bed cover itu. Dalam beberapa menit, aku tertidur.
...
“Eomma, lihat ikan-ikan itu!” seru seorang gadis cilik.
“Jangan ke sana, Hyuna! Licin! Nanti kau jatuh!” seru eommanya memperingatkan. Tapi Hyuna tidak mempedulikan peringatan eommanya. Ia tetap ke sana, berjalan mendekati sungai yang berisi ikan-ikan itu.
“KYAAA!” teriak Hyuna. Ia jatuh karena batu-batu yang licin karena basah di sekitar sungai itu. Eommanya langsung berlari dan menyelamatkan Hyuna. Tapi ia sendiri malah tercebur di sungai.
“EOMMA!” teriak Hyuna ketakutan.
“Eomma!” teriak oppanya panik.
“Hyemi-ah!” teriak abeoji mereka panik.
Sementara Hyemi atau eomma Hyuna, menjauh dibawa arus sungai dengan senyum. Seakan ia rela mati asalkan Hyuna, putri kecilnya.
“Eomma!” panggil Hyuna lagi.
“Eomma!” aku terbangun. Hanya mimpi. Semua itu hanya mimpi. Aku memeluk kakiku dan menangis. Semua ini terasa begitu berat dan sakit.
...
“Annyeonghaseo.” Sapaku sambil membuka pintu kamar.
Ryeowook oppa dan Changhyun sedang meletakkan peralatan makan di ruang keluarga. Mereka tersenyum saat melihatku.
“Hoodie yang bagus.” puji Changhyun ketika melihat hoodie yang kupakai.
“Gomawo,” kataku sambil tersenyum kecil. Aku duduk di sebelah Changhyun.
Hoodie yang kupakai berwarna biru muda bertuliskan Kim Hyuna dengan huruf Korea di bagian depannya.
“Japchae!” seruku girang ketika melihat Ryeowook oppa meletakkan semangkuk besar japchae di meja.
Dengan cepat, aku mengambil sumpit dan menuangkan 2 sendok sayur japchae ke mangkukku dan memakannya dengan cepat. Sadar bahwa Ryeowook oppa dan Chanhyung memperhatikannya, ia balas menatap kedua namja di hadapannya tersebut.
“Wae? Ada yang salah dengan cara makanku?” tanyaku sinis.
“Ani, ani.” Kata mereka hampir bersamaan, dan langsung memakan makanan mereka.
“Hyuna, Changhyun, nanti tolong kalian bantu aku menyapu daun-daun yang gugur.” Kata Ryeowook oppa setelah kami selesai makan.
“Ne.” Jawabku dan Changhyun.
Aku beranjak ke kamarku, mengganti celana ¾ku dengan celana jins hitam yang kukenakan kemarin. Udara hari ini sangat dingin. Mungkin karena ini musim gugur dan sudah hampir musim dingin.
Aku keluar kamar dan langsung keluar. Changhyun sedang memakai sepatunya. Ia tersenyum melihatku. Aku tersenyum padanya dan memakai sepatuku. Aku mengambil sapu di gudang dan mulai menyapu. Begitu juga dengan Changhyun.
Entah kenapa, sejak kami tiba di rumah ini, aku dan Changhyun menjadi canggung. Kami hanya tersenyum, dan jarang berbicara. Jujur saja, keadaan ini cukup membuatku sedih.
“Hyuna-ah!” panggil Changhyun. Aku menoleh.
“Kyaa!” teriakku. Changhyun melempar daun-daun itu padaku.
“Yaaah!” teriakku kesal.
“Rasakan ini!” aku melempar daun-daun itu padanya.
“Hei, hei, itu kotor!” Changhyun berusaha menghentikan usahaku melemparnya dengan daun.
“Kalau sudah tahu kotor kenapa melemparku dengan daun-daun ini juga?!”
Aku kembali menyapu dengan kesal. Setelah selesai, aku duduk di tangga teras. Changhyun duduk di sebelahku.
“Mwo?!” tanyaku ketus.
“Mianhae,” katanya tulus.
“Aku hanya mencoba bercanda denganmu. Aku tidak suka kalau kita menjadi canggung begini. Tak kukira kau akan marah.” Jelasnya.
“Ne.”
“Mwo?”
“Ne, aku memaafkanmu.”
“Bagaimana kalau setelah ini kita jalan-jalan? Cukup di sekitar sini saja, sepertinya kemarin aku melihat taman.”
“Oke. Aku akan bilang Oppa dulu.” Aku beranjak masuk.
“Oppa!” panggilku. Aku berjalan ke kamarnya. Tidak ada.
“Di mana dia?” tanyaku pada diriku sendiri.
“Wae?” aku menoleh terkejut. Ryeowook oppa berdiri di depanku dengan wajah bingung.
“Oppa! Oppa mengagetkanku!”
“Mianhae. Ada apa?”
“Aku mau berjalan-jalan dengan Changhyun. Di sekitar sini saja.”
“Jangan lupa bawa kunci. Oh, aku sudah memberikan kuncinya pada Changhyun.” Katanya, lalu masuk ke kamarnya.
“Wae? Oppa mau pergi ke mana?”
“Bekerja. Kau pikir aku tidak bekerja?”
Aku meringis.
“Baiklah, Oppa. Aku pergi dulu.”
“Ne. Hati-hati di jalan!”
“Ne!”
Aku keluar dan memakai sepatu.
“Bagaimana?” tanya Changhyun.
“Boleh. Ayo!”
Kami berdua berjalan keluar, menuju taman yang dimaksud oleh Changhyun. Benar saja, tidak jauh dari rumah Ryeowook oppa, ada sebuah taman yang cukup luas. Ada sebuah air mancur di tengahnya, menambah keindahan taman itu. Beberapa orang terlihat sedang bersantai di sana. Yang sendiri, maupun yang berdua dengan pasangannya.
“Hyuna-ah, ayo kita duduk di sana.” Ajak Changhyun. Selama perjalanan ia menggenggam tanganku. Kami duduk di salah satu kursi taman di taman itu.
Seorang namja kecil yang menggandeng tangan seorang yeoja kecil berjalan di depan kami. Aku tidak melepaskan pandanganku dari keduanya.
“Hyuna, wae?” pertanyaan Changhyun membuyarkan lamunanku.
“Ne?”
“Ada apa? Kenapa kau terus memperhatikan mereka?”
“A, ani.” Jawabku singkat.
“Aku mau membeli kopi di sana, kau mau juga?” Changhyun menunjuk sebuah kedai yang terletak tidak jauh dari kami.
“Coklat panas satu.” Pintaku. Ia mengangguk dan meninggalkanku.
Aku mengeluarkan ponselku. Aku selalu membawanya meskipun selalu kumatikan. Aku menyalakannya. Ponselku langsung berdering beberapa kali dengan cepat. Banyak pesan masuk dan hampir semuanya dari Kibum oppa. Beberapa dari Siwon, dan beberapa dari Seohyun. Isinya pun sama, menanyakan keberadaanku. Tapi sebuah pesan Siwon menarik perhatianku.
Kau di mana? Aku sangat khawatir L
“Ini coklat panasmu.” Changhyun menyodorkan segelas coklat panas. Refleks aku memasukkan ponselku ke saku hoodie.
“Ne?”
“Ini coklat panasmu.”
“Oh, gomawo.” Kataku sambil menerima gelas itu. Aku meminumnya sedikit. Aku sangat berdebar. Apa Changhyun sempat membaca pesan itu?
“Sepertinya kau sangat gugup. Ada apa?” tanya Changhyun.
“A, ani. Tidak ada yang kusembunyikan darimu.” Kataku mengelak.
“Aku tidak bertanya apakah ada yang kau sembunyikan dariku, tapi kau malah menyebutkannya. Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?”
Aku menggeleng cepat. Tepat saat itu ponselku berbunyi. Aku selamat. Aku beranjak dan menjauh dari Changhyun untuk mengangkat telepon.
“Yoboseyo.” Sapaku tanpa melihat siapa yang menelepon.
“Akhirnya kau mengangkat teleponku.” Kata Siwon lega.
“O, Oppa?!”
“Wae? Kau tidak suka aku meneleponmu?”
“Bukan begitu, Oppa.”
“Sudahlah, itu tidak penting. Di mana kau sekarang? Aku sangat khawatir padamu.”
“Ne?”
“Di mana kau sekarang?”
Aku terdiam. Gugup, cemas, takut.
“Kau tidak mau memberitahu keberadaanmu padaku?”
Aku masih diam.
“Hyuna! Kau tahu aku sangat khawatir padamu! Jebal, Hyuna, beritahu aku di mana kau berada,”
“Mian, Oppa. Aku tidak bisa,”
“Hyuna, mungkin kau kecewa, tapi, pernikahanku dimajukan hingga besok. Besok pukul 11 siang, di Seoul Convention Center. Kau akan datang, kan?”
“Ne. Pasti, Oppa.”
Aku menutup telepon dan mematikan ponsel. Aku menyimpannya di saku hoodie dan menghela nafas, lalu kembali duduk di sebelah Changhyun. Entah kenapa tidak ada rasa seih ataupun rasa sakit hati mendengar pernyataan Siwon tadi.
“Siapa yang menelepon?” tanya Changhyun.
“Kibum Oppa.” Aku berbohong.
“Ngomong-ngomong, mulai sekarang kau panggil aku Ricky saja.”
“Ricky? Wae?”
“Aku lebih suka dipanggil Ricky.”
“Hanya itu?”
“Ne.”
“Geurae, aku akan memanggilmu Ricky.”
“Dan mungkin kau juga harus memanggilku oppa.”
“Mwo? Wae?! Shireo!”
“Aku lebih tua setahun daripada kau tahu!”
“Ne? Kalau begitu kenapa kita bisa seangkatan?”
“Em, aku pernah tidak naik kelas dulu. Dan jangan beritahu siapapun!”
“Mwo? Tapi, bukankah saat kelulusan, di jurusanmu nilaimu yang paling tinggi?”
“Karena setelah kejadian itu aku belajar keras.”
Aku mengangguk-angguk mengerti.
“Bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke Busan Tower?” ajakku.
“Busan Tower? Mau apa ke sana?”
“Katanya, pemandangan dari atas sana kalau malam indah sekali.”
“Aku akan menghubungi temanku.”
“Mwo? Temanmu? Kau juga punya teman di sini?”
“Teman SMPku. Ia bekerja sebagai petugas keamanan di Busan Tower.”
Aku mengangguk-angguk mengerti. Changhyun tampak menahan tawa melihatku.
“Wae?” aku mendorong lengannya pelan.
“Kau lucu.” Ia tertawa.
“Apanya yang lucu?”
“Saat kau mengerti, kau selalu mengangguk, itu lucu.”
“Fine!” seruku kesal. Aku beranjak ingin meninggalkannya, tapi ia menahan tanganku jadi aku terduduk lagi.
“Mian, tapi itu terlihat manis, kok.” Ia tersenyum. Pasti mukaku merah sekarang.
Chu~
Ia mencium pipiku. Mukaku memerah. Tiba-tiba kehangatan menjalari tubuhku. Padahal dari tadi aku berusaha melawan dingin yang menembus hoodieku.
“Kau sangat manis,” pujinya sambil tersenyum, tepat di telingaku.
“Ayo kita pulang. Udara semakin dingin,” ia menggandeng tanganku dan mengajakku pulang. Dan tiba-tiba, aku sungguh merasa nyaman berada di dekatnya.
...
Pukul 12 malam. Busan Tower sudah sepi. Hanya tinggal kami berdua, dan seorang penjaga tower yang berjaga di dekat pintu masuk. Karena Changhyun sudah mengenal dekat penjaga tower itu, maka kami diizinkan masuk dan tinggal sampai larut malam. Kami juga sudah izin pada Ryeowook oppa.
“Pemandangan di sini sangat indah, bukan?” tanya Changhyun di sebelahku. Aku tersenyum padanya.
“Ne, bahkan aku bisa merasakan aku terbang saat ini.” kataku.
“Apa hubungannya dengan terbang?”
“Maksudku, tower ini kan tinggi, jadi aku serasa terbang, dan melihat semua pemandangan indah ini.”
“Denganku.”
“Ne, denganmu.” Aku tersenyum.
“Sudahkah kau menemukan jawabannya?” tanya Ricky.
“Jawaban apa?” aku berpura-pura tidak tahu.
“Maukah kau menjadi yeoja chinguku?”
Aku tersenyum lebar.
“Ne.”
Ia juga tersenyum, ia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“Gomawo,”
Chu~
Kurasa, yang satu ini tidak perlu kuceritakan pada kalian ^^
...
Tepuk tangan membahana ini salah satu aula di Seoul Convention Center. Siwon dan Seohyun telah mengucapkan janji suci mereka. Aku menahan tangis haru.
Siwon dan Seohyun sempat melirikku dan tersenyum padaku. Aku pun membalas senyuman mereka. Ya, mereka sangat serasi. Aku yakin suatu saat nanti mereka pasti akan saling mencintai. Sama seperti aku dan Changhyun, yang duduk di sebelahku ini.
“Tahun depan giliran kita, ya?” bisiknya di telingaku. Aku mengangguk cepat dan gembira.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar