Cast :
1. Tiffany Hwang
2. Shim Changmin
3. Jeong Yunho
Another Cast :
1. Super Junior
2. So Nyeo Shi Dae
3. SHINee
4. F (x)
Genre : family, relationship
“Mwo? Akan ada tetangga baru?” mata sipit Tiffany membulat karena terkejut. Taeyeon mengangguk.
“Namja atau yeoja?”
“Namja. Lumayan tampan sih,”
“Eonnie, aku akan bilang pada Teuk Oppa!”
“Aku belum selesai bicara! Teuk Oppa tetap lebih tampan daripada dia.”
Tiffany mendengus.
“Oya, bagaimana hubunganmu dengan Changmin Oppa?” tanya Taeyeon.
“Mwo? Kenapa Eonnie bertanya seperti itu?!”
“Aku harus bertanya, kan? Bagaimana kalau seorang Stephanie Hwang sakit hati karena Shim Changmin?”
“Eonnie, aku dan Changmin Oppa tidak ada hubungan apapun.”
“Tapi kau menyukainya.”
“Eonnie!”
Taeyeon tertawa kecil.
“Kalau kau terus memendam perasaanmu padanya, ia akan berpaling pada yeoja lain.”
“Eonnie, sudahlah. Ini kan bukan urusan Eonnie. Eonnie urus saja suamimu itu.”
“Ya sudahlah. Aku pulang dulu. Ngomong-ngomong, besok malam akan diadakan pesta penyambutan tetangga baru kita. Kami sudah merencanakannya. Kau undang Yunho Oppa dan Changmin Oppa, ya.” perintah Taeyeon.
“Kenapa tidak Eonnie saja?”
“Karena kau yang menyukai Changmin Oppa.”
“Eonnie!”
Taeyeon tertawa kecil.
“Annyeong!” pamit Taeyeon. Ia menutup pintu flat Tiffany dari luar. Tiffany membereskan 2 cangkir teh di meja dan pergi tidur.
Ryeowook P.O.V
Aku membawa kedua koper besarku menaiki tangga ke lantai 2. Apartemen ini terdiri dari 3 tingkat. Aku mendapat flat di lantai 2.
“Annyeonghaseo,” sapa seorang yeoja.
“Annyeonghaseo,” sapaku.
“Kau Kim Ryeowook, bukan?” tanyanya.
“Ne. Dan kau Taeyeon Noona, kan? Istri Leeteuk Hyeong?”
“Ne. Aku kira kau akan datang tadi pagi. Dan tolong jangan panggil aku noona. Aku lebih muda darimu.”
“Baiklah.”
“Eonnie!” panggil seorang yeoja yang baru datang. Ia memakai seragam pelayan restoran. Rambutnya yang panjang dikucir kuda.
“Fany! Kau sudah pulang?”
“Ne. Shift-ku hari ini kan hanya sampai siang, Eonnie.”
Yeoja yang dipanggil Fany ini menatapku heran. Dan Taeyeon sepertinya menyadarinya.
“Ini Kim Ryeowook, namja yang akan menempati flat di depan flatmu. Tetangga baru kita.” Jelas Taeyeon Noona.
“Ryeowook-ssi, ini Stephanie Hwang, hanya saja kami selalu memanggil Tiffany. Flatnya ada di depan flatmu. Kalau kau membutuhkan sesuatu, kau bisa bertanya padanya.” Jelas Taeyeon Noona lagi. dan yang kulihat, Tiffany menatap Taeyeon kesal.
“Bukan padaku. Kau bisa meminta tolong pada Yunho Oppa atau Changmin Oppa. Flat mereka ada di sebelah flatku.” Tiffany mengoreksi.
“Ryeowook akan meminta tolong padamu, lalu kau meminta tolong pada mereka. Begitu kan, Fany?”
“Ada apa menyebut namaku?” tanya seorang namja di belakang Tiffany. Ia tidak sendirian, seorang namja lain ada di belakangnya.
“Yunho Oppa!” Tiffany terkejut.
“Annyeong, Fany,” sapanya. Jadi ini yang namanya Yunho.
“Oh, apa kau yang akan menempati flat di depan flat Fany?” tanya yang satu lagi.
“Ne.” Jawabku.
“Ryeowook-ssi, perkenalkan, itu Jeong Yunho, dan itu Shim Changmin.” Terang Taeyeon, menunjuk mereka satu persatu.
“Kim Ryeowook imnida, “aku membungkuk memberi hormat.
“Ayo Ryeowook-ssi, kita ke atas. Akan kubawakan satu kopermu.” Namja yang bernama Yunho itu mengambil alih satu koperku dan membawanya naik. Tiffany mengikutinya, kemudian namja yang bernama Changmin itu. Kemudian aku mengikuti mereka.
“Oppa dari mana?” tanya Tiffany pada Yunho.
“Fitness.” Jawab Yunho singkat. Ia tersenyum kecil pada Tiffany.
“Ini flatmu, Ryeowook-ssi.” Yunho berhenti di depan flatku.
“Ne, gamsahamnida,” aku membungkuk.
“Tidak perlu sesopan itu. Kita semua di sini keluarga.” Yunho menepuk pundakku.
“Ne,” jawabku.
“Aku masuk dulu ya, Oppa. Annyeong,” Tiffany masuk flatnya.
“Kami juga masuk dulu, Ryeowook-ah. Annyeong,” Yunho masuk flatnya diikuti Changmin. Aku segera membuka pintu flatku dan masuk.
Tiffany P.O.V
Aku mengganti seragam kerjaku dengan hot pants berwarna putih dan kaus polos berwarna biru. Rambutku yang tadinya dikucir aku gerai. Setelah berganti baju aku langsung berbaring di kasur. Aku mengambil sebuah pigura di meja di sebelah kasurku. Fotoku dan Changmin Oppa terpampang di sana. Saat itu hari pertama aku pindah kemari, yaitu setengah tahun yang lalu. Aku langsung jatuh cinta padanya saat pertama kali bertemu dengannya. Sama seperti Ryeowook nanti, saat itu Teuk Oppa dan lainnya mengadakan pesta penyambutan untukku. Penghuni apartemen ini memang seperti keluarga. Mereka seperti keluarga kedua bagiku.
Saat itu, aku meminta Junsu Oppa memotret kami. Sebulan setelah aku tinggal di apartemen ini, 3 orang penghuni apartemen ini yaitu Jaejoong Oppa, Yoochun Oppa, dan Junsu Oppa keluar dan memilih tinggal di apartemen yang dekat dengan kantor mereka.
Ponselku berdering. Sebuah pesan masuk dari Changmin Oppa.
Bagaimana tadi? Kau meleleh kan melihat senyuman Yunho Hyeong :p
Aku tersenyum miris. Changmin Oppa mengira aku menyukai Yunho Oppa. Memang saat itu aku berbohong padanya. Ia mendengar aku curhat pada Taeyeon Eonnie. Dia bertanya padaku, jadi aku berbohong aku menyukai Yunho Oppa. Tidak mungkin aku mengatakan yang sejujurnya, kan?
Tentu saja :p Oppa nanti malam akan diadakan pesta penyambutan Ryeowook-ssi. Oppa dan Yunho Oppa akan datang kan?
Aku menunggu beberapa detik untuk balasannya.
Berkunjunglah ke flatku dan beritahu Yunho Hyeong :p aku tidak akan menjawab sebelum kau kemari :p
Aku menghela nafas. Tapi akhirnya aku keluar dan mengetuk pintu flat Yunho Oppa dan Changmin Oppa juga.
“Nuguseyo?” terdengar suara Yunho Oppa.
“Oh, Fany. Ada apa? Masuklah!” ia membuka pintu lebih lebar, membiarkanku masuk. Aku masuk dan mendapati Changmin Oppa duduk di ruang keluarga dengan senyum mengejek. Aku menatapnya sinis.
“Kau mau minum apa, Fany?” tanya Yunho Oppa, berlalu ke dapur.
“Es sirup?” aku mengikutinya dan duduk di bar mini. Inilah salah satu hal yang kusuka dari apartemen ini. Di setiap flatnya pasti ada bar mini. Tapi bukan berarti di setiap kamar ada soju atau minuman keras lainnya.
“Baiklah.” Dengan cepat ia membuatkan segelas es sirup rasa jeruk untukku.
“Gomawo, Oppa,” kataku ketika ia meletakkan gelas itu di depanku.
“Oh ya, Oppa, nanti malam ada pesta penyambutan Ryeowook-ssi. Oppa akan datang, kan?” tanyaku.
“Ne, tentu saja. Tapi kau juga harus datang,” katanya sambil tersenyum.
“Kalau Hyeong datang, Fany pasti datang, Hyeong!” seru Changmin.
“Oppa!” seruku kesal.
“Apa maksudmu?” tanya Yunho Oppa.
“Ani, tidak ada.” Jawabku.
“Baiklah, Oppa. Aku kembali dulu ke flatku.” Pamitku.
“Sampai ketemu nanti malam, Fany.” Kata Yunho Oppa. Aku tersenyum padanya, kemudian masuk flatku. Sesaimpainya di flat, ponselku berbunyi. Sebuah pesan baru dari Changmin Oppa.
Ternyata kau berani juga :p
Aku segera membalasnya.
Oppa meremehkanku?!
Aku menyalakan tivi. Tidak ada acara yang bagus. Karena lelah, aku pun tertidur.
Changmin P.O.V
“Hyeong!” panggilku tidak sabar.
“Ne?” Yunho Hyeong menyahut dari dalam kamar mandi.
“Cepat mandinya, Hyeong! Kita sudah hampir terlambat!”
“Sebentar lagi!”
Aku mendesah, lalu duduk di sofa. Yunho Hyeong paling cepat mandi 1 jam. Aku mengecek ponselku. Aku belum membalas pesan Tiffany tadi siang. Aku tidak tahu mau bilang apa. Aku tidak meremehkannya. Ia sendiri yang beranggapan begitu.
Aku menelepon Tiffany. Tidak butuh waktu lama, ia mengangkat teleponku.
“Yoboseyo.” Sapanya. Ia terdengar malas berbicara denganku.
“Yah! Kenapa sepertinya kau malas sekali berbicara denganku?”
“Aku memang malas berbicara denganmu, Oppa.” Akunya.
“Aku akan memberitahu Hyeong. Hyeong!!” panggilku.
“Andwae! Oppa, jebal, andwae. Jangan beritahu dia.”
“Kalau begitu jangan malas berbicara denganku.”
“Iya, iya! Ada apa? Kenapa meneleponku?”
“Kau sudah siap?”
“Oppa menelepon hanya untuk menanyakan itu?”
“Tidak juga. Kau sudah siap?”
“Sudah.”
“Kau mau Yunho Hyeong menjemputmu, bukan?”
“Ya, tentu saja. Tapi apa dia mau?”
“Kalian kan sangat dekat. Nanti kita berangkat bersama. Tunggu kami, ya?”
“Hem, baiklah. Kita juga akan berangkat bersama Ryeowook-ssi, kan?”
“Wae? Kau mulai menyukainya?”
“Ani! Kurasa ia belum tahu letak kolam renang. Taeyeon Eonnie juga menyuruh kita berangkat bersamanya.”
“Kau mengada-ada.”
“Kalau tidak percaya tanya saja pada Taeyeon Eonnie! Teuk Oppa juga menyuruhku!”
“Sudahlah. Aku tidak mau bertengkar denganmu.”
“Ya sudah. Aku tutup teleponnya.” Ia menutup telepon.
“Yah! Fany!” percuma saja aku berteriak. Tiffany telah menutup teleponnya.
Aku memandangi sebuah kado di meja di depanku. Kado yang kusiapkan untuk Tiffany. Hari ini ia ulang tahun. Aku juga mengatakan pada Leeteuk Hyeong supaya sekalian mengadakan pesta ulang tahun Tiffany.
“Aku sudah siap.” Yunho Hyeong tiba-tiba muncul, membuatku terkejut.
“Yah, Hyeong! Kau membuatku terkejut!”
“Salah sendiri kau melamun. Ayo, nanti yang lain menunggu. Itu kadomu untuk Fany? Kecil sekali.”
“Ini kado dariku dan bukan kado dari Hyeong kenapa Hyeong mempedulikannya?” aku memasukkan kotak itu ke dalam sakuku.
Ting tong!
Bel berbunyi.
“Nuguseyo?” tanyaku dari dalam. Aku membukakan pintu.
“Oppa!” Jessica berdiri di depan flatku dengan mambawa kue tar. Kuenya berwarna pink, dan dihiasi potongna buah stroberi. Nama Tiffany Hwang pun ditulis dengan warna pink. Semua itu karena Tiffany menyukai warna pink.
“Mana Krystal?” tanyaku.
“Kenapa Oppa menanyakan Krystal?” tanyanya sambil cemberut.
“Krystal dan yang lain sedang menyiapkan tempat pesta. Sudah siap sih, tinggal kue ini.”
“Lalu kenapa kuenya kau bawa ke sini? Ini kan kejutan untuk Tiffany!”
“Aku baru mau ke tempat pestanya. Seperti biasa, di tepi kolam renang, ya, Oppa! Sampai bertemu di sana!” Jessica berlalu.
“Changmin-ah.” Yunho Hyeong menepuk pundakku.
“Ayo, Hyeong. Sudah siap. Kau menjemput Tiffany, dan aku menjemput Ryeowook.” Aku berjalan menuju flat Ryeowook dan menekan bel.
“Nuguseyo?”
Pintu terbuka.
“Changmin-ssi?”
“Ryeowook-ah, ayo kita pergi!” ajakku.
“Ke mana?” tanyanya bingung.
“Pesta ulang tahun Tiffany dan pesta penyambutan untukmu.” Aku membisikinya.
“Aku siap-siap dulu, Hyeong.”
“Tidak usah, bajumu bagus!” ia memakai celana jins dan hem kotak-kotak hijau-biru.
“Baiklah.”
“Oppa, kenapa mataku ditutup?” terdengar suara Tiffany. Aku menoleh. Yunho Hyeong sedang menutup mata Tiffany dengan sapu tangannya.
“Sudahlah, diam saja. Nanti kuberitahu.”
Aku dan Ryeowook berjalan duluan ke kolam renang, sementara Yunho Hyeong dan Tiffany belakangan. Ini salah satu rencanaku untuk membantu mereka dekat.
“Oppa! Yunho Oppa dan Fany mana?” tanya Yoona.
Aku menunjuk ke belakangku. Benar saja, Yunho Hyeong dan Tiffany sedang berjalan dengan pelan di belakangku. Yunho Hyeong dengan sabar menuntun Tiffany kemari. Setelah sampai, Yunho Hyeong melepaskan sapu tangannya yang menutupi mata Tiffany.
DOR!
Bersamaan dengan itu, Sooyoung menusuk balon yang telah diisi kertas-kertas kecil warna-warni di atas kepala Tiffany.
“Saengil cukhae Tiffany!!!!” seru semuanya. Tiffany tampak terkejut dan senang.
“Sekarang ucapkan permohonanmu dan tiup lilinnya,” perintah Yunho Hyeong lembut.
Tiffany menutup matanya, mengucapkan permohonannya dalam hati. Kemudian ia membuka matanya dan meniup lilin. Terdengar sorakan semua orang di sini.
“Fany! Potong kuenya dan berikan potongan pertama untuk orang yang spesial!” seru Siwon dari barisan belakang.
“Itu benar! Tiffany, ayo potong kuenya! Ini pisaunya. Dan berikan potongan pertama itu padaku. Oke?” kata Sooyoung. Tiffany hanya tertawa. Aku tahu ia akan memberikan potongan kue pertamanya pada siapa.
Ia memotong kue itu, meletakkannya di sebuah piring kertas, dan memandang kami bergantian.
“Aku akan memberikan kue ini pada...” ia menggantungkan kalimatnya. Aku semakin yakin ia akan memberikan kue itu pada Yunho Hyeong.
“Changmin Oppa.” Aku langsung menatapnya terkejut. Ia menatapku sambil tersenyum.
“Terima kasih karena selama ini mau menjadi tempat curhatku,” katanya malu, lalu memberikan kue itu padaku.
“Cheonmaneyo,” kataku sambil menerima kue itu.
Semua orang bersorak. Aku tertawa kecil. Yunho Hyeong menepuk pundakku, memberi selamat. Aku hanya tertawa.
Author P.O.V
“Fany!” panggil Taeyeon.
“Ne?”
“Kau berani sekali!” puji Taeyeon. Tiffany hanya tersenyum.
“Fany Eonnie!” panggil Yoona. Tiffany melambai padanya.
“Saengil chukhae!” katanya sambil memeluk Tiffany.
“Gomawo,”
“Tolong perhatiannya!” Leeteuk berbicara melalui microphone. Suasana hening seketika.
“Pertama-tama, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk Tiffany. Saengil chukhae Tiffany! Dan kedua, aku ingin mengucapkan selamat datang pada Kim Ryeowook, anggota baru SM family!!!”
Tepuk tangan membahana. Karena mengantuk, Changmin meninggalkan pesta dan pergi ke flatnya. Ia meminum sekitar 3 cangkir kopi, kemudian turun. Pesta sudah selesai, sekarang semua sedang membereskan tepi kolam renang. Karena tidak ada kerjaan, Changmin pun membantu mereka.
...
Pesta sudah selesai. Tepi kolam renang yang menjadi tempat pesta pun sudah dibereskan dan sudah rapi. Tapi Tiffany masih berbaring di kursi panjang di tepi kolam renang. Ia memandang ke langit malam Seoul yang bertabur bintang.
“Belum tidur?” tanya Changmin. Tiffany menoleh. Changmin memakai celana pendek hitam dan jaket berwarna coklat. Ia duduk di kursi panjang di sebelah Tiffany dan ikut berbaring.
“Belum.” Jawab Tiffany singkat.
“Wae?”
“Aku tidak bisa tidur. Kalau Oppa?”
“Saat pesta tadi aku minum 3 cangkir kopi.” Changmin dan Tiffany tertawa.
“Siapa suruh Oppa minum kopi malam-malam begini?” Tiffany menyalahkan Changmin di tengah tawanya.
“Oya, kukira tadi kau akan memberikan potongan kue pertamamu pada Yunho Hyeong.”
“Oppa tahu alasanku memberikan kue itu pada Oppa, kan?”
“Tapi kau kan jarang curhat padaku.”
“Aku berbohong. Sebenarnya aku berterima kasih karena Oppa membantuku supaya dekat dengan Yunho Oppa.”
Yang tidak langsung membuat kita dekat, Oppa. Kata hati Tiffany. Ia menatap Changmin yang memandang langit sambil tersenyum. Berada di dekat namja itu selalu membuatnya tersenyum.
“Cheonmaneyo. Lagipula, Yunho Hyeong membuatku dekat dengan yeoja yang kusuka.”
“Mwo?!” tanpa sadar Tiffany berteriak. Changmin menatap Tiffany heran.
“Wae?”
“A, ani.” Tiffany mengalihkan pandangannya dari Changmin. Ia meremas jaketnya dengan perasaan marah karena cemburu.
“Boleh aku tahu... siapa yeoja itu?” tanya Tiffany lirih.
“Penghuni apartemen ini.” jawab Changmin sambil memandang langit, membayangkan wajah yeoja yang disukainya.
“Aku mau tidur.” Tiffany beranjak dan dengan setengah berlari ia naik ke flatnya. Changmin hanya menatap kepergian Tiffany dengan sedih.
“Yeoja itu... kau, Fany. Saranghae,” ucapnya lirih.
...
Suara kicauan burung di pagi musim semi membuat Tiffany terbangun dari tidurnya. Benda pertama yang dilihatnya adalah fotonya dan Changmin di pigura di meja di sebelah kasurnya. Perasaan itu kembali. Cemburu, marah, sekaligus sedih.
Ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari Taeyeon.
Dear all members of SM Family, pagi ini sarapan di aula, ya! Sarapan bersama di pagi musim semi pasti sangat indah! Sarapan pukul 06.30. Sampai jumpa di sana!
Tiffany tersenyum kecil. Ia beranjak dari kasurnya dan mandi. Ia memakai jins putih panjang dan tank top garis-garis putih-hitam. Rambut panjangnya digerai.
Tiffany melihat jam. 10 menit lagi pukul 06.30. Ia membawa ponselnya dan memakai sandal jepit dan keluar dari flat. Tepat saat itu, Changmin dan Yunho juga baru keluar dari flat mereka. Tiffany hanya menatap mereka datar, sementara kedua namja yang ditatapnya menatapnya sambil tersenyum. Tiffany tersenyum tipis, kemudian turun lebih dulu.
“Fany!” panggil Yunho, ia menyusul Tiffany. Sementara Changmin hanya menatap kosong ke depan. Ia heran dengan sikap Tiffany yang tiba-tiba berubah. Kemudian ia teringat dengan percakapannya dengan Taeyeon semalam, di pesta.
FLASHBACK
“Ada yang ingin kubicarakan dengan Oppa.” Kata Taeyeon.
“Ada apa?”
“Sebenarnya bagaimana perasaan Oppa terhadap Fany?”
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Tidak, aku ingin tahu saja.”
“Ia sudah seperti dongsaengku.” Bohongnya. Taeyeon menatapnya curiga.
“Memangnya kenapa?” tanya Changmin.
“Tidak, aku hanya mau bertanya, karena akhir-akhir ini aku lihat kalian cukup dekat. Oppa tahu tidak siapa namja yang disukai Fany? Karena kalian dekat, jadi mungkin Oppa mengetahuinya.”
“Yunho Hyeong. Fany menyukai Yunho Hyeong.”
“Begitukah? Oh, baiklah.” Taeyeon mengalihkan pandangannya dari Changmin, kemudian pergi. Changmin terlihat bingung. Bukankah Tiffany dan Taeyeon sangat dekat? Seharusnya Taeyeon juga tahu siapa yang disukai Tiffany. Kebingungannya itu terjawab sesaat setelah pesta selesai.
“Kau salah, Oppa.” Kata Taeyeon, lalu pergi meninggalkan Changmin yang heran dengan ucapan Taeyeon itu.
FLASHBACK END
Ucapan Taeyeon itu, ditambah sikap Tiffany yang berubah, benar-benar membuat Changmin kebingungan. Akhirnya ia turun menuju aula.
Taeyeon P.O.V
“Mwo?! Kau akan pergi ke Amerika?!” aku terkejut. Aku tidak menyangka Tiffany akan pergi.
“Ne. Aku ingin pulang, aku ingin bertemu dengan keluargaku, Eonnie. Aku merindukan mereka,” kata Tiffany lirih.
“Tapi, bagaimana dengan Changmin Oppa?”
“Jangan menyebut namanya lagi, Eonnie. Ia sudah menyukai seorang yeoja. Aku tidak mungkin mendapat tempat di hatinya.”
“Tapi...”
“Eonnie, ini sudah keputusanku. Aku akan pulang ke Amerika. aku sudah mendapat tiketnya. Aku juga sudah memberitahu keluargaku di sana.”
“Fany, kau akan kembali ke sini, kan?”
“Entahlah, Eonnie.”
Ting tong!
Berl berbunyi. Taeyeon cepat-cepat membuka pintu.
“Seohyun-ah! Wae?”
“Ada kejutan di aula! Ayo, Eonnie, cepat!” ajak Seohyun. Ia terlihat sangat gembira, lalu ia berlari turun.
“Fany, ayo ke aula!” ajak Taeyeon.
“Ada apa, Eon?” tanya Tiffany.
“Entahlah.”
Mereka berdua turun dan langsung ke aula. Mereka terkejut ketika sampai di aula.
“Taeyeon!” panggil eomma dan appa Taeyeon. Taeyeon langsung berlari memeluk kedua orang tuanya tersebut. Tiffany hanya bisa terpaku melihatnya. Semua orang tua teman-temannya di So Nyeo Shi Dae, yang beranggotakan Taeyeon, Jessica, Sunny, dirinya sendiri, Hyoyeon, Yuri, Sooeyoung, Yoona, dan Seohyun, berkumpul semua di aula. Mereka menamakan diri mereka So Nyeo Shi Dae sejak lagu dengan judul yang sama itu populer, 3 bulan yang lalu. Orang tua mereka pun dekat.
Tiffany duduk di kursi di pojok aula. Semua temannya itu sedang melepas rindu bersama kedua orang tua mereka, dan saudara-saudara mereka. Hanya ia yang sendirian. Dan ini membuatnya sangat sedih. Diam-diam, ia menyelinap keluar dan duduk di tepi kolam renang.
Siwon P.O.V
“Fany!” panggilku.
“Siwon Oppa?”
Aku duduk di depannya.
“Kenapa kau kelihatannya sedih sekali?” tanyaku.
“Orang tua teman-temanku datang.” Jawabnya singkat, yang membuatku heran.
“So Nyeo Shi Dae? Ya, orang tua mereka memang datang. Lalu kenapa kau ada di sini?”
Bodohnya aku. Aku lupa kalau keluarga Tiffany berada di Amerika, dan eommanya...
“Mian, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.” Kataku cepat. Ia hanya tersenyum kecil.
“Gwaenchanayo.” Kata Tiffany pelan. Tapi tiba-tiba ia menutup matanya dengan kedua tangannya. Ia menangis. Aku hanya bisa mengelus punggungnya, berharap ia segera berhenti menangis.
“Oppa!”
Aku langsung menoleh mendengar suara yang sangat kukenal itu.
“Fany, kau kenapa menangis? Fany, sudahlah. Siwon Oppa jahat padamu, ya?” tanya Yuri lembut pada Tiffany. Aku menatap Yuri kesal. Di saat seperti ini bagaimana bisa ia menyalahkanku?
“A, ani. Aku ke flatku saja.” Fany bangkit dan langsung berlari.
“Fany!” Yuri hendak mengejar Tiffany, tapi aku menahan tangannya.
“Biarkan ia sendiri dulu, mungkin ia akan merasa lebih tenang.” Kataku. Yuri hanya bisa menatap kepergian Tiffany dengan sedih.
Yunho P.O.V
Aku berjalan ke ruang fitness sendirian. Biasanya aku bersama Changmin, tapi karena Changmin ada pekerjaan sekarang jadi ia tidak di rumah.
“Aigo!” teriakku. Seseorang menabrakku.
“Mianhaeyo,” katanya lirih.
“Fany?” aku terkejut. Ia menangis.
“Kau kenapa?” tanyaku khawatir. Aku memegang kedua pundaknya.
“Gwaenchanayo. Lepaskan aku, Oppa.”
“Tidak mungkin kau tidak apa-apa sementara kau menangis begitu. Ayo kita ke flatmu, tenangkan dirimu dan ceritakan padaku apa masalahmu.” Aku menuntunnya ke flatnya. Begitu masuk, kududukkan ia di sofa. aku berlalu ke dapur dan mengambilkannya segelas air putih. Aku kembali ke ruang tivi. Aku meminumkannya air itu.
“Sekarang kau merasa lebih tenang?” tanyaku lembut. Ia mengangguk pelan.
“Ada apa sebenarnya?”
“A, aku... aku rindu eomma,” katanya lirih.
“Saat ini orang tua Taeyeon Eonnie, Sica Eonnie, Sunny Eonnie, Hyoyeon, Yuri, Sooyoung, Yuri, dan Seohyun sedang berkumpul di aula. Hanya orang tuaku yang tidak. Melihat mereka berpelukan dengan eomma mereka, dengan appa mereka, dengan saudara mereka, itu membuatku iri, Oppa. Keluargaku berada di Amerika. Dan Eomma...” ucapan Tiffany terputus karena aku memeluknya. Ia menangis lagi.
“Menangislah, Fany. Menangislah sampai kau tidak sedih lagi, sampai kau puas.”
Tiffany menangis sampai terisak-isak di pelukanku. Aku tidak rela membiarkannya sedih begini. Ia sudah seperti adik bagiku.
“Oppa, kau bisa melepaskan pelukanmu sekarang.” Kata Tiffany. Aku melepaskan pelukanku. Ia sudah berhenti menangis. Aku mengelus rambutnya.
“Kalau kau sedang sedih, datanglah padaku. Aku akan selalu ada untukmu, saeng.”
“Oppa menganggapku sebagai adik Oppa?”
“Ne. Apalagi?”
Ia tersenyum dan menggeleng.
“Ani. Aku suka itu. Mulai sekarang, Oppa adalah oppaku.” Katanya. Aku tersenyum, hingga pandanganku jatuh pada sebuah pigura di sebelah tivi. Aku beranjak dan mengambil pigura itu.
“Kau dan Changmin?” tanyaku padanya. Ia hanya meringis.
“Apa yang kau sembunyikan dariku?” tanyaku dengan pandangan menyelidik.
“Sebenarnya...”
...
Aku duduk di kasurku. Aku tidak habis pikir dengan Tiffany. Ia berbohong pada Changmin bahwa ia menyukaiku karena Changmin mendengar ia curhat pada Taeyeon tentang perasaannya, padahal sebenarnya ia menyukai Changmin. Dan Changmin membantu Tiffany agar bisa dekat denganku.
“Hyeong, aku pulang!” seru Changmin dari luar. Aku segera beranjak.
“Meetingmu baru selesai?”
“Iya. Aduh, lelahnya.” Ia duduk di sofa.
“Hyeong, buatkan aku es kopi, ya?” pintanya. Aku terkekeh. Bagaimana bisa Tiffany menyukai Changmin yang manja ini?
“Oke, oke. Tunggu sebentar, Saeng.” Aku berlalu ke dapur. Tak lama kemudian aku kembali dengan segelas es kopi di tangan.
“Tumben kau baik sekali, Hyeong.” Ucapnya setelah meminum es kopiku.
“Hyeongmu ini memang baik dari dulu, Changmin-ah. Kau saja yang tidak menyadarinya.” Aku tertawa.
“Ngomong-ngomong, sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Fany?” tanyaku. Changmin terkejut hingga ia tersedak.
“Minum itu pelan-pelan!” marahku.
“Yah, siapa suruh Hyeong bertanya seperti itu!” ia menyalahkanku.
“Sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Fany?” tanyaku lagi. Ia terlihat gugup.
“Ia, ia seperti adik bagiku. Kenapa memangnya, Hyeong?”
Aku menatap matanya dengan curiga. Ia menyembunyikan sesuatu dariku.
“Kau menyukainya, kan?’
“Hyeong, aku tidak menyukainya! Ia seperti adik bagiku!”
“Ani. Aku melihat sesuatu yang lain di matamu. Kau mencintainya, kan? Jangan coba-coba berbohong padaku.”
“Ani! Aku benar-benar hanya menganggapnya sebagai adikku, Hyeong! Sudahlah, aku lelah. Aku ingin tidur.” Changmin beranjak menuju kamarnya. Aku masih menatapnya curiga.
Author P.O.V
“Makan siang bersama?”
“Ne. Makan siang bersamaku, di cafe 99. Bagaimana? Bisa, kan? Jebal, Fany...” pinta Yunho. Tiffany melihat jam tangannya.
“Lagipula cafe 99 juga tidak jauh dari restoran tempatmu bekerja. Ya, Fany? Jebal...”
“Baik, baik. Sekitar 10 menit lagi aku baru berangkat, karena aku baru bisa beristirahat tepat pukul 12 siang.” Kata Tiffany sambil melihat jam tangannya.
“Gomawo, Fany! Tiffany jjang!”
“Oppa ini childish sekali. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Annyeong!”
“Annyeong!”
Yunho menutup telepon. Rencananya berhasil.
...
Tiffany memasuki cafe 99. Matanya melihat ke sekeliling, mencari di mana Yunho berada.
“Agasshi, mencari seseorang?” tanya seorang pelayan.
“Ada namja bernama Jeong Yunho?” tanya Tiffany berharap, meskipun ia tahu tidak ada.
“Jeong Yunho? Ia sudah memesan tempat. Silakan kemari,”
Meskipun heran, Tiffany mengikuti pelayan itu ke ruang VIP. Tiffany terkejut. Dilihatnya Changmin duduk di meja di tengah ruangan itu. Sendirian! Tiffany mendekatinya ragu.
“Fany?” Changmin tidak percaya.
“Yunho Oppa mana?” tanya Tiffany, setelah duduk di depan Changmin.
“Ia tidak datang.” Kata Changmin kesal.
“Ne?”
“Ia tidak datang! Ini hanya rencana konyolnya saja.”
“Rencana? Kupikir ia hanya bercanda! Aigo, Oppa ini bagaimana sih?” keluh Tiffany.
“Maksudmu, kau tahu ia memesan ruang ini hanya untuk kita berdua?”
“Ani, mollayo.”
Hening. Suasana menjadi canggung. Seorang pelayan mengantarkan makanan mereka. Steak dan lemon tea ice.
Saat makan, ponsel Changmin bergetar. Ada pesan masuk dari Yunho.
Aku tahu kau mencintainya. Sekaranglah saat yang tepat. Katakan padanya kau mencintainya ;) tidak usah takut, ia tidak menyukaiku. Sebenarnya kau salah paham.
Changmin mendesah. Jadi ini rencana Yunho? Changmin menarik nafas dalam-dalam. tapi Yunho ada benarnya. Kenapa ia tidak mengungkapkan perasaannya saat ini juga? Tapi apa maksudnya selama ini ia salah paham?
Kemudian ia teringat dengan ucapan Taeyeon.
“Kau salah, Oppa.”
Ditambah sikap Tiffany yang berubah setelah tahu Changmin menyukai seseorang, dan ditambah dengan kalimat Yunho ini. Changmin berusaha menyimpulkannya. Tiffany menyukainya?!
“Fany,” panggilnya.
“Ne, Oppa?”
“Kau, kau masih menyukai Yunho Hyeong?” tanya Changmin hati-hati. Tiffany hanya tersenyum kecil dan meminum minumannya.
“Jawab yang jujur, Fany.”
“Kata oppadeul dan eonniedeul dan dongsaengdeul, Oppa adalah orang yang pintar. Tapi sepertinya Oppa tidak sepintar kelihatannya.” Kata Tiffany meremehkan Changmin.
“Apa maksudmu?”
“Dengan sikapku selama ini, apakah Oppa tidak bisa menangkap apa maksudku?” tanya Tiffany lirih. Changmin membulatkan matanya.
“Kau mencintaiku?” tanyanya ragu.
“Oppa baru sadar?” Tiffany melipat tangannya. Ia sudah tidak tahan lagi melihat kebodohan namja di depannya ini.
“Itu semua benar?”
“Ne. Tentu saja benar.”
“Kau mencintaiku?”
“Ne. Aku mencintai Oppa.”
“Lalu kenapa kau bilang kau menyukai Yunho Hyeong dulu?”
“Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, kan? Tapi kali ini aku mengatakannya karena Oppa ini bodoh.” Ejek Tiffany. Bukannya marah, Changmin malah tersenyum.
“Mianhae. Mianhae karena tidak bisa menangkap maksudmu selama ini,” katanya lembut. Ia mengeluarkan sekotak kecil yang sebenarnya menjadi hadiah ulang tahun Tiffany.
“Kau masih ingat yeoja yang kuceritakan malah itu? Di hari ulang tahunmu?” tanya Changmin.
“Yeoja yang Oppa cintai? Ne.”
“Yeoja itu kau, Fany.”
Mata Tiffany membulat. Ia tidak percaya akan apa yang dikatakan oleh Changmin.
“Oppa mencintaiku?” tanya Tiffany ragu.
“Seluas seluruh alam semesta.” Jawab Changmin mantap. Tiffany menatap Changmin terharu.
“Maukah kau menjadi yeoja chinguku?” Changmin membuka kotak itu. Cincin dengan pertama berwarna pink. Tiffany terpaku melihatnya.
“Untukku?”
“Kalau kau mau menjadi yeoja chinguku, akan kupasangkan untukmu. Kalau tidak, tutup saja kotaknya.”
“Pasangkan cincin ini di jariku.” Tiffany mengulurkan tangannya.
“Bukan karena warnanya pink, kan?” tanyaku jahil.
“Bukan! Ya, itu salah satunya. Tapi, alasan yang paling utama adalah, aku mau menjadi yeoja chingu Oppa.” Jawabnya sambil tersenyum. Aku juga tersenyum. Aku memasangkan cincin itu di jarinya.
“Jangan dilepas, Fany. Jangan pernah.”
“Aku harus melepasnya saat aku bekerja.” kata Tiffany polos.
“Tentu saja!” aku tertawa. Setelah tawaku berhenti, aku menatapnya dengan serius.
“Saranghae, Fany.” Aku mencium tangannya.
“Nado, Oppa.”
“WUHUUUUU!” terdengar sorakan banyak orang. Para penghuni SM Apartment muncul dari persembunyian mereka (?).
“Akhirnya, pasangan baru kita!” seru Yoona.
“Kalian ini childish!” kata Yuri.
“Romantis sekali!” komentar Hyoyeon.
“Kapan kalian akan menikah?” pertanyaan Leeteuk membuat semua diam, kemudian tertawa.
“Oppa, mereka baru saja berpacaran dan Oppa bertanya kapan mereka akan menikah?” Taeyeon geleng-geleng kepala.
“Tapi, berterima kasihlah pada Yunho yang telah merencanakan ini semua untuk kalian!” seru Leeteuk. Yunho yang dari tadi bersembunyi di barisan paling belakang dan mengobrol bersama Siwon dan Sungmin terkejut mendengar namanya dipanggil. Tiffany berdiri dan memeluk Yunho.
“Gomawo, Oppa,” katanya.
“Cheonmaneyo, Saeng.” Kata Yunho.
“Fany, kau tidak akan pergi ke Amerika kan?” bisik Taeyeon.
“Tidak, Eonnie. Keluargaku ada di sini, kenapa aku harus pergi?”
Taeyeon tersenyum.
“Bagus.”
Tiffany memeluk eonnienya yag paling ia sayang itu.
“Eonnie sudah seperti eomma bagiku. Aku sayang Eonnie,”
“Aku juga sayang padamu, Fany. Yang pasti, jika kau ada masalah, jangan dipendam sendiri. Kita semua keluarga, harus saling berbagi, kan?” Taeyeon menghapus air mata Tiffany yang hampir jatuh. Tiffany mengangguk.
Acara itu pun diakhiri dengan foto bersama yang meriah. Mereka meminta bantuan pelayan cafe untuk memotret mereka semua bersama-sama, lalu masing-masing dari mereka yang berpacaran, seperti Yuri-Siwon, Seohyun-Kyuhyun, Hyoyeon-Eunhyuk, Sunny-Sungmin, Yoona-Kibum, Jessica-Donghae, Taeyeon-Leeteuk, Krystal-Minho, Sulli-Taemin, Amber-Key, dan yang paling terakhir... Tiffany dan Changmin.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar