Author : @arsyadhea_k
Genre : romance, friendship
Rating : Teen
Cast :
1. Kim Yuri
2. Anzhar
3. Reza
Hasil khayalan akan orang yang kusuka (?) hahahaha. No plagiat!!! and happy reading ^^
Bel pulang sekolah berbunyi. Murid-murid segera membereskan barang mereka, dan keluar kelas. Beberapa tinggal di kelas untuk mengerjakan tugas dengan kelompok masing-masing. Kim Yuri, salah satu murid di SMP 21 Semarang, keluar dari kelasnya seorang diri. Ya, Yuri adalah murid baru di sekolah itu. Dia pindahan dari Seoul, Korea, tapi ia sangat menguasai bahasa Indonesia. Ayahnya orang Korea dan ibunya orang Indonesia.
Genre : romance, friendship
Rating : Teen
Cast :
1. Kim Yuri
2. Anzhar
3. Reza
Hasil khayalan akan orang yang kusuka (?) hahahaha. No plagiat!!! and happy reading ^^
And the story is... begin! ^^
Yuri diterima di kelas 8b. Ia baru menjadi murid di kelas itu selama seminggu. Ia cukup dekat dengan beberapa murid di kelas itu, salah satunya Tika. Tika adalah salah satu murid pandai di kelas itu, dan ia sangat ramah. Tidak heran semua orang menyukainya. Karena itulah Tika bisa dekat dengan Yuri.
“Yuri-ya!” panggil Tika. Tika selalu memanggilnya seperti itu. Selain karena Yuri dari Korea, Tika sendiri juga sedikit banyak tahu tentang Korea. Inilah yang membuat Yuri menyukai Tika, dan di kelasnya juga banyak Kpopers.
“Ne?” jawab Yuri.
“Kamu udah dijemput belum?” tanya Tika.
“Seharusnya sih udah. Kamu juga mau ke depan?” tanya Yuri. Tika mengangguk.
“Bareng, ya!” kata Tika. Yuri mengangguk. Mereka berdua pun berjalan bersama ke depan sekolah, sambil mengobrol.
Mereka melewati kelas 9h, saat seorang murid laki-laki tidak sengaja menabrak Yuri. Yuri terjatuh. Murid itu membantu Yuri berdiri. Saat itulah Yuri menatap kedua matanya dan seketika ia seperti tersihir.
“Duh, maaf ya, Dek!” katanya, lalu mengejar temannya yang berlari terlebih dahulu.
“Kamu nggak papa kan, Ri?” tanya Tika khawatir.
“Nggak papa, Tik. Oya, kamu tahu siapa itu?”
“Yang tadi nabrak kamu? Namanya Anzhar, anak kelas 9a. Kenapa?”
“Nggak papa.” jawab Yuri.
“Kamu suka sama dia?” selidik Tika.
“Apa? Tidak!” elak Yuri.
“Jangan bohong deh. Dia pinter fisika, lho.”
“Lalu hubungannya sama aku apa?”
“Siapa tahu kamu mau minta dia ngajarin kamu fisika?” canda Tika, kemudian ia tertawa.
“Tika!” Yuri malu.
“Ya sudahlah, ayo kita keluar!”
“Ne!” kata Yuri cepat, kemudian mereka berdua kembali berjalan ke depan sekolah.
...
Yuri menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia kembali teringat dengan Anzhar. Entah kenapa, rasanya ia tersihir dalam mata Anzhar. Menurutnya, Anzhar tampan juga.
Yuri menggelengkan kepalanya cepat. Apa sih yang ia pikirkan? Apa iya ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Anzhar? Oh, ini tidak mungkin.
“Yuri-ya,” panggil ibu Yuri
“Ne, Eomma?” tanya Yuri. Ia selalu berbicara dalam bahasa Korea dengan ayah dan ibunya.
“Hari ini les bahasa Inggrismu akan dimulai pukul 5. Bukunya sudah Eomma letakkan di meja belajarmu.” Perintahnya tegas.
“Ne, Eomma. Tapi, ini kan masih pukul 2?”
“Karena itu, kau tidur siang saja dulu. Nanti pukul 4 Eomma akan bangunkan.”
“Ne, Eomma.”
Eomma Yuri keluar dari kamar Yuri dan menutup pintu. Yuri segera mengganti seragamnya dengan baju rumah dan tidur.
...
Yuri menaiki tangga menuju lantai 3 dengan gugup. Sekarang ia berada di gedung lesnya, tidak jauh dari rumah. Ia memakai celana jins, kaus lengan pendek pink bergambar hello kitty, dan sepatu pink. Tas coklat domo berisi buku les dan tempat pensil tersampir di pundaknya.
Akhirnya ia sampai di lantai 3. Ia melangkah ke ruang nomor 304. Pelan, ia membuka pintu. Beberapa anak perempuan yang sedang mengobrol berhenti berbicara ketika melihatnya. Yuri tersenyum kikuk pada mereka dan duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu kelas. Kursi-kursi di kelas ini dipepetkan pada dinding, membentuk huruf U.
“Kamu anak baru, ya?” tanya salah seorang dari mereka yang berambut pendek dan berkacamata, tapi cantik.
“Iya,” jawab Yuri.
“Namamu siapa?” tanyanya lagi.
“Aku Kim Yuri.”
“Orang Korea?” tanyanya. Yuri mengangguk.
“Aku juga! Ayahku orang Korea. Aku Jeong Yumi.” Katanya memperkenalkan diri. Yuri menghela nafas lega.
“Ayahku juga orang Korea. Nama kita mirip,”
“Iya ya, Yuri sama Yumi. Oya, ini Priska, ini Bila. Terus yang itu Rahma, Fira, Khanza dan Hanni.” Yumi menunjuk siswa di kelas itu.
“Oya, di kelas ini, siswanya hanya kita?” tanya Yuri.
“Nggak. Masih ada 3 cowok lagi, tapi mereka belom dateng. Mereka emang biasa dateng pas hampir bel.” Jelas Priska. Yuri mengangguk-angguk mengerti.
Terdengar suara anak-anak laki-laki di luar kelas. Dan saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Yuri. Anzhar! Dia datang bersama kedua temannya. Yuri sibuk menenangkan hatinya yang berdebar ketika bel masuk berbunyi. Tak lama kemudian, seorang pria masuk. Dia adalah guru mereka. Namanya Mr. Ahmad. Ia memberi mereka kertas dan menyuruh mereka menuliskan nama mereka di kertas itu. Yuri sudah selesai menuliskan namanya, dan ia melirik Anzhar. Anzhar juga sudah selesai, sekarang ia sedang mengobrol dengan teman di sebelahnya. Dari kertas yang diberikan Mr. Ahmad tadi, Yuri mengetahui namanya, Rizky.
(Tulisan miring dalam bahasa Inggris.)
“Baiklah. Kalian sudah saling kenal, kan?” tanya Mr. Ahmad. Semua mengangguk, kecuali Yuri.
“Apa kau anak baru?” tanya Mr. Ahmad. Yuri mengangguk.
“Jadi, kenalkanlah dirimu pada kami. Dari tempat dudukmu saja.”
“Hai, namaku Kim Yuri. Aku bersekolah di SMP 21 Semarang, aku kelas 8. Aku baru pindah dari Korea seminggu yang lalu.” Yuri memperkenalkan dirinya.
“Oh, Korea. Bisa ceritakan pada kami, seperti apa negara itu?” pinta Mr. Ahmad.
Sampai bel istirahat berbunyi, Yuri menceritakan negara Korea di kelas itu, dibantu oleh Yumi sedikit.
Saat istirahat, Khanza dan Hanni keluar dari kelas, begitu juga dengan Fira, Rahma, dan Bila. Anzhar, Rizky, dan Bayu, cowok lain dalam kelas mereka, juga keluar. Di kelas hanya ada Yumi, Priska, dan Yuri. Karena Yumi dan Priska mengobrol, Yuri mengenakan earphone-nya dan menonton video musik di Blackberrynya.
Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Yuri menyimpan earphone-nya. Teman-temannya juga sudah masuk. Mr. Ahmad masuk dan membuat sebuah permainan. Mereka akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Cara membagi kelompoknya adalah dengan mencari pasangan. Mr. Ahmad membagikan kertas untuk mereka. Mereka harus mencari teman yang memiliki kertas dengan tulisan yang sama dengan mereka. Misalnya, star dengan star, atau rainbow dengan rainbow. Yuri mendapatkan kata ‘planet’. Beberapa teman sudah mendapatkan pasangan mereka masing-masing, sementara Yuri hanya bisa memperhatikan mereka. Saat matanya mengarah ke Anzhar, Anzhar bertanya dengan suara pelan padanya, tapi Yuri bisa mendengarnya.
“Kamu dapat apa?” tanya Anzhar.
“Planet.” Jawab Yuri.
“Aku juga planet.” Kata Anzhar. Yuri terkejut. Hatinya berdebar.
“Jadi, sudahkah kalian mendapatkan pasangan masing-masing?” tanya Mr. Ahmad, membuat kelas yang tadinya ramai sekarang menjadi diam.
“Kau dengan siapa, Yuri?” tanya Mr. Ahmad.
“Em, aku dengan Anzhar.”
“Kalau begitu, kau bisa pindah ke sana.” Mr. Ahmad menunjuk kursi Rizky yang kosong karena Rizky pindah duduk ke sebelah Fira, karena mereka berpasangan. Yuri pindah duduk ke kursi Rizky dengan gugup.
“Tugas kalian adalah, membuat biodata pasangan kalian. Buat sebanyak mungkin.” Perintah Mr. Ahmad.
Anzhar menyobek selembar kertas dari bukunya, begitu juga Yuri. Anzhar bertanya macam-macam pada Yuri, Yuri dengan gugup menjawabnya. Ia juga bertanya pada Anzhar macam-macam. Biodata mereka selesai tepat ketika bel pulang berbunyi. Mr. Ahmad mengucapkan salam dan keluar dari kelas. Yuri menyimpan kertasnya di tas dan keluar. Mobil yang menjemputnya sudah sampai, jadi ia masuk mobil dan pulang. Di perjalanan, ia mengeluarkan kertasnya dan membacanya. Ia tersenyum senang.
...
Anzhar mengecek tasnya. Buku-buku pelajar hari ini sudah lengkap. Saatnya berangkat sekolah. Tidak sengaja matanya menangkap sebuah kertas yang berada di atas tumpukan buku paketnya. Kertas berisi biodata Yuri. Anzhar membaca kertas itu. Perhatiannya tertuju pada kalimat paling bawah di kertas itu.
Ideal type : smart, kind, and taller than her
Anzhar tersenyum membacanya. Ia menyelipkan kertas itu diantara buku-bukunya dan berangkat sekolah.
...
Anzhar dan temannya, Reza, pergi ke kantin bersama saat istirahat kedua. Saat sudah dekat, ia dapat melihat Yuri sedang makan bersama teman-teman sekelasnya.
“Hai, Dek.” Sapa Anzhar ketika ia melewati Yuri. Yuri balas tersenyum.
“CIEEEEE!” teman-teman Yuri menyoraki. Anzhar tersenyum sendiri, kemudian membeli mi goreng.
“Kamu kenal dia? Dia anak baru, kan?” tanya Reza.
“Temen lesku.” Jawab Anzhar singkat.
“Oh,”
Setelah membayar, Anzhar dan Reza kembali ke kelas mereka.
“Kayaknya hari ini kamu sering banget senyum. Apa ini ada hubungannya sama anak baru itu?” tanya Reza.
“Hah? Nggak sih.” jawab Anzhar sambil tersenyum.
“Nah, senyum lagi.” kata Reza sambil memasukkan sesendok mi ke dalam mulutnya.
Anzhar tersenyum. Mendengar namanya saja membuatnya tersenyum. Ada apa dengannya?
...
“Yuri!” panggil Anzhar. Yuri menoleh.
“Ada apa, Kak?” tanya Yuri.
“Belum dijemput?” tanya Anzhar.
“Belum.”
“Kamu pulang jam setengah 2, kan? Ini kan udah jam 3. Masa belum dijemput?”
“Nggak tahu nih. Padahal aku udah bilang aku pulang jam setengah 2.”
“Aku antar pulang aja, gimana?” tawar Anzhar. Yuri melongo dibuatnya.
“Aku bawa motor kok. Daripada kamu tinggal di sini sampai maghrib?”
“Oke deh.”
“Ayo.” Anzhar menggenggam tangan Yuri dan menariknya keluar dari lapangan sekolah. Yuri mengikuti Anzhar sambil memperhatikan tangannya yang digenggam oleh Anzhar. Ia tersenyum.
...
“Makasih ya, Kak, udah nganterin aku pulang,” kata Yuri sambil menyerahkan helmnya pada Anzhar.
“Sama-sama. Besok les, kan?” tanya Anzhar memastikan. Yuri mengangguk cepat.
“Boleh minta nomor hapemu?” tanya Anzhar. Ia mengambil kertas kecil di saku seragamnya dan pulpen di saku celananya. Yuri menuliskan nomor hapenya di kertas itu.
“Makasih. Nanti aku SMS.”
“Aku tunggu.”
“Kalo gitu aku pulang dulu, ya. Sampai jumpa besok,” Anzhar melambaikan tangannya, kemudian melaju cepat meninggalkan Yuri. Yuri melambaikan tangannya. Ia tersenyum, kemudian masuk rumah.
...
Anzhar mondar-mandir di ruang keluarga di rumahnya sambil memegang hape di tangan kanan dan kertas yang berisi nomor hape Yuri di tangan kiri.
“Mas Anzhar kenapa?” tanya Rina, adik Anzhar yang bersekolah di sekolah yang sama dengannya kelas 7e.
“Hah? Nggak papa.” Anzhar duduk di kasur, dan mulai menulis sebuah SMS. Tak lama kemudian, ia mengirimkan pesan itu.
Sent :
Hai Dek. Ini Anzhar. Lagi ngapain?
Anzhar menunggu dengan cemas. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Anzhar buru-buru membukanya dan menghela nafas lega membaca nama pengirimnya. Yuri.
Sender : Yuri
Hai Kak :D sipp ya, aku simpan nomornya. Lagi nggak ngapa2in. Kalau Kakak?
Anzhar dengan cepat mengirim sebuah balasan.
Sent :
Nggak ngapa2in. Kok sama ya? hehehe :p Besok pulang les aku anterin pulang lagi?
Seperti sebelumnya, Anzhar tak membutuhkan waktu lama untuk menunggu balasan datang.
Sender : Yuri
Nggak usah, nanti merepotkan lagi
Anzhar tersenyum membacanya. Dengan cepat ia mengeetik balasan.
Sent :
Nggak repot. Mau, ya?
Kali ini diperlukan waktu yang agak lama untuk menerima balasan dari Yuri.
Sender : Yuri
Kalo Kakak nggak repot, oke deh. Sampai jumpa besok ya, Kak ;)
“Yes! Yes!” sorak Anzhar.
“Mas, ada apa?” tanya Rina yang heran melihat tingkah kakaknya itu.
“Nggak papa.” Anzhar mematikan hapenya dan pergi ke kamar untuk tidur.
...
Yuri sedang asyik browsing di kamarnya. Ia mengetik sebuah nama di pencarian. Yuri berteriak kegirangan ketika melihat apa yang ia cari ditemukan. Ia membuka halaman yang ia cari itu. Ya, profil facebook Anzhar. Yuri membuka album fotonya. Ia tertawa ketika melihat foto Anzhar saat masih kecil.
Yuri kembali teringat pada pertemuan pertamanya dengan Anzhar 2 bulan yang lalu. Tidak sengaja Anzhar menabraknya. Dan sejak itu, mereka menjadi dekat.
“Yuri Agasshi,” panggil seorang pelayan di depan pintu kamar Yuri.
“Ada apa?” tanya Yuri dalam bahasa Indonesia.
“Tuan dan Nyonya menunggu Agasshi di ruang tamu.” Kata pelayan itu.
Yuri menutup laptopnya dan keluar kamar menuju ruang tamu.
“Appa, Eomma, wae?” tanya Yuri. Ia duduk di sofa di depan kedua orang tuanya.
“Kau tidak ingat hari ini hari apa?” tanya appanya sinis.
“Hari ini? Hari Selasa? Ah, hari ulang tahun Appa! Saengil chukhae, Appa!” serunya.
“Dasar kau ini. Mana ada anak yang melupakan ulang tahun orang tuanya?” sinis eommanya. Yuri meringis.
“Jadi, apa kita akan pergi makan malam?”
“Ya. Kita akan makan malam dengan teman kerja Appa. Anaknya juga bersekolah di sekolahmu. Mungkin kau mengenalnya,” kata appanya.
“Tidak mungkin. Anak itu kelas 9, sedangkan Yuri kelas 8. Mana mungkin mereka bisa kenal?”
“Kelas 9? Namja atau yeoja?” Yuri tertarik.
“Namja. Appa lupa namanya siapa. Nanti kalian bisa berkenalan.”
“Yei! Aku siap-siap dulu, Appa, Eomma!” Yuri berlari ke kamarnya. Kedua orang tuanya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, heran dengan sikap anaknya.
...
Yuri kembali merapikan rambutnya. Dress hitam polos tanpa lengan, kalung mutiara, dan wedges 3 cm hitam miliknya melengkapi penampilannya.
“Nah, itu mereka sudah datang.” Kata appa Yuri. Yuri segera berdiri dan melihat ke arah pintu masuk. Yuri menghela nafas. Itu bukan Anzhar. Itu Reza, sahabat Anzhar.
“Hai, Dek.” Sapa Reza sementara ayahnya dan appa Yuri berjabat tangan. Yuri membalas dengan senyum. Mereka duduk bersebelahan. Sementara orang tua mereka berbincang-bincang, Reza dan Yuri justru saling diam.
“Anzhar banyak bercerita tentang kamu.” Kata Reza memulai percakapan.
“Ne?” respon Yuri senang. Reza menatapnya heran.
“Em, apa saja yang ia ceritakan?” tanya Yuri dalam bahasa Indonesia.
“Katanya, kamu itu pinter, cantik, lucu, sopan lagi. Aku pikir dia suka sama kamu, tapi waktu aku tanya, dia bilang enggak.”
Yuri cemberut.
“Dan dia bener.” Lanjut Reza, membuat Yuri menoleh kepadanya.
“Maksud Kakak apa?”
“Aku suka sama kamu.” Kalimat Reza membuat Yuri menahan nafas. Tiba-tiba ia menyadari suasana yang hening. Ia mengalihkan pandangannya, dan mendapati kedua orang tuanya dan orang tua Reza menatap mereka dengan tatapan menggoda.
“Yuri-ya, kau hebat!” puji eommanya dengan menunjukkan 2 ibu jarinya sambil mengerling.
“Eomma...” protes Yuri.
“Bagaimana kalau kita menjodohkan mereka berdua? Akan sangat bagus bukan jika kita menjadi besan?” tanya appa Yuri pada ayah Reza.
“Appa!” protes Yuri.
“Ah, benar juga. Mulai sekarang kita akan menjodohkan mereka!” seru ayah Reza.
“Kalian nggak akan menolak, kan?” tanya ibu Reza.
“Nggak, Bu.” Jawab Reza.
“Bagus!” seru appa Yuri dan ayah Reza bersamaan.
Yuri hanya bisa menghela nafas, sementara Reza tersenyum senang.
...
Yuri memainkan pensilnya dengan lesu. Ia masih memikirkan perjodohannya dengan Reza seminggu yang lalu. Ia juga heran dengan Anzhar yang dirasanya menjauh. Tika menepuk pundaknya.
“Yah! Tika-ya! Kau ini kenapa?!” teriak Yuri kesal. Tanpa sadar ia memakai bahasa Korea.
“Yuri, kok marah?” tanya Tika heran.
“Maaf, Tika.” Sesal Yuri. Ia kembali memainkan pensilnya dengan lesu.
“Kamu kenapa? Kayaknya kok lesu banget gitu? Ada masalah sama Mas Anzhar?”
“Mas?” tanya Yuri.
“Itu panggilan buat laki-laki yang lebih tua, bahasa Jawa.” Jelas Tika.
“Nggak, nggak ada masalah apa-apa.”
“Terus? Kenapa lesu banget? Ada masalah di rumah?”
“Nggak juga.”
“Terus kenapa dong?”
“Jangan bilang siapa-siapa ya, Tik,”
“Sip! Ada apaan sih?”
“Aku dijodohin sama Kak Reza, temennya Kak Anzhar.” Bisik Yuri di telinga Tika.
“APAAAA???!!!” teriak Tika terkejut hingga seisi kelas memperhatikan mereka. Meskipun itu saat istirahat, tapi kelas mereka tetap ramai.
“Ssst! Jangan berteriak, Tik!”
“Iya, iya, maaf. Tapi, kok bisa sih?”
Yuri menceritakan kejadian semalam.
“Jadi, itu artinya sekarang kalian pacaran?” tanya Tika lagi.
“Nggak. Dia nggak bertanya apa aku mau jadi pacarnya, dan aku juga nggak mau jadi pacarnya. Kami hanya teman sekarang.”
“Terus kamu sama Mas Anzhar gimana?” tanya Tika.
“Hah? Kok jadi ke Kak Anzhar sih?”
“Kamu suka sama dia, kan?”
Yuri terdiam.
“Iya sih,”
“Eh, udah bel. Habis ini IPS.” Tika duduk di kursinya. Yuri menghela nafas.
...
Yumi berjalan cepat ke kelasnya seorang diri. Ia hampir terlambat karena ia bangun kesiangan. Yuri membuka pintu kelas. Mr. Ahmad dan yang lain sudah duduk di dalam kelas.
“Sorry, Sir. I’m late.” Kata Yuri.
“It’s okay. Sit down,” perintah Mr. Ahmad.
Yuri duduk di kursinya. Ia manatap Anzhar dengan tatapan yang susah diartikan. Anzhar sendiri berusaha menjauhi pandangan Yuri. Dan entah kenapa, saat itu Yuri sangat ingin menangis.
...
“Kak,” panggil Yuri. Ia menahan lengan Anzhar yang sedang berjalan menuju motornya yang terparkir agak jauh dengan gedung les.
“Kenapa Kakak jadi seperti ini?” tanya Yuri menahan tangisnya.
“Maksudmu apa?” tanya Anzhar datar.
“Kenapa Kakak menjauh seperti ini?” tanya Yuri.
“Aku nggak menjauh.”
“Kakak menjauh!”
Anzhar terdiam, kemudian berbalik.
“Aku cuma nggak mau menyakiti sahabatku. Kamu pacarnya Reza, kan? Lebih baik mulai sekarang kita jaga jarak.” Anzhar memakai helm dan menyalakan motornya, kemudian ia pergi dari situ, meninggalkan Yuri yang terkejut dengan kalimat Anzhar. Tanpa dikomando, air matanya menetes satu persatu. Hujan yang tadinya sudah reda, kini turun dengan derasnya. Pelayan Yuri berlari-lari kecil menuju majikannya, memayunginya.
“Agasshi, Tuan dan Nyonya sudah menunggu di rumah. Ayo kita pulang!” ajaknya.
“Maldo andwae.” Katanya lirih.
...
Malam Minggu yang hujan ini Yuri sendirian di rumah – bersama pelayannya dan supir. Kedua orang tuanya ada acara makan malam bersama teman-teman kantor appanya, dan ia menolak ajakan kencan Reza. Ia memang mulai menjauhi Reza sejak Anzhar memintanya untuk menjaga jarak. Bahkan ia sudah tidak pernah mengangkat telepon Reza ataupun membalas SMSnya.
“Yuri-ya!” teriak appanya dengan keras. Yuri terkejut, kemudian cepat-cepat turun ke bawah. Suara appanya terdengar sampai lantai 2, pasti ia sedang sangat marah. Lihat saja, bahkan beliau sudah menunggu di ruang keluarga.
“Appa, wae?” tanya Yuri.
“Kenapa kau menjauhi Reza?! Kalian ini sudah dijodohkan!”
“Yeobo, dwaesseo. Jangan seperti ini,” eomma Yuri berusaha menahan amarah suaminya.
“Appa! Aku tidak pernah setuju dengan perjodohan itu! Kami juga masih kecil! Masih SMP!” balas Yuri.
“Yuri! Jangan berteriak pada Appamu!” marah eomma.
“Suka atau tidak, kau harus mau menerimanya! Dia menyukaimu! Appa dan ayahnya juga sudah menjodohkan kalian! Suka atau tidak kalian harus bersama!”
“Terserah Appa! Tapi aku tidak akan pernah mau dijodohkan dengannya.” Kata Yuri tegas.
“Kalau kau tidak mau, pergi dari rumah ini! Kau bukanlah keluarga Kim lagi!”
“Baik! Aku lebih baik keluar dari keluarga Kim daripada harus dijodohkan dengan Reza!” Yuri berlari keluar rumah.
“Yuri-ya!” panggil eommanya khawatir, tapi suaminya menahan tangannya.
“Jangan dikejar. Supaya dia tahu rasa.” Katanya marah, kemudian masuk ke ruang kerja dan membanting pintu.
...
Yuri berjalan tanpa payung. Hot pants coklatnya dan jaket polos berwarna jingga yang dikenakannya jadi basah kuyup karena hujan. Yuri memeluk tubuhnya, sekedar melindungi diri dari rasa dingin.
“Yuri!” suara yang sangat dikenal Yuri terdengar. Yuri berhenti berjalan dan berbalik. Dilihatnya Anzhar berlari-lari kecil ke arahnya dengan membawa payung. Kini mereka berada di bawah payung yang sama.
“Ngapain kamu hujan-hujanan kayak gini? Kamu bisa sakit!” kata Anzhar khawatir. Ia melepas jaketnya dan menutupi tubuh Yuri dengan jaketnya. Setelah itu ia mengeluarkan hape dari saku celananya dan menekan nomor seseorang. Yuri menahan tangan Anzhar.
“Jangan telepon Kak Reza.” Pinta Yuri. Anzhar kembali memasukkan hapenya ke saku celana.
“Aku antar pulang.”
“Jangan. Aku nggak mau pulang,”
“Kalo gitu lebih baik kita ke rumahku dulu. Bajumu basah kuyup. Kamu bisa pakai baju adikku nanti.”
Yuri mengangguk. Mereka pun berjalan beriringan ke rumah Anzhar. Dalam 10 menit, mereka pun sampai.
“Kakak sendirian di rumah?” tanya Yuri.
“Nggak, ada adikku.”
“Kalau orang tua Kakak?”
“Lagi ke Jogja.”
Yuri mengangguk-angguk mengerti.
“Mas?” seorang gadis keluar dari kamarnya.
“Ah, itu adikku. Namanya Rina. Na, ini teman Mas, namanya Yuri. Pinjemin bajumu.” Perintah Anzhar. Dengan patuh, Rina masuk kamarnya dan kembali dengan piyamanya. Yuri menerimanya dan berganti baju di kamar mandi.
“Teman Mas kenapa diajak ke sini? Kenapa nggak disuruh pulang aja?”
“Kayaknya dia lagi ada masalah di rumahnya. Dia nggak mau pulang, jadi Mas ajak ke sini. Sekarang kamu bikin teh anget sana. 2 ya. Buat Mas sama Yuri. Mas kedinginan, nih.”
“Siapa suruh jalan-jalan malem hujan begini.” Rina melet dan pergi ke dapur.
...
Yuri berbaring di kasur. Malam ini ia tidur di kamar Anzhar, sementara Anzhar tidur di kamar orang tuanya. Yuri tidak bisa tidur. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Perlahan, Yuri keluar dari kamar, dan pergi ke arah benda yang jatuh itu. Ternyata dapur. Anzhar sedang memungut gelas yang tadi jatuh itu.
“Kak Anzhar sedang apa?” tanya Yuri, mengejutkan Anzhar. Tapi kemudian Anzhar tersenyum.
“Belum tidur?” tanyanya. Yuri menggeleng.
“Kakak sedang apa?”
“Cari makanan. Laper,” kata Anzhar sambil membuka sebuah lemari. Lemari makanan. Ia mengeluarkan sekotak brownies.
“Kamu mau?” tanya Anzhar.
“Mau.” Jawab Yuri singkat. Anzhar memotong-motong brownies itu menjadi kotak-kotak kecil. Ia meletakkan di meja dan membuat 2 cangkir teh hangat. Yuri duduk di salah satu kursi, setelah itu Anzhar duduk di depannya.
“Kakak salah paham.” Kata Yuri.
“Salah paham apanya?”
“Aku dan Kak Reza nggak pacaran.”
Anzhar menegakkan tubuhnya.
“Reza menyukaimu.”
“Tapi aku nggak menyukainya. Aku menyukai orang lain.”
“Tetap aja Reza suka sama kamu.”
“Aku suka Kakak.” Kata Yuri tiba-tiba. Anzhar terkejut, tapi ia menyembunyikannya.
“Tapi maaf, aku nggak punya perasaan apapun ke kamu.”
Hening menyelimuti suasana. Yuri mati-matian menahan air matanya.
“Aku tidur dulu, ya, Kak.” Pamit Yuri, kemudian kembali ke kamar Anzhar. Anzhar menghela nafas. Setelah mencuci kedua cangkir, ia kembali ke kamar orang tuanya dan tidur.
...
Yuri menekan bel rumahnya. Ia pulang seorang diri. Setelah pamit pada Rina tadi, ia langsung pulang. Bajunya yang basah kuyup semalam ia bawa serta.
“Tunggu sebentar!” seorang pelayan keluar rumah dan membuka pintu.
“Yuri Agasshi! Agasshi sudah pulang?” serunya ketika melihat Yuri.
“Kak, sekarang Kakak pulang saja.” Kata Yuri pada Anzhar.
“Baiklah.”
Yuri mengangguk. Anzhar pun pulang ke rumahnya. Yuri masuk rumah, meninggalkan pelayannya yang menutup pintu pagar. Matanya menangkap sebuah mobil yang diparkir di halaman rumah mereka.
“Keluarga Kak Reza kemari?” tanya Yuri pada pelayannya.
“Iya, Agasshi. Mereka datang pagi tadi.”
Yuri menghela nafas, kemudian masuk. Pintu masuk bahkan terbuka. Kedua orang tuanya dan keluarga Reza berkumpul di ruang tamu.
“Yuri-ya!” seru eommanya ketika melihat Yuri. Ia berlari dan memeluk Yuri, begitu juga dengan yang lain.
“Ke mana saja kau, Yuri? Kenapa semalam kau tidak pulang?” tanyanya khawatir setelah melepas pelukannya. Yuri tidak menjawab.
“Yuri, kamu ke mana aja sih? Kamu bikin aku khawatir tahu!” kata Reza sambil mengelus rambut Yuri, tapi Yuri mengelak.
“Kamu pulang sendiri?” tanya Reza.
“Nggak. Aku pulang sama Kak Anzhar.” Jawabnya ketus. Sengaja berbohong untuk membuat pria di hadapannya ini kesal.
“Anzhar? Kok kamu bisa sama dia?”
“Itu nggak ada urusannya sama Kak Reza. Aku capek. Aku mau istirahat.” Yuri masuk dan berjalan cepat ke kamarnya. Ia mengunci pintu kamar. Ia duduk bersandar di pintu kamarnya dan memeluk kakinya. Kembali teringat dengan percakapannya dengan Anzhar semalam. Air matanya menetes.
“Kak, aku suka Kakak,” katanya lirih. Air matanya menetes lagi.
Sementara itu, di kamarnya, Anzhar duduk di tepi kasur sambil menopang kepalanya.
“Maafin aku, Yuri. Aku juga suka sama kamu. Tapi aku nggak bisa menyakiti perasaan Reza...” katanya lirih.
...
11 tahun berlalu. Yuri menjadi orang yang berhasil. Sekarang ia memiliki sebuah hotel di Semarang, bernama Kim’s Hotel, setelah sebelumnya bekerja di hotel milik appanya. Hotel berbintang 5 yang terkenal. Reza pun tak mau kalah. Ia kini mempunyai supermarket yang sudah membuka 4 cabang di luar kota Semarang.
Sejak malam di mana ia kabur dari rumah, ia tidak pernah lagi berbicara dengan Anzhar kecuali saat di tempat les, dan jika mereka harus sekelompok. Sejak saat itu, Yuri terus menarik diri dari Anzhar. Bahkan ia akhirnya menuruti permintaan kedua orang tuanya untuk tetap menerima perjodohannya dengan Reza, dengan syarat ia tidak akan menikah sebelum berumur 26 tahun. Dan perjodohannya dengan Reza pun masih berlaku sampai saat ini.
Saat ini Reza tidak lagi sendiri. Tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, ia telah memiliki seorang kekasih bernama Nabila. Reza sudah menceritakan keadaannya pada Nabila, dan Nabila menerimanya. Nabila juga sudah mengenal baik Yuri. Ia tahu Yuri dan Reza hanya dijodohkan, tapi mereka tidak memiliki perasaan terhadap satu sama lain. Ia juga tahu rasa sayang Reza pada Yuri hanya sebatas adik, begitu Yuri, yang hanya menganggap Reza sebagai kakaknya.
“Appa, aku kan sudah bilang, aku tidak mau menikah sebelum berumur 26 tahun. Dan dulu Appa menyetujuinya.” Kata Yuri. Reza di depannya memperhatikannya. Sekarang ia bisa berbahasa Korea, jadi ia mengerti percakapan Yuri dan kedua orang tuanya.
“Aku masih berumur 24 tahun. Aku tidak mau menikah dulu. Karirku sedang bagus.” Yuri berkata lagi.
“Aku tahu, aku tahu. Annyeong, Appa.” Yuri menutup telepon. Ia menghela nafas, menyandarkan diri di kursinya.
“Appamu memaksa kita menikah lagi?” tanya Reza.
“Hm. Kak, aku sudah nggak tahan. Aku ingin membatalkan perjodohan ini!” seru Yuri putus asa.
“Aku juga.”
“Lalu kenapa Kakak nggak beritahu orang tua Kakak tentang Nabila? Kalian sudah berpacaran selama setahun! Kasihan dia kalau harus terus menunggu, Kak!”
“Ini bukan saat yang tepat. Orang tuaku nggak akan membatalkannya kalau cuma aku yang udah punya pacar. Kamu juga harus punya pacar.”
“Kakak mau nunggu aku punya pacar sampai kapan? 2 tahun lagi? Sampai aku berumur 26 tahun dan dipaksa menikah? Hingga akhirnya kita melaksanakan pernikahan?”
“Lalu kapan kamu mau nerima cowok yang nembak kamu? Setahuku, setiap ada cowok yang nembak kamu, kamu pasti nolak. Kamu masih nunggu dia?”
“Kakak tahu jawabannya.”
“Sampai kapan kamu mau nunggu dia muncul? Setelah dia ngelanjutin sekolah di Bandung, kamu nggak pernah berhubungan sama dia lagi, kan? Nggak pernah tau kabarnya. Terakhir yang aku tau, dia kuliah di Singapura.”
“Kak...”
Telepon di ruangan Yuri berdering. Yuri segera mengangkatnya.
“Ada apa?”
“Pemilik AMS’s Coffee yang ingin mengajak kerja sama sudah datang, Bu.”
“Suruh dia ke ruangan saya sekarang.”
“Baik, Bu.”
Yuri menutup telepon.
“Kakak mau menunggu di sini sampai kapan?” tanya Yuri.
“Tamumu sudah datang?”
“Sudah.”
“Sebentar lagi. Aku juga ada janji dengan Nabila.”
“Salam untuk Nabila.”
“Akan kusampaikan.”
Tok tok tok! Pintu ruangan Yuri diketuk.
“Masuk!” perintah Yuri.
Pintu terbuka.
“Saya mengantarkan tamu Anda, Bu Yuri.” Manajer hotel membungkuk memberi hormat. Pemilih AMS’s Coffee yang dimaksud pun masuk ruangan. Yuri dan Reza terkejut dibuatnya.
“Saya permisi,” manajer itu keluar dan menutup pintu.
“Anzhar?” tanya Reza memastikan.
“Reza? Yuri?” orang itu juga terkejut.
Hati Yuri berdebar seketika. Rasa senang, gembira, dan rindu yang selama ini dipendamnya berlomba-lomba untuk keluar.
“Silakan duduk.” Kata Yuri sopan. Anzhar duduk di kursi di sebelah Reza.
“Aku nggak nyangka kalian masih bersama sampai sekarang. Selamat, ya.” katanya sambil tersenyum.
“Aku harus pergi sekarang. Nabila udah nunggu. Dah, Yuri. Nanti aku jemput. Dah, Anzhar.” Reza keluar ruangan, meninggalkan Anzhar dan Yuri yang canggung.
“Apa kabar?” tanya Yuri memberanikan diri.
“Baik. Kamu sendiri?”
“Baik.” Jawab Yuri.
Hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Oya, aku mau nawarin kerja sama sama kamu.” Kata Anzhar memecah keheningkan. Yuri tersadar dari lamunannya.
“Oh, iya. Kerja sama apa yang Kakak tawarkan?”
...
Yuri membaca kembali proposal Anzhar malam itu. Setelah berbicara kurang lebih 1 jam tentang kerja sama yang akan mereka jalin, Anzhar akhirnya menyudahi pembicaraan mereka saat itu dan akan membuat janji di waktu yang lain. Anzhar ingin membuka cafe di sebelah hotel Yuri, yang masih satu bangunan. Dan yang lain sebagainya, akan dibicarakan lain waktu.
Sekitar pukul 1 siang, Reza dan Nabila menjemputnya. Mereka makan siang di restoran, kemudian mengantar Yuri pulang. Sebenarnya Nabila mengajak Yuri untuk pergi bersama mereka, karena melihat wajah kusut Yuri. Tapi Yuri menolaknya dengan alasan sedang lelah.
Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunan Yuri. Ia segera mengecek Blackberrynya.
Sender : Kak Reza
Besok siang keluarga kita akan makan siang bersama
Yuri segera menelepon Reza.
“Halo.” Sapa Reza datar.
“Kak, bisa nggak kita batalkan perjodohan kita besok siang?” tanya Yuri.
“Kenapa?”
“Aku nggak bisa berbohong seperti ini lagi, Kak. Aku nggak kuat.”
Reza terdiam.
“Kak?”
“Terus kamu gimana?”
“Aku nggak papa. Supaya Kakak bisa memperkenalkan Nabila pada orang tua Kakak. Aku nggak mau jadi penghalang hubungan kalian terus.”
“Kamu nggak menghalangi hubungan kami.”
“Kak, apa Kakak nggak mau cepat melamar Nabila dan menikahinya? Aku nggak mau jadi penghalang pernikahan kalian.”
“Oke. Besok kita bilang sama orang tua kita.”
“Terima kasih, Kak.” Yuri menghela nafas lega.
“Nggak usah sopan gitu. Kita kan udah kayak kakak beradik. Biasa aja lagi.” Reza tertawa kecil.
“Oppa neomu neomu saranghae...” kata Yuri sambil tertawa.
“Nado, Saeng. Udah malem, tidur sana.”
“Ne, Oppa.”
Reza menutup telepon. Yuri mencibir.
“Dasar kakak nggak romantis.” Umpatnya. Ia mematikan Blackberrynya dan pergi tidur.
...
Yuri sedang duduk di AMS’s Coffee sambil memainkan Blackberrynya ketika seorang wanita datang.
“Kim Yuri?” tanyanya memastikan. Yuri memandangi wanita dengan heran. Sepertinya ia pernah bertemu dengannya.
“Iya.” Kata Yuri.
“Ah, benar! Aku Tika, temenmu di SMP! Masih inget?” tanyanya.
“Tika? Hah? Yang betul? Apa kabar?” Yuri berdiri dan memeluknya, kemudian mempersilakan Tika duduk di depannya.
“Baik. Kamu sendiri?”
“Baik juga. Kamu sendirian?”
“Nggak, sama tunanganku. Dia lagi di toilet.”
“Selamat, ya! Siapa?”
"Kim Jonghyun. Orang Korea. Untung banget kan dulu aku les bahasa Korea."
“Hah? Jonghyun? Yang betul? Kok bisa?” tanya Yuri. Ia tahu tentang Jonghyun dari email-email Tika yang masuk saat masih kuliah dulu. Tika sering membicarakan Jonghyun di setiap emailnya.
“Bisalah. Kamu sendiri gimana? Udah nikah?”
“Belum.” Jawab Yuri singkat.
“Karir lagi bagus, ya? Makanya nunda nikah? Udah ada calonnya? Atau masih sama yang dijodohin sama kamu itu?”
“Udah nggak.” Jawab Yuri.
“Tika,” seorang pria mendatangi mereka. Dia adalah Jonghyun, tunangan Tika.
“Eh, iya? Kenalkan, ini sahabatku waktu SMP dulu. Kim Yuri namanya.” Kata Tika pada Jonghyun dalam bahasa Korea karena ia tidak terlalu mengerti bahasa Indonesia.
"Kim Jonghyun imnida.” pria itu menjabat tangan Yuri. Yuri tersenyum dan mengangguk.
“Kalian kapan mau menikah? Jangan lupa undang aku, ya.” Yuri mengedipkan matanya.
“Oya.” Tika merogoh tasnya, dan mengeluarkan sebuah undangan.
“Nih undangan buat kamu. Sebenernya sih ini mau ke rumahmu, mau ngasih undangan. Tapi berhubung ketemu kamu di sini, nggak jadi deh. Dateng, ya, seminggu lagi.” kata Tika.
“Sip. Aku pasti datang. Makasih, ya.”
“Oke deh. Duluan ya, Ri. Dadah!” Tika melambaikan tangannya, dan keluar cafe bersama tunangannya.
Yuri memperhatikan mereka sambil tersenyum. Teringat dengan kejadian kemarin siang. Ia dan Reza berbicara dengan orang tua mereka untuk membatalkan perjodohan. Mereka baru berbicara setelah mereka makan siang. Butuh waktu hampir 3 jam sebelum akhirnya Reza dan Yuri ‘memenangkan’ perdebatan keras itu. Tidak masalah karena mereka memang memesan tempat di ruang VIP yang jarang ada pengunjungnya. Sekarang di antara dirinya dan Reza sudah tidak apa-apa lagi.
Suara batuk seseorang membuat lamunan Yuri terpecah. Ia menoleh dan mendapati Anzhar berdiri di depannya.
“Sendirian?” tanyanya. Yuri mengangguk canggung.
“Boleh aku duduk di sini?” Anzhar menunjuk kursi di depan Yuri.
“Silakan.”
Anzhar duduk di depan Yuri. Yuri mengamati pakaian Anzhar. Hem kotak-kotak biru-putih dengan lengan yang dilipat hingga sesiku dan celana jins biru yang membuatnya tampak lebih tampan. Hati Yuri berdebar cepat.
“Lagi lihat-lihat cafeku?” tanya Anzhar.
“Tidak juga.”
“Maksudnya?”
“Aku cukup sering ke sini, saat sedang lelah.”
“Oya? Aku di sini terus. Kenapa kita nggak pernah ketemu?”
“Kayaknya Kakak di ruangan Kakak terus, makanya kita nggak ketemu.”
“Iya juga sih.”
Hening. Yuri meminum ice coffee-nya.
“Kamu masih sama Reza?” tanya Anzhar tiba-tiba.
“Tidak. Kami sudah membatalkan perjodohan itu kemarin. Lagipula selama ini Kak Reza sudah punya pacar.”
“Sejak kapan Reza punya pacar?”
“Setahun yang lalu.”
“Pacarnya nggak cemburu?”
“Tidak. Aku kenal baik dengan pacarnya, dia sangat baik dan cantik. Dia mengerti keadaan kami dan percaya kami akan segera membatalkan perjodohan kami.”
“Baguslah.” Anzhar mengangguk-angguk.
“Ya, memang.”
Hening lagi. 11 tahun tidak bertemu membuat mereka menjadi canggung.
“Kalau bisa, aku ingin kembali lagi ke 11 tahun yang lalu. Ke malam waktu kamu nginap di rumahku.” Kata Anzhar tiba-tiba.
“Kenapa?” tanya Yuri. Anzhar tersenyum.
“Aku ingin meralat kalimatku.” Katanya.
Deg! Hati Yuri berdebar makin cepat. Meralat kalimat...
“Kalimat yang mana?” tanya Yuri lagi.
“Aku nggak punya perasaan apapun ke kamu.” Katanya sambil tersenyum.
Sedikit harapan menyelip di hati Yuri.
“Aku ingin meralatnya. Aku juga suka sama kamu. Nggak, lebih dari itu. Aku mencintaimu, Kim Yuri.” Katanya tegas dengan tatapan mata tajam. Sebuah senyum terukir di bibir Yuri. Ia menelan ludahnya berkali-kali untuk menahan tangisnya.
“Aku jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali kita ketemu. Waktu aku nggak sengaja nabrak kamu di sekolah. Sampai sekarang.”
Setetes air mata Yuri akhirnya jatuh. Kalimat Anzhar benar-benar mengenai bagian hatinya yang paling dalam. Yang membuat air matanya menetes sekali lagi adalah ketika Anzhar mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. Cincin.
“Will you marry me?” tanyanya sambil tersenyum.
Air mata Yuri sekali lagi menetes. Ia tersenyum. Kemudian ia mengangguk.
“Yes, I do.” Jawabnya.
Senyumnya bertambah lebar ketika Anzhar memasangkan cincin itu di jari manisnya. Mereka saling berpandangan dengan senyum menghiasi wajah mereka.
...
“Saya terima nikahnya, Kim Yuri dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.” Ucap seorang pria dengan tegas dan mantap. Wanita yang duduk di sampingnya tersenyum.
“Sah saksi?” tanya penghulu.
“Sah!” seru para undangan yang menjadi saksi di ruangan itu.
“Alhamdulillah,” ucap penghulu diikuti seluruh undangan.
Pria itu menghadap ke wanita di sampingnya. Yuri mencium tangan Anzhar yang kini telah menjadi suaminya itu. Senyum terukir di wajah kedua orang itu. Kemudian anzhar mencium dahi Yuri.
Tak mau berlama-lama, mereka dibimbing ke mobil yang akan mengantar mereka ke gedung resepsi. Di mobil, hape anzhar bergetar. Telepon dari Reza. Ia tersenyum pada Yuri, kemudian mengangkatnya.
“Halo.”
“Selamat, Zhaaaar! Unik banget pernikahanmu, beneran deh. Pernikahan ala Indonesia tapi pakaiannya hanbok, pakaian tradisional Korea. Keren!”
Anzhar tertawa.
“Siapa dulu yang nikah!” sombongnya.
“Huu dasar. Ya udah, sampe ketemu di gedung resepsi, ya.”
“Sip.” Anzhar menutup telepon.
“Kak Reza bilang apa?” tanya Yuri.
“Dia bilang selamat, terus katanya pernikahan kita unik.” Yuri tertawa.
“Saranghae, Yuri-ya,” kata Anzhar.
“Nado saranghae, Oppa,”
Mereka saling tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar