Halaman

Rabu, 09 Mei 2012

Over The Rainbow (Part 2)



Author                  : @arsyadhea_k
Genre                   : family, friendship, romance
Cast                       :
1.       Cho Jinri (OC)
2.       Choi Minyoung (OC)
3.       Lee Yeonhee (OC)
4.       Kim Ryeowook
5.       Lee Jinki
6.       Kim Jonghyun
It’s the second story of Over The Rainbow ^^ dimohon coment-nya J NO BASH dan jangan jadi plagiat!! Tokoh-tokoh di sini milikku (kecuali Ryeowook, Jonghyun, dan Jinki). Ide juga milikku, tidak meniru cerita yang lain. Gamsahamnida ^o^
And the story is... begin! ^^

Jinri POVPonselku berbunyi. Telepon dari Ryeowook Oppa. Aku langsung mengangkatnya.
“Ne, Oppa?”
“Kau di mana?”
“Di rumah. Wae?”
“Sekarang juga ke kafe. Aku tunggu.” Ryeowook Oppa menutup telepon. Kafe? Kafe yang biasa kan? Tapi kenapa sepertinya ia marah?
Aku segera berganti pakaian dan pergi ke kafe yang dimaksud Ryeowook Oppa diantar Kang Ajussi – supir keluargaku.
“Oppa, wae geurae?” tanyaku langsung ketika aku sudah duduk di depan Ryeowook Oppa.
“Bisa jelaskan padaku apa yang kau lakukan kemarin?” tanyanya. OMG, dari siapa ia tahu tentang kemarin?
“Aku tidak suka kau pergi dengan Jonghyun tanpa memberitahuku.” Aku tertegun.
“Kalau kau masih menganggapku sebagai kekasihmu, seharusnya kau memberitahu aku.”
“Oppa...” aku menggerakkan tanganku, hendak mengelus punggungnya. Tapi Ryeowook Oppa menepisnya.
“Jangan sentuh aku.”
“Oppa...”
Ryeowook Oppa berdiri dan meninggalkan rumahku. Meninggalkanku tanpa mendengar satu kata penjelasan pun dariku!
Aku duduk terpaku setelah ia meninggalkanku. Ya Tuhaaaaan!!!! Aku merasa bersalah padanyaaaaa!!!!
Author POV
Minyoung menghela nafas. Ia kembali menggelengkan kepalanya untuk kesekian kalinya.
“Tidak bisa? Coba lagi.” paksa Yeonhee.
“Tidak bisa! Kita sudah berusaha meneleponnya 10 kali!”
“Yeonhee-ah!” panggil Jonghyun. Minyoung dan Yeonhee serentak menoleh.
“Jonghyun-ah!” Yeonhee melambaikan tangan. Jonghyun menghampiri mereka dan duduk di depan Yeonhee.
“Ke mana saja kau? Kenapa tidak mengangkat teleponku? Kenapa tidak membalas pesanku?” tanya Yeonhee kesal.
“Mianhae, ponselku mati. Lagipula aku tidak punya pulsa. Oya, apa kalian melihat Jinri?”
“Aku baru mau bertanya padamu. Kata Jinki, 2 hari yang lalu kau ke rumahnya, kan?” tanya Minyoung.
“Iya, itu benar.”
“Ke rumah Jinri? Ada apa memangnya?”
“Kau tidak memberitahu Yeonhee?” Minyoung terkejut. Tentu saja ia sudah tahu. Ia diberitahu appanya kemarin.
“Ada apa?”
“Em, begini, Yeonhee-ah. Kuharap kau tidak marah padaku, ataupun pada Jinri. Ini bukan kemauan kami, tapi kami disuruh oleh appa kami masing-masing.”
“Apa kalian dijodohkan?” tanya Yeonhee.
“Ani! Kami tidak dijodohkan!”
“Geureom?”
“Aku dan Jinri pergi ke Mokpo, untuk...”
“Untuk apa kalian pergi ke Mokpo? Berdua?!” marah Yeonhee. Ia memotong kalimat Jonghyun.
“Dengarkan aku dulu! Aku dan Jinri pergi ke Mokpo untuk menemui klien. Appa Jinri sakit, jadi Jinri menggantikannya. Appaku juga agak tidak enak badan, jadi ia menyuruhku menggantikannya. Aku kan juga sering mengikuti Appa menemui klien dulu. Dan kami tidak pergi berdua. Bertiga, dengan Kang Ajussi, supir pribadi Jinri.” Jonghyun menyelesaikan kalimatnya dengan super cepat, seakan takut Yeonhee akan memotong kalimatnya lagi.
Yeonhee masih menatap Jonghyun tidak percaya. Sedetik kemudian ia sudah membawa tasnya pergi.
“Yeonhee-ah!” panggil Jonghyun dan Minyoung bersamaan.
“Aku kejar Yeonhee, kau pergilah ke rumah Jinri. Pastikan ia baik-baik saja.” Kata Jonghyun pada Minyoung, lalu berlari mengejar Yeonhee.
“Jonghyun-ah!” panggil Minyoung. Tapi Jonghyun sudah tidak terlihat.
“Aish, sebentar lagi kan kelas Park Gyosunim dimulai,” keluh Minyoung. Ia pun membawa tasnya dan pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobil dan pergi ke rumah Jinri.
...
Kini aku dan Jinri sedang berada di kedai es krim yang sering aku, Jinri, dan Yeonhee kunjungi. Seperti biasanya, Jinri memesan semangkuk besar es krim coklat kesukaannya. Aku sendiri memesan banana split. Tapi tidak seperti biasa, Jinri cukup lama memakan es krimnya. Biasanya ia bisa menghabiskannya dengan cepat.
“Ryeowook Oppa marah padamu?” tanyaku hati-hati. Jinri mengangguk lesu.
“Kurasa ia tidak hanya marah, ia juga, yah, sakit hati, cemburu, tidak suka.” Jelasnya.
“Kau sudah menjelaskan padanya?”
“Ia bahkan pergi dari rumahku sebelum aku sempat menjelaskan!”
“Mwo?” aku terkejut. Setahuku Ryeowook Oppa bukan orang yang seperti itu.
“Bagaimanapun juga, kau harus menjelaskan padanya, Jinri-ah!” perintahku.
“Aku tahu. Tapi saat ini, aku hanya akan membiarkannya terlebih dahulu. Ia perlu waktu, kan? Ia perlu waktu untuk mendinginkan kepalanya. Itu saja.” Katanya dewasa. Sejak kapan Jinri yang imut dan agak manja ini jadi dewasa?
“Aku pernah mengalaminya. Dikhianati. Rasanya sakit dan aku perlu waktu seminggu untuk benar-benar menerimanya. Gila, kan?” ia tersenyum kecil mengingat masa lalunya. Jinri pernah dikhianati?
“Oleh siapa?”
“Kau tidak kenal. Lagipula, dia sudah pindah keluar negeri.”
“Tapi setidaknya, aku boleh tahu, kan?”
“Aku memanggilnya... Cheonsa. Cheonsa Oppa.”
“Cheonsa? Malaikat? Kau menyebut orang yang telah mengkhianatimu dengan panggilan malaikat?” Jinri hanya tersenyum.
“Dia baik. Dan tampan. Ia mirip malaikat. Yah, sebelum ia akhirnya berpaling dariku.”
Tiba-tiba Jonghyun dan Yeonhee duduk di sebelahku dan Jinri. Mereka ngos-ngosan dan saling menatap tajam.
Yaaa! Kalian mengagetkan kami, tahu!” protesku.
“Jadi bagaimana? Ryeowook Hyeong?” tanya Jonghyun tidak mempedulikanku.
“Ia marah.” Jawab Jinri singkat.
“Hanya itu?” Jinri mengangguk.
“Yeonhee-ah, mianhae. Jeongmal mianhae,” sesal Jinri.
“Gwaenchana. Jonghyun telah menjelaskan semuanya. Kini yang harus kita pikirkan adalah Ryeowook Oppa.” Yeonhee mengelus punggung Jinri.
“Dan sekarang yang kita butuhkan adalah Jinki.”
“Wae?”
“Jinki kan yang paling dekat dengan Ryeowook Hyeong – setelah kau, Jinri. Dia bisa menjelaskannya pada Ryeowook Hyeong, kan?” cetus Jonghyun. Aku memukul pundaknya keras.
“Kau benar! Tumben kau pintar!” seruku riang.
“Tapi kau juga tidak perlu memukulku, Choi Minyoung!” aku nyengir.
“Sudahlah! Jjong, kau telepon Jinki!” perintah Yeonhee.
“Kenapa bukan aku? Aku kan kekasihnya!” protesku.
“Geurae, geurae. Minyoung-ah, teleponlah Jinki. Suruh ia kemari.”
“Ne.” Aku mengeluarkan ponselku.
Jinki POV
Aku berjalan menghampiri Ryeowook Hyeong yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. Kemarin, Minyoung, Jinri, Yeonhee, dan Jonghyun telah menjelaskannya padaku. Mereka memintaku untuk menjelaskannya pada Ryeowook Hyeong.
“Hyeong!” panggilku. Ryeowook Hyeong menoleh.
“Oh, kau, Jinki-ah! Wae?” tanyanya.
“Bisa kita bicara sebentar?”
“Tentu.” Ryeowook Hyeong mengikutiku ke depan salah satu meja kosong di taman kampus.
“Wae geurae? Tidak biasanya kau ingin bicara berdua denganku.”
“Jinri tidak bersalah, Hyeong.”
Ryeowook Hyeong tersenyum sinis.
“Ternyata kau ingin membicarakan itu. Kau sudah tahu ternyata? Jinri memintamu menjelaskannya padaku? Jangan lakukan itu. Suruh dia temui aku dan jelaskan sendiri.”
“Tapi, Hyeong...”
“Kurasa sudah jelas, Jinki-ah. Dan suruh dia temui aku 3 hari lagi. Di sini.” Ryeowook Hyeong beranjak meninggalkanku.
Aku segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi Jinri.
“Jinki-ah, bagaimana?” belum aku sapa, Jinri sudah bertanya.
“Ryeowook Hyeong, ia tidak mau mendengar penjelasanku.”
“Jinjja?” ia terdengar sedih.
“Hajiman, ia bilang kau harus menemuinya 3 hari lagi dan kau harus menjelaskan secara langsung padanya. Di taman kampus.”
“Dia bilang begitu? Geurae. Aku akan menemuinya 3 hari lagi. Oya, pukul berapa?”
Sial. Aku lupa bertanya jamnya. Aku melihat jam tanganku.
“Sekitar pukul 10, mungkin.” Aku tidak yakin. Ryeowook Hyeong ingin Jinri menemuinya di sini, kan? Jadi mungkin ia juga ingin bertemu di jam yang sama.
“Oke. Gomawo, Jinki-ah!”
“Ne, cheonma.” Aku menutup telepon. Aku pun beranjak dan pergi ke kelas.
Author POV
Jinri dan Ryeowook berbicara empat mata di taman kampus. Ryeowook bersikap dingin, dan Jinri bersikap sabar. Ia pernah mengalami rasa sakit yang dirasakan Ryeowook saat ini, jadi ia tahu bagaimana harus menghadapi Ryeowook. Hingga akhirnya Ryeowook menyerah. Ia memaafkan Jinri. Jinri tersenyum gembira.
“Gomawo, Oppa,” Jinri tersenyum. Ryeowook menatapnya lembut. Ia tidak bisa lebih marah lagi pada Jinri. Tidak pernah bisa.
“Tapi aku minta satu hal padamu.”
“Apa itu?”
“Jangan buat aku kehilangan kepercayaanku padamu.”
Jinri mengangguk cepat.
“Aku janji.”
Ryeowook mengacak rambut Jinri. Jinri cemberut. Ryeowook tertawa melihatnya. Tapi kemudian mereka saling tatap sambil tersenyum. Tepat saat itu keempat teman mereka keluar dari persembunyian mereka.
“Akhirnya baikan jugaaa!” seru Minyoung.
“Ka, kalian?! Sejak kapan kalian di sini?” Jinri terkejut.
“Sejak awal. Kami takut kau kalian malah bertengkar semakin parah, jadi kau memutuskan untuk mengawasi.” Jelas Jonghyun santai.
“Semua ini ide Jjong, Jinri-ah!” kata Minyoung.
“Dasar kau Jonghyuuuuun!!!!” teriak Jinri. Ia memukuli Jonghyun. Semuanya hanya tertawa melihatnya. Mereka tidak menyadari, sepasang mata memperhatikan mereka dengan senyum sinisnya, saat melihat Jinri berada di tengah-tengah mereka.
To Be Continued

3 komentar: