Halaman

Jumat, 09 Desember 2011

Blue Butterfly Part 2

Hyeri dan Sungmin berdiri di depan pintu rumah keluarga Han. Perlahan, Hyeri membuka pintu dan masuk diikuti oleh Sungmin.
“Aku pulang.” Kata Hyeri pelan sambil melepas sepatunya dan memakai sandal rumah. Sungmin melakukan hal yang sama.
“Hyeri-ah?” seorang yeoja tua keluar dari dapur yang bersebelahan dengan ruang tamu.
“Umma!” Hyeri memeluk yeoja itu yang ternyata adalah Ny. Han. Seorang namja tua yang memakai kacamata keluar dari sebuah kamar dan terkejut melihat Hyeri.
“Hyeri-ah?”
“Appa!” Hyeri melepas pelukannya dan memeluk Tuan Han.
“Siapa namja ini?” tanya Ny. Han.
“Umma, Appa, ini Lee Sungmin, kakak kandungku.”
“Mwo? Lee Sungmin?”
“Ne.”
“Tamu tidak boleh dibiarkan di sini. Ayo, kita makan dulu.” Kata Ny. Han.
“Ah, baiklah.” Kata Sungmin akhirnya.

...
“Terima kasih atas makanannya, Ny. Han. Sangat lezat.” Puji Sungmin setelah selesai makan.
“Kau kan kakak kandung Hyeri kami tercinta, tidak apa-apalah. Chagiya, bagaimana kalau kita mengadopsi Lee Sungmin-ssi? Pasti akan menyenangkan jika kita punya anak lelaki.” Kata Ny. Han.
“Itu ide bangus! Lee Sungmin-ssi, kau setuju, kan?”
“Apa tidak perlu dipikirkan lagi?” tanya Sungmin.
“Tidak, Oppa. Appa dan Umma sudah lama ingin punya anak lelaki.” Kata Hyeri.
“Kau setuju kan, Sungmin-ssi?”
“Ne.” Kata Sungmin gembira.
“Aku pulang!” terdengar suara Miyoung.
“Miyoung-ah!” panggil Tuan Han.
“Ne, Appa? Lee Sungmin-ssi?” ia terkejut melihat Sungmin saat sudah berada di dapur.
“Kau mengenal Sungmin-ssi, Miyoung-ah?” tanya Ny. Han.
“Ne, Umma. Dia temanku di kampus.” Miyoung tersenyum manis, dan duduk di kursi di sebelah Sungmin.
“Miyoung-ah, Lee Sungmin-ssi ini kakak kandung Hyeri.” Jelas Tuan Han.
“Mwo? Aku baru tahu kau punya adik. Kenapa tidak pernah bercerita?” Miyoung memukul pelan pundak Sungmin. Sungmin tertawa kecil.
“Kau tidak pernah bertanya sih.”
Miyoung tertawa.
“Jadi, kenapa Appa memanggilku?”
“Bagaimana pendapatmu, jika kita menambah anggota keluarga kita?” tanya Ny. Han. Miyoung mulai was-was. Jangan-jangan...
“Maksud Appa?”
“Kita akan mengangkat Sungmin-ssi sebagai anggota keluarga kita. Kakak dan adik tidak boleh dipisahkan, bukan? Kau juga mengenal dekat Sungmin-ssi. Jadi, kau setuju, kan?” tanya Tuan Han.
JEDERRR!!!
Kalimat Tuan Han bagaikan petir di siang bolong untuk Miyoung. Sementara yang lain hanya menatap Miyoung sambil tersenyum, menunggu jawaban Miyoung.
“Aku tidak setuju!” teriak Miyoung sambil berdiri.
“Wae?” tanya Ny. Han.
“Aku tidak setuju dan tidak akan pernah setuju!” Miyoung berlari ke kamarnya.
“Kita tidak usah mempedulikan Miyoung. Besok kita akan pergi untuk mengurus soal ini. Sungmin-ah, mulai sekarang panggil aku Appa, dan panggil istriku Umma.”
“Ne, Appa, Umma.”
Hyeri tersenyum senang pada Sungmin. Sementara Sungmin menatap ke tangga dengan sedih, kenapa Miyoung tidak setuju? Apakah Miyoung membencinya?
...
Miyoung tadi menguping pembicaraan orang tuanya dengan Hyeri dan Sungmin. Hatinya sakit mendengarnya. Bahkan tanpa persetujuannya, orang tuanya mengangkat Sungmin menjadi anak mereka.
Miyoung menangis sambil memeluk bantalnya di kasur. Ia sangat marah. Sangat sedih. Kenapa Sungmin harus menjadi kakak Hyeri?
“Unnie?” terdengar suara Hyeri di depan kamarnya.
“Masuk.” Kata Miyoung pelan.
Hyeri membuka pintu dan menutupnya kembali.
“Ada apa, Unnie?” ia duduk di depan Miyoung.
“Uljimarayo, Unnie. Sebenarnya ada apa?” tanyanya lagi.
“Apakah Lee Sungmin benar-benar kakak kandungmu?” tanya Miyoung.
“Ne. Wae?”
Air mata Miyoung mengalir makin deras.
“Apakah Unnie marah karena Umma dan Appa mengangkat Sungmin Oppa sebagai anak tanpa mendengar persetujuan Unnie?”
Miyoung menggeleng.
“Lalu kenapa?”
“Aku tidak peduli mereka mau mengadopsi siapapun. Aku hanya marah ketika mereka mengadopsi Sungmin.”
“Wae, Unnie? Apa Unnie membenci Sungmin Oppa?”
Miyoung menggeleng.
“Lalu kenapa?”
“Aku mencintai Sungmin.” Aku Miyoung, membuat Hyeri terkejut.
“Unnie?”
“Kami sudah dekat sejak di SMA. Tapi aku baru mencintainya selama setahun ini. Karena itulah aku tidak setuju.”
“Unnie, mianhae. Aku tidak bisa membantumu, Unnie. Sekarang, Appa dan Sungmin Oppa sedang pergi ke kantor pemerintah untuk memasukkan nama Sungmin Oppa ke dalam kartu keluarga kita dan mengubah nama Oppa.” Kata Hyeri sedih.
“Gwaenchana, Hyeri-ah. Gwaenchana.”
Hyeri menatap Miyoung sedih.
“Unnie, kau tahu?”
“Apa?”
“Aku senang sekali Unnie mau bercerita padaku. Biasanya Unnie cuek padaku. Tapi, kali ini tidak. Aku senang sekali, Unnie.”
Miyoung tersenyum.
“Aku berjanji akan menjadi kakak yang baik untukmu, Hyeri.” Katanya sambil tersenyum. Air matanya sudah mengering.
“Unnie tidak menjadi baik karena Oppa juga akan tinggal di sini, kan?” goda Hyeri.
“Tentu saja tidak.” Kata Miyoung.
“Kau akan tetap bekerja di mini market itu?” tanya Miyoung.
“Ne.”
“Kau masih kuliah kan? Hari Senin sampai Kamis?”
Hyeri mengangguk.
“Jadi, kau bekerja hanya di hari Jumat sampai Minggu saja?”
“Aniya. Aku bekerja hanya di hari Jumat dan Sabtu. Minggu aku di rumah saja. Beristirahat, belajar, berjalan-jalan.”
Miyoung tertawa.
“Itulah kehidupan anak muda, Hyeri-ah. Berjalan-jalan. Kenapa kau malah memilih bekerja?”
“Mollayo. Aku hanya ingin bisa menghasilkan uang dengan jerih payahku sendiri. Nah, Unnie, aku kembali ke kamar, ya.”
“Ne.”
Hyeri keluar dari kamar Miyoung. Ponselnya berbunyi.
“Yoboseyo.”
“Hyeri-ah, ini aku, Kyuhyun.”
“Kyuhyun-ssi, ada apa?”
“Aku hanya ingin mengecek apakah nomor yang kau berikan benar.”
Hyeri tertawa.
“Hanya itu?” Hyeri masuk ke kamarnya dan berbaring di kasur.
“Tidak juga. Aku ingin bertanya, apa besok kau ada acara?”
“Tidak. Kurasa tidak.”
“Kalau begitu, maukah kau menemaniku pergi ke Lotte World?”
“Lotte World? Apa yang akan kau lakukan di sana?”
“Bermain, bersamamu.”
Hyeri tertegun. Seriuskah ucapan Kyuhyun yang meminta izin Sungmin untuk mendekatinya?
“Hyeri-ah? Kau masih di sana?”
“Ne.”
“Jadi, kau mau kan?”
“Ne. Aku mau. Kau serius, ya?”
“Apanya?”
“Tadi siang, kau meminta izin Oppa untuk mendekatiku.”
“Tentu saja. Wae? Kau tidak suka?”
“Bukan begitu.”
“Oke, sampai jumpa besok, Hyeri-ah! Besok aku akan menjemputmu!”
“Ne.” Hyeri menutup telepon. Ia baru sadar hatinya berdebar. Kenapa sih aku ini? pikir Hyeri.
...
“Hyeri-ah! Ada temanmu di depan!” teriak Miyoung sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Hyeri.
“Ne, Unnie.” Dengan malas, Hyeri keluar kamarnya dan menemui tamunya itu.
“Kyuhyun-ssi!” ia terkejut ketika melihat tamunya di ruang tamu. Ia duduk di sofa di ruang tamu. Lalu Hyeri duduk di sebelah Kyuhyun.
“Kenapa kau datang kemari?” tanya Hyeri.
“Kau lupa dengan janjimu untuk menemaniku ke Lotte World?”
“Ah! Aku lupa! Aku  bersiap-siap dulu, ya! Kalau agak lama tidak apa-apa, kan?”
Kyuhyun tersenyum dan mengangguk.
Hyeri dengan cepat berganti baju dengan hot pants berwarna putih dan kaus lengan sesiku berwarna abu-abu dengan polkadot warna-warni. Ia menyampirkan tas di pundaknya dan tak lupa ponselnya, lalu turun ke bawah. Sebelumnya ia sudah memakai sunblock, bedak, dan juga lipbalm.
“Kyuhyun-ssi, aku sudah siap.” Kata Hyeri sambil merapikan bagian bawah bajunya.
“Hyeri-ah, kau mau ke mana?” tanya Sungmin.
“Oh, Oppa! Oppa darimana?”
“Ke rumah Kyuhyun, mengambil barang-barangku di sana.”
“Oh,” Hyeri mengangguk-angguk mengerti.
“Kau mau ke mana?” Sungmin mengulangi pertanyaannya.
“Ke Lotte World.”
“Lotte World? Dengan siapa?”
“Denganku lah, Hyung. Siapa lagi?” tanya Kyuhyun.
“Hah? Denganmu?”
Hyeri mengangguk dan duduk di depan mereka berdua.
“Ne. Kemarin malam ia mengajakku.”
“Kau harus memulangkannya dengan selamat, Kyu.”
“Ne, Hyung. Kami pergi dulu.”
Kyuhyun merangkul Hyeri.
“Jangan pergi lama-lama!”
“Ne, Oppa!” sahut Hyeri. Kyuhyun membukakan pintu mobil untuk Hyeri, bersikap gentleman.
Sungmin tersenyum menatap keduanya. Setelah mobil Kyuhyun meninggalkan rumah keluarga Han, ia masuk dan membawa kedua kopernya ke lantai 2, ke kamarnya. Di lantai 2, ia bertemu dengan Miyoung yang baru keluar dari kamarnya.
“Miyoung-ah. Akhirnya kita bisa jadi saudara. Aku sangat senang.” Kata Sungmin. Miyoung memakai sweater dan celana selutut, menatapnya dengan tatapan yang susah diartikan.
“Miyoung-ah? Kau kenapa?” tanya Sungmin.
Miyoung menggeleng. Kemudian ia cepat-cepat pergi dari situ, tapi Sungmin menahan tangannya.
“Kau kenapa? Apa sebegitu bencinya kau padaku sehingga menjawab pertanyaanku pun kau tidak mau?” tanya Sungmin dengan tatapan tajam. Miyoung tidak mau menatap Sungmin, ia menunduk, menatap lantai.
“Tatap mataku, Miyoung-ah.”
Miyoung akhirnya menatap Sungmin, matanya berkaca-kaca.
“Kau kenapa? Kenapa kau menghindariku? Apa aku bukan orang yang baik untuk menjadi saudaramu?”
Miyong tidak menjawab.
“Jawab aku, Miyoung-ah!”
“Kau orang yang baik, Sungmin-ah.”
“Lalu? Kenapa kau menghindariku?”
“Aku menghindarimu karena aku mencintaimu.” Miyoung menarik tangannya dari genggaman Sungmin dan turun dengan cepat.
“Miyoung-ah!” Sungmin mengejar Miyoung.
“Sungmin-ah? Ada apa?” tanya Tuan Han.
“Mollayo, Appa. Pokoknya sekarang aku harus mengejarnya. Annyeong!”
Sungmin berlari cepat mengejar Miyoung yang berlari menembus kerumunan orang. Lalu ia melihat Miyoung menyebrang jalan dengan cepat, dan ada sebuah mobil yang hampir menabraknya.
“MIYOUNG-AH!!!” Sungmin berlari dan mendorong Miyoung, sehingga Miyoung jatuh di trotoar, sementara Sungmin tertabrak.
“Sungmin-ah!” teriak Miyoung dengan air mata bercucuran deras.
“Sungmin-ah! Bangun, Sungmin-ah! Sungmin-ah!”
Miyoung mengeluarkan ponselnya, dan dengan tangan bergetar, ia menelepon Hyeri.
“Yoboseyo, Unnie.”
“Hye... Hyerin-ah...”
“Unnie, ada apa?”
“Sungmin-ah, Hyeri. Sungmin-ah!”
“Ada apa dengan Oppa?”
“Dia.. dia kecelakaan.”
“MWO?!”
“Cepat ke jalan XXX, kami ada di situ.”
“Ne, ne. Aku akan ke sana segera.” Telepon ditutup.
Mata Sungmin terbuka sedikit.
“Sungmin-ah, kau harus bertahan. Kau masih punya adik yang baru saja kau temui, kau harus menjaganya, Sungmin-ah!”
Sungmin tersenyum, nafasnya tersenggal-senggal.
“Mi... Miyoung-ah, tolong... jaga Hyeri untukku.”
“Tidak, Sungmin-ah. Kau harus menjaganya sendiri!”
“Katakan padanya... aku menyayanginya.”
“Katakan sendiri padanya, Sungmin-ah!”
“Annyeong, Miyoung-ah. Sampaikan ucapan selamat tinggalku... pada Umma, Appa, Hyeri, dan Kyuhyun.” Sungmin menutup matanya.
“SUNGMIN-AH!!!!!!!!!” teriak Miyoung. Air matanya mengalir dengan deras.
“Unnie!” teriak Hyeri, mendekati Miyoung dan duduk di sebelah Miyoung.
“OPPAAAAA!” teriaknya, air matanya mengalir dengan deras. Kyuhyun duduk di sampingnya.
“Noona, ayo kita bawa Sungmin Hyung ke rumah sakit,” katanya.
Miyoung menutup mulutnya dengan tangan kanan, ia menangis deras dan menggeleng.
“Wae, Unnie?! Wae?! Kenapa kau melarang kami untuk membawa Oppa ke rumah sakit?!” teriak Hyeri histeris.
“Hyeri-ah...” ia memeluk Hyeri, tapi Hyeri melepaskan diri dari pelukan Miyoung.
“Jangan katakan Oppa...”
“Sungmin-ah sudah meninggal, Hyeri-ah...”
“TIDAK MUNGKIN! Sungmin Oppa adalah orang yang kuat, Unnie. Kami juga baru saja bertemu. Ia tidak mungkin pergi meninggalkanku. Oppa! Oppa! Bangunlah! Kau pasti bercanda kan, Oppa?! Ya, kan?!” Hyeri menggungcangkan tubuh Sungmin, sementara Kyuhyun sudah menangis dalam diam di sebelahnya.
“Oppa! Oppa, BANGUN! Kau pasti hanya bercanda kan, Oppa! Oppa!”
“Hyeri-ah,” Kyuhyun memeluk Hyeri yang menangis tersedu-sedu dan histeris.
“Oppa...” panggil Hyeri pelan. Walaupun ia tahu, Sungmin takkan pernah menyahut.
...
Sudah siang. Hyeri dan Kyuhyun berada di tepi laut untuk menyebarkan debu Sungmin. Kyuhyun terus merangkul Hyeri sepanjang waktu.
Dengan perlahan, Hyeri menyebarkan debu kakaknya yang menyatu dengan alam. Air matanya mengalir makin deras. Tiba-tiba ia berdiri. Ia melemparkan semua debu Sungmin ke laut.
“OPPAAAA!!!!!” teriaknya dengan suaranya yang melengking.
“Kenapa kau meninggalkanku secepat ini, Oppa?! KENAPA?! Kita baru saja bertemu lagi kemarin, Oppa! Kenapa kau meninggalkanku secepat ini?! Apa kau sudah tidak sayang lagi padaku?! Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku lagi!” teriaknya.
Kyuhyun memeluknya.
“Kita sudah selesai kan? Lebih baik kita pulang sekarang, Hyeri-ah.”
“Tunggu sebentar.”
Hyeri duduk lagi, melepas sarung tangan kanannya dan menyentuh air laut perlahan.
“Aku menyayangimu, Oppa. Aku akan selalu menyayangimu.” Kemudian ia memegang kalungnya dengan tangan basah.
“Aku ingin agar kau selalu ada di hatiku, Oppa. Tolong jangan pergi dari hatiku,” katanya lirih.
“Kkaja, Hyeri-ah.” Kyuhyun merangkul Hyeri dan mereka berjalan bersama meninggalkan pantai itu.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sangat dikenal Hyeri, yang membuatnya menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
“Aku juga menyayangimu, Hyeri-ah. Aku akan selalu berada di hatimu,” kata Sungmin.
Di langit sore yang cerah itu, terlihat wajah Sungmin yang sedang tersenyum padanya. Hyeri balas tersenyum dan berbalik, mengikuti Kyuhyun meninggalkan tempat itu.
2 bulan kemudian...
Kyuhyun menunggu Hyeri di tepi jalan sambil bersandar di kap mobilnya. Hyeri kembali dari pantai dan terkejut melihat Kyuhyun yang menunggunya. Ia berhenti beberapa meter di depan Kyuhyun.
“Kenapa kau di sini?” tanyanya polos. Matanya sembab.
“Karena aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
Hyeri diam, memberi kesempatan pada Kyuhyun untuk melanjutkan kalimatnya.
“Saat itu, sesaat sebelum kita berangkat ke Lotte World, saat kau sedang bersiap-siap. Hyung menginginkanku untuk melakukan sesuatu.”
Hyeri tetap diam.
“Ia ingin aku menjagamu.”
Air mata Hyeri menetes.
“Saat itu aku heran dan bertanya, kenapa ia berkata seperti itu. Tapi ia hanya tersenyum dan tidak menjawab. Setelah kecelakaan itu, aku jadi tahu apa maksud Hyung.”
“Lalu apa yang kau mau katakan? Itu saja?”
“Aniya. Aku ingin mengatakan yang lain.”
“Apa itu?”
“Saranghae.” 1 kata yang keluar dari mulut Kyuhyun itu cukup untuk membuat Hyeri menahan nafas.
“Bukannya aku mau memanfaatkan keadaan, tapi aku hanya ingin mengucapkannya. Saranghae. Dan tolong, jangan menjauhiku. Hyeri-ah.”
Hyeri tersenyum. Hatinya sangat senang. Sejak 2 bulan yang lalu, setelah Sungmin meninggal, Kyuhyun memang sering menunjukkan perhatiannya, dan itu membuat Hyeri jatuh cinta padanya. Kyuhyun berjalan mendekatinya dan berhenti tepat di depannya. Ia baru sadar kalau Kyuhyun sangat tinggi. Ia sampai harus mendangak kalau mau melihat wajah Kyuhyun.
“Maukah kau menjadi yeoja chinguku?” tanyanya.
Hyeri tersenyum dan mengangguk.
“Apa kau serius? Aku tidak mau kau menerimaku hanya karena... kau tahu.”
“Aniya. Aku menerimamu karena aku juga mencintaimu.”
Kyuhyun langsung memeluk Hyeri. Hyeri pun membalas pelukannya.
“Saranghae, Hyeri-ah.” Bisiknya.
“Nado, Kyuhyun-ah.”
...
Sudah setahun setelah Sungmin meninggal. Hyeri duduk di kursi di ruang rias pengantin di sebuah gedung.
“Hyeri-ah,” panggil Miyoung, menyadarkan Hyeri dari lamunannya.
“Wae, Unnie?”
“Kenapa melamun? Ini kan pernikahan yang kau inginkan?”
Hyeri tersenyum.
“Ada apa?” tanya Miyoung.
“Hari ini, tepat satu tahun 2 bulan yang lalu, Oppa meninggal. Aku sangat sedih ia tidak bisa melihatku menikah dan bahagia, Unnie.” Air matanya menetes.
“Uljimarayo, Hyeri-ah.  Sungmin pasti melihatmu dari atas sana.”
Hyeri tersenyum.
“Ngomong-ngomong, mana Junghyun Oppa?” Hyeri menanyakan keberadaan kakak iparnya, suami Miyoung. Mereka menikah 5 bulan yang lalu.
“Di ruang rias Kyuhyun. Ia ingin berbicara dengan Kyuhyun sebentar.”
Hyeri mengangguk.
“Chagiya,” panggil Junghyun di depan ruang rias Hyeri. Miyoung menoleh dan tersenyum.
“Gidaryo, Chagiya. Nah, Hyeri, aku keluar dulu, ya. Nanti kita bertemu di luar.” Miyoung keluar menemui suaminya.
Hyeri berdiri dan berjalan menuju jendela. Ia menatap ke langit sore yang sangat indah itu.
“Oppa, mungkin saat ini kau dan kedua orang tua kita sedang melihatku dari atas sana. Sebenarnya, aku ingin kau bisa melihat langsung pernikahanku ini, Oppa. Dengan berada di sampingku. Aku ingin kalian berada di sampingku saat ini dan menyaksikanku menaiki altar. Aku ingin Appa menuntunku ke altar,” Hyeri menunduk, air matanya menetes lagi. Ia memang tidak pernah bisa tidak menangis jika mengingat keluarganya.
“Oppa, kau setuju kan, aku menikah dengan Kyuhyun? Aku ingat, kau pernah bilang, kau akan tenang jika Kyuhyun yang memilikiku karena kau mengenalnya. Seperti itukah perasaanmu sekarang, Oppa?”
“Hyeri-ah.” Panggil appanya. Hyeri menghapus air matanya dan menoleh.
“Wae, Appa?”
“Sekarang waktunya kita keluar.”
“Ne, Appa.”
Tuan Han menuntun Hyeri ke altar, dan menyerahkannya pada Kyuhyun. Saat akhirnya pendeta menyatakan mereka sudah resmi menjadi suami istri, Kyuhyun menatapnya sambil tersenyum, dan perlahan, menciumnya. Tepuk tangan membahana di ruangan itu.
Sementara itu, di sudut ruangan, seorang namja yang memakai jas putih dan celana putih mengamati pasangan baru itu sambil tersenyum.
“Gomawo, Kyuhyun-ah. Kau bisa menggantikan tempatku menjaga Hyeri. Aku menyerahkan Hyeri padamu, Kyuhyun-ah. Sekarang tugasku sudah selesai, Hyeri-ah. Mulai sekarang Kyuhyunlah yang akan menjagamu. Meskipun begitu, Oppa akan tetap memperhatikanmu dari atas sana.” Katanya sambil tersenyum, kemudian ia menghilang.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar