Halaman

Jumat, 09 Desember 2011

Shining Star Part 2

“Ne, gidaryo!” Yumi berjalan ke pintu dan membukanya. Ia terkejut melihat siapa yang berdiri di depan apartemennya.
“Annyeonghaseo, Yumi-ah!” sapa Jung Ilwoo.
“Mau apa kau datang kemari?!” bentak Yumi.
“Kenapa aku tidak boleh mengunjungi yeoja chinguku sendiri?”
“Aku sudah bukan yeoja chingumu lagi! Hubungan kita sudah berakhir!” Yumi langsung menutup pintu. Air matanya mengalir.
“Yumi-ah! Buka pintunya! Biarkan aku menjelaskannya padamu! Itu semua salah paham!”
“Aniya! Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, Jung Ilwoo! Yeoja itu juga mengaku dia yeoja chingumu, lalu apa lagi yang harus dijelaskan? Semua sudah jelas! Tidak ada salah paham! Sekarang pergi!”
“Yumi-ah!”

“PERGIIII!!!!!” teriak Yumi. Ia menendang pintu. Ilwoo terkejut.
“Oke. Aku akan pergi. Tapi lain kali aku akan datang lagi, Yumi-ah!”
“Jangan datang lagi! Jangan pernah muncul lagiii!!!!” teriak Yumi.
Ilwoo meninggalkan apartemen Yumi. Perlahan, Yumi berjalan ke ruang tengah dan duduk di lantai. Ia meraih ponsel yang ia letakkan di meja dan mengirim sebuah pesan.
Jung Ilwoo kembali.
Yumi meletakkan ponselnya di lantai dan kembali menangis. Ponselnya berbunyi. Yumi mengeceknya. Ia heran, kenapa Minho mengiriminya pesan?
Jung Ilwoo siapa?
Yumi menepuk dahinya. Ia salah kirim! Harusnya pesan itu terkirim pada temannya Choi Hyun Ah. Bagimana ini? Akhirnya Yumi memilih untuk tidak membalas pesan itu. Tapi, beberapa menit kemudian Minho malah meneleponnya.
“Annyeonghaseo.”
“Yumi-ssi? Apa kau menangis?”
Yumi menelan ludah. Apa terdengar sangat jelas kalau ia habis menangis?
“Aniya, Oppa. Aku agak pilek. Wae?”
“Aku penasaran dengan pesanmu tadi. Jung Ilwoo kembali? Siapa Jung Ilwoo?”
“Bukan siapa-siapa, Oppa. Oppa tidak perlu memikirkannya.”
“Kau bisa bercerita padaku. Meskipun kita baru kenal, kau bisa percaya 100% padaku.”
Yumi menggigit bibirnya.
“Aniya, Oppa. Benar, ia bukan siapa-siapa.”
“Jeongmal?”
“Ne.”
“Lalu kenapa kau menangis?”
“Oppa, sudah kubilang aku tidak menangis. Aku agak pilek.”
“Pilek? Sejak kapan? Beberapa menit yang lalu aku baru saja meneleponmu dan kau masih baik-baik saja.”
Yumi menelan ludah.
“Aku bersin tadi."
"Ya sudah. Jangan lupa minum  obat.”
“Ne. Gomawo, Oppa.”
“Cheonmaneyo. Sampai jumpa besok,”
Yumi mengangguk meski Minho tidak bisa melihatnya, lalu menutup telepon. Ia menghela nafas.
...
“Siapa yang kau telepon, Hyung?” tanya Taemin.
“Mwo?”
“Siapa yang kau telepon tadi?” ulang Taemin.
“Seseorang.” Minho tersenyum.
“Yeoja yang kau sukai?”
“Yeoja yang menarik.”
“Kapan kau bertemu dengannya?” tanya Taemin antusias.
“Tadi, di bandara. Kau ingat yeoja yang kubangunkan di pesawat tadi?”
“Ne.”
“Dialah orang yang baru saja kutelepon.”
“Kau mendapat nomornya, Hyung? Keren! Bagaimana bisa?”
“Aku memberikan nomor ponselku padanya.”
“Dia meminta nomor ponselmu?”
“Bukan. Dia hanya meminta tanda tanganku, lalu kutulis nomor ponselku dibawahnya. Aku memintanya menelponku, dan beberapa menit yang lalu dia menelepon.”
“Wow! Kenalkan padaku, Hyung! Apa yeoja itu cantik?”
Minho tertawa.
“Sudahlah, Taemin. Kapan-kapan akan kukenalkan kau padanya.”
“Benar, Hyung?”
“Benar.”
“Gomawo, Hyung.”
“Ne,” jawab Minho.
Minho menerawang. Sebenarnya ada apa dengan Yumi?
BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar