Yumi berteriak ketakutan sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba seseorang datang dan meninju namja mabuk itu. Ia membuka matanya, menyaksikan pertengkaran kedua orang di depannya. Diam-diam, ia menelepon polisi. Tak lama kemudian, polisi datang dan menangkap namja yang mabuk itu. Sementara itu, orang yang tadi menyelamatkannya menghampirnya yang duduk ketakutan.
“Gwaenchanayo?” tanyanya khawatir. Yumi mengangguk, sinar ketakutan di matanya begitu jelas. Orang itu tersenyum. Yumi tidak dapat melihat wajah orang di depannya dengan jelas karena orang itu memakai syal hingga menutupi mulutnya, kacamata hitam dan topi merah.
“Lain kali, hati-hati, ya,” katanya. Yumi mengangguk lagi.
“Mau kuantar pulang?” tawarnya. Yumi berpikir sebentar, kemudian menggeleng.
“Tidak usah, aku sudah sangat berterima kasih karena kau mau menolongku. Tapi, boleh aku tahu siapa namamu?” tanya Yumi hati-hati.
Orang itu tersenyum.
“Kau tidak perlu tahu. Kuharap, suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi, Nona.”
“Baiklah. Sekali lagi, gamhasamnida. Annyeong.” Kata Yumi, lalu pergi meninggalkan orang itu.
Orang yang sangat baik, pikir Yumi.
“Annyeonghaseo.” Yumi menerima telepon dari temannya, Kim Lina.
“Annyeonghaeo. Yumi-ah! Aku ada tawaran bagus untukmu!”
“Apa itu?”
“Oppaku baru saja membuka penerbitan baru, yaitu Sm Town, kami bekerjasama dengan SME, jadi penerbitan ini mungkin akan lebih sering menerbitkan buku yang berhubungan dengan artis SM. Seperti buku perjalanan SHINee-mu itu. Kau mau menjadi penulis pertamanya, kan?”
“Mwo? SM Town?”
“Ne. Oppaku memang sudah berencana membuka sebuah penerbitan baru.”
“Apa kali ini kau mendapat pekerjaan di sana?” Yumi tertawa kecil.
“Tentu saja. Aku menjadi direkturnya! Jadi, sebagai seorang direktur aku menawarkan sebuah kesempatan bagus untukmu. Kau mau menjadi penulis pertama yang menerbitkan bukunya di penerbitan kami, kan?” tanya Lina berharap.
“Aku punya beberapa file novel yang rencananya mau kubukukan.”
“Apa yang kau tulis di file-file itu? Fiction?”
“Tentu saja. Dan, salah satu novelku itu bintang utamanya adalah Super Junior. Judulnya It’s You, sesuai dengan lagu Super Junior favoritku. Bagaimana?”
“Setuju! Kirimkan file itu padaku sekarang juga! Oh, aniya, aniya. Kita bertemu saja di cafe siang ini!”
“Di dekat kantormu? Di kawasan Apgujeong kah?”
“Ne. Bagaimana kau bisa tahu?”
“Bukankah kau menceritakannya padaku bulan lalu?”
“Oh iya, aku lupa.”
“Dasar. Okelah, siang ini pukul berapa?”
“Pukul 10! Kau bisa, kan?”
“Ne.”
“Oh ya, kita bertemu di 9 Girls’ Cafe!”
“Aku tahu. Kau selalu meminta kita bertemu di sana.”
“Hehehe. Annyeong, Yumi-ah!”
“Annyeong!” Yumi menutup telepon.
Yumi meletakkan ponselnya di meja. Ia memasukkan laptopnya ke dalam tas, kemudian ia mengganti bajunya dengan celana jins panjang dan kaus putih polkadot jingga, dan memakai jaket kuning. Ia juga memakai sepatu hak tinggi berwarna putih. Setelah itu, ia keluar dengan membawa tasnya, tak lupa dengan tas laptop.
Yumi sudah sampai di cafe, lalu ia duduk di salah satu meja di dekat jendela di pojok dan menyalakan laptopnya. Ia membuka salah satu file novelnya dan mulai melanjutkan tulisannya itu. Ia terlalu asyik menulis sehingga ia tidak menyadari jika Lina sudah duduk di depannya.
“Yumi-ah!” teriak Lina kesal karena Yumi tidak kunjung memperhatikannya.
“Lina? Sejak kapan kau di sini?” tanya Yumi terkejut.
“Aku di sini sudah sejak tadi. Tapi kau terus saja mengetik. Kau mengetik apa sih?” tanya Lina sebal. Yumi hanya tersenyum.
“Novel terbaruku. Judulnya Romantic.”
“Fiction SHINee?”
Yumi mengangguk mantap.
“Jalan ceritanya kau ambil dari lagu itu, kan?”
“Tepat.”
“Jadi, apa novel itu sudah selesai?”
“Sedikit lagi. Aku tinggal menulis epilognya saja.”
“Oke. Bagaimana kalau kau menerbitkan keduanya sekaligus? Pasti keren! Kalau bisa, nanti saat peluncuran bukumu, kita undang Super Junior dan SHINee! Ne! Itu pasti keren!” saran Lina, seketika lupa dengan rasa kesalnya.
“Peluncuran bukuku? Tinggal diterbitkan dan dijual di toko buku saja, kan? Tidak perlu harus diadakan peluncuran buku segala. Memangnya aku artis?”
“Ne! Kau itu artis! Kau sadar tidak? Kau itu salah satu penulis buku terkenal di Korea! Sejak SHINee, The Shining Star Forever-mu diterbitkan, kau menjadi salah satu penulis buku favorit di negeri ini! Kantor kakakku kebanjiran surat dan email setiap harinya untukmu!”
“Mwo? Tapi aku tidak menerima satupun surat atau email. Yah, memang sih, sejak buku itu diluncurkan, aku belum membuka emailku.”
“Suratnya ada di rumahku, hehehe. Aku ingin memberikannya padamu, tapi kau sedang di Singapura saat itu. Kau bisa mengambilnya nanti, atau nanti akan kusuruh salah satu pegawaiku untuk mengantarnya ke apartemenmu.”
Yumi hanya memandang Lina tidak mengerti, lalu melanjutkan mengetik. Lina menunggunya sambil meminum kopi panasnya.
“Selesai!” seru Yumi riang.
“Mwo? Sudah selesai? Sini, berikan padaku! Keduanya akan kuterbitkan, sekaligus akan kubuatkan sebuah acara peluncuran buku ini untukmu. Aku akan meminta bantuan pihak SM. Siapa tahu mereka akan menyuruh Super Junior dan SHINee datang.” Lina memutar laptop Yumi sehingga menghadapnya dan menancapkan flashdisknya di situ, dan mengcopy kedua file novel Yumi itu.
Yumi sendiri memainkan ponselnya. Ada 2 buah pesan masuk. Satu dari Minho, dan satunya dari nomor yang tidak dikenal. Yumi memilih membuka pesan dari nomor yang tidak dikenal terlebih dahulu.
Annyeonghaseo, Jeong Yumi-ssi! ^^ Ini aku, Key. Aku mendapat nomormu dari Dae Woo Hyung. Sedang apa kau saat ini? Oh ya, aku baru menyadarinya. Rasanya aku pernah mendengar namamu, dan aku ingat kalau aku pernah mendengar namamu saat kami berada di Singapura. Aku mendengar 2 orang fangirl sedang berbicara tentangmu. Apa kau sedang menulis buku saat ini? Aku sudah membaca bukumu tentang kami, aku meminjamnya dari Hyung. Aku sangat menyukainya! Akankah kau menerbitkan buku lagi?
Seketika Yumi serasa terbang ke langit. Idolanya, mengiriminya sebuah pesan! Apalagi ia bilang ia menyukai bukunya. Dengan cepat, ia mengetik balasannya.
Annyeonghaseo, Oppa! ^^ aku sedang bersama temanku di cafe. Jeongmal? Oppa benar-benar menyukainya? Gomawo! Aku sangat senang. Ne, aku akan menerbitkan buku lagi. 2 buku sekaligus.
“Kenapa kau senyum-senyum?” tanya Lina.
“Aniya. Salah seorang temanku mengirimiku pesan, katanya ia menyukai bukuku.” Kata Yumi sambil membuka pesan dari Minho.
Annyeonghaseo, Yumi-ah. Sedang apa kau?
Yumi baru akan membalas pesan itu ketika sebuah suara yang ia kenal memanggilnya.
“Yumi-ssi!”
Yumi terkejut melihat orang itu, bahkan Lina pun terkejut!
BERSAMBUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar