Malam itu, Yumi duduk di pinggir Sungai Han. Udara malam ini cukup dingin. Karena itu Yumi membeli secangkir kopi panas sebelum ke sini.
Yumi kembali menerawang. Mengingat kembali kejadian yang dialaminya bertahun-tahun yang lalu. Seorang namja yang baik hati, yang tidak ingin namanya diketahui. Sejak melihat senyumnya malam itu, Yumi jatuh cinta padanya. Mungkin orang lain bilang dia gila karena menyukai seorang namja tanpa identitas yang jelas, tapi Yumi tidak mempedulikannya. Namja itu sangat baik.
Yumi tersadar dari lamunannya. Ia melihat ke sekeliling. Sepi. Ia sendirian. Yumi melihat jam tangannya. Sudah pukul 1 pagi. Pantas saja. Tapi ia sama sekali tidak merasa mengantuk, tidak merasa lelah.
“Yumi-ah?”
Yumi langsung meningkatkan kewaspadaannya. Ia menoleh perlahan, dan tersenyum lega melihat siapa yang memanggilnya. Ia senang karena Key tidak memanggilnya ssi lagi.
“Key Oppa,”
“Oppa sendiri sedang apa di sini?”
“Aku tidak bisa tidur.” Key menatap langit.
“Langit malam ini indah sekali,” kata Key. Yumi menatap langit dan mengangguk.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, Yumi-ssi. Sedang apa kau malam-malam begini? Kau tidak takut?”
“Untuk apa takut? Takut pada siapa?”
Key berdehem.
“Pemabuk.” Katanya pelan. Yumi menatap permukaan air di bawah kakinya.
“Para pemabuk itu justru mengingatkan aku pada seseorang.”
“Ne? Nugu?”
“Seseorang yang pernah menolongku dari seorang pemabuk.”
Key melongo.
“Wae?” tanya Yumi.
“Aniya. Aku hanya teringat pada seorang yeoja yang pernah kutolong dari pemabuk, sama sepertimu.”
JEDER!
Sebuah petir muncul di dalam hati Yumi. Hatinya terasa sakit. Ia marah. Entah kenapa. Ia mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya.
“A, apa Oppa menyukainya?”
Key memandang lagit.
“Ne.”
Yumi meremas gelas kopinya yang telah kosong. Air matanya sudah di ujung. Ia berusaha mati-matian untuk menahannya.
“Kau kenapa, Yumi-ssi?” tanya Key yang heran melihat Yumi menunduk dan meremas-remas gelas kopinya.
“Gwaenchana.” Jawab Yumi singkat. Ia menunduk, membiarkan rambutnya jatuh menutupi wajahnya. Air matanya mengalir, dan jatuh di tangannya. Key yang melihatnya terkejut. Ia menyibak rambut Yumi. Ia terkejut melihat air mata Yumi, dan memeluknya. Cukup lama Key memeluk Yumi hingga akhirnya Yumi melepaskan diri dari pelukan Key.
“Kau kenapa, Yumi-ssi?” tanya Key.
Yumi tidak menjawab, ia sibuk menghapus air matanya.
“Yumi-ah!” teriak Key. Ia kesal kalau Yumi tidak menjawab pertanyaannya.
“Mwo?!” balas Yumi. Air matanya kembali mengalir.
“Kau kenapa? Apa aku mengucapkan kata-kata yang salah?”
Yumi tidak menjawab. Kali ini Key tidak kesal.
“Apa kau cemburu karena aku bilang aku menyukai yeoja yang kutolong?”
Yumi terkejut dan menunduk, memandang air sungai di bawah kakinya. Key tertawa.
“Yumi-ah, kau sangat pabo...” katanya.
“Yeoja yang kumaksud itu kau, Yumi-ah.” Key masih tertawa. Yumi terkejut dan menatap Key yang masih tertawa.
“Mwo?”
“Yeoja yang kutolong itu kau, Yumi-ah. Kau ingat itu, kan? Kau cemburu pada dirimu sendiri? Dasar pabo.” Key tertawa lagi.
“Ku, kupikir, Oppa juga pernah menolong yeoja lain.” Yumi menatap air, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
“Kalau kau malu, kau terlihat manis,” puji Key.
“Maukah kau menjadi yeoja chinguku, Yumi-ah?” tanya Key. Pertanyaan Key membuat Yumi menatap Key.
“Kau mau menjadi yeoja chinguku, kan?” tanya Key lagi. Yumi tersenyum.
“Ne.” Jawabnya. Key tersenyum.
“Saranghae, Yumi-ah.” Key mencium puncak kepala Yumi.
“Nado, Oppa.”
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar