Halaman

Jumat, 09 Desember 2011

Shining Star

Sebuah pesawat mendarat di Incheon International Airport. Pesawat itu baru tiba dari Singapura. Seorang yeoja yang tertidur sambil mendengarkan lagu boyband favoritnya, SHINee, dari iPodnya. Ia terbangun karena sebuah sentuhan lembut di pundaknya.
“Nona, bangunlah,” kata suara itu. Suara berat seorang namja yang tampan. Yeoja itu terbangun dan refleks melepas headsetnya dan menoleh. Ia menahan nafas ketika melihat namja yang membangunkannya.
“Ssst!” kata namja itu sambil mengerling. Kemudian, namja itu berdiri dan mengikuti teman-temannya turun dari pesawat, meninggalkan yeoja yang bernama Jeong Yumi itu ternganga di kursinya. Yumi tersadar dari kekagetannya dan segera meninggalkan pesawat itu setelah memastikan barang-barangnya tidak ada yang tertinggal.
Yumi berlari ke ruang kedatangan, berharap bisa bertemu dengan namja yang membangunkannya tadi.
“Aish, kenapa aku harus tertidur tadi?” desahnya. Akhirnya ia pergi ke tempat pengambilan bagasi untuk mengambil kopernya. Sambil menunggu kopernya, ia menyalakan BBnya. Ia membuka twitter, dan menulis sebuah tweets.

Jeong Yumi Bertemu Minho... apakah aku bermimpi?! Kuharap tidak...
Ia melihat lagi ke arah tempat keluarnya koper-koper. Itu dia kopernya. Hup! Ia berhasil mendapatkan kopernya dan langsung meletakkannya ke lantai.
“Aigoo!” teriak seorang namja. Kakinya ‘kejatuhan’ koper Yumi.
“Mianhae, gwaenchanayo?” tanya Yumi khawatir.
“Ne, gwaenchana.” Jawab namja itu sambil meringis. Kakinya masih sakit. Yumi terkejut melihat namja yang memakai kacamata hitam dan topi hijau itu.
“Ssst!” namja itu tersenyum.
“Aku akan diam, tapi, bisakah Oppa menandatangani bukuku ini?” Yumi langsung mengeluarkan sebuah buku dan sebuah pulpen dari tasnya. Sebuah buku yang berjudul SHINee, The Shining Star Forever yang ditulis sendiri olehnya. Namja itu tersenyum, menerima pulpen itu dan menandatanganinya.
“Buku yang bagus,” pujinya.
“Gomawo, aku yang menulisnya. Aku Jeong Yumi, senang bertemu denganmu, Oppa!”
Namja yang ternyata Minho itu tersenyum.
“Senang bertemu denganmu, Jeong Yumi-ssi! Semoga kita bisa bertemu lain waktu. Aku pergi dulu!” Minho tersenyum lagi dan meninggalkan tempat itu setelah mengembalikan pulpen Yumi. Yumi masih berdiri terpaku di tempatnya. Ia baru tersadar ketika seseorang menabraknya.
“Mianhae,” katanya sambil membungkuk, lalu membawa kopernya pergi. Ia naik taksi kembali ke apartemennya. Di taksi, ia baru sadar, sepertinya Minho tidak mengambil kopernya atau apapun di tempat pengambilan bagasi tadi. Mereka tentunya punya seseorang yang bertugas mengambil koper mereka setiap mereka sampai di bandara. Jadi, untuk apa Minho ke sana?
Yumi mengeluarkan buku yang ditandatangani oleh Minho tadi. Ia baru sadar Minho menulis sesuatu di bawah tanda tangannya. Sebuah nomor ponsel dan 2 buah kata di sampingnya.
Call me ;)
Yumi hampir saja berteriak kegirangan jika ia tidak ingat ia ada di taksi. Taksinya sampai di apartemen. Ia membayar ongkos dan membawa kopernya masuk ke apartemen nomor 505. Dengan cepat. Ia tidak sabar untuk menghubungi Minho. Ini sebuah anugrah terbesar untuk SHAWOL seperti dirinya. Mendapat nomor ponsel idola dengan cuma-cuma? It’s amazing!
Yumi duduk di sofa di ruang tengah apartemennya, dan mulai mengetik nomor ponsel yang diberikan Minho. Yumi menekan tombol hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga. Ia sangat berharap.
“Annyeonghaseo.” Terdengar suara Minho. Yumi merasa lega sekaligus berdebar.
“Annyeonghaseo. Siapa ini?” terdengar lagi suara Minho.
“Annyeonghaseo. I, ini aku, Jeong Yumi, yang bertemu dengan Oppa di bandara tadi. Oppa masih ingat kan?” tanya Yumi sambil berharap.
“Oh, Jeong Yumi? Ne, aku ingat. Aku menuliskan nomor ponselku di bukumu.”
Yumi tersenyum senang. Tanpa sadar ia berdiri dan melompat-lompat saking senangnya.
“Yumi-ssi, kau sedang apa sekarang?” tanya Minho.
“Aku sedang... tidak melakukan apa-apa. Aku baru sampai di apartemenku.”
“Kau sudah makan siang?”
“Belum, nanti aku akan makan.”
“Jangan lupa makan, ya. Nanti kau sakit.”
“Ne, Oppa. Oppa sudah makan?”
“Setelah ini aku akan makan.”
“Kalau begitu, aku tutup teleponnya ya, Oppa.”
“Ne. Lain kali aku akan meneleponmu. Annyeong, Yumi-ssi!”
“Annyeong, Oppa!”
Yumi menutup telepon. Ia melompat-lompat saking senangnya. Lalu terdengar bel.
“Ne, gidaryo!” Yumi berjalan ke pintu dan membukanya. Ia terkejut melihat siapa yang berdiri di depan apartemennya.
BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar