Halaman

Jumat, 09 Desember 2011

Blue Butterfly

Flashback
“Oppa!”  terdengar suara seorang yeoja.
“Hyeri-ah!” namja yang dipanggilnya berseru.
“Aku punya sesuatu untukmu.” Kata namja kecil itu.
“Apa itu?”
“Ini!” namja kecil itu menunjukkan sebuah kalung dengan bandul kupu-kupu berwarna biru.
“Wah! Bagus sekali!” seru Hyeri saat oppanya memakaikan kalung itu ke lehernya.
“Jangan sampai hilang, ya!”
“Ne!” Hyeri mengangguk dengan cepat.
Flashback End

“Hyeri-ssi!” panggil seseorang. Hyeri menoleh.
“Ne?”
“Kau mau berangkat kerja, ya?”
“Ne. Ini hari pertamaku bekerja, aku tidak mau terlambat.”
“Oke. Hwaiting!”
“Ne. Annyeong, Yuri-ssi!”
“Annyeong!”
Hyeri kembali berjalan. Akhirnya ia sampai di tempat kerjanya yang baru, sebuah minimarket. Ia masuk melalui pintu belakang, langsung ke ruang karyawan. Ada 2 namja di sana. Mereka berdua menatapnya yang baru datang.
“Annyeonghaseo, choneun Han Hyeri imnida. Ini hari pertamaku bekerja, jadi mohon bantuannya.” Ia tersenyum dan membungkuk.
“Ne, Cho Kyuhyun imnida.” Kata salah satu namja itu.
“Choneun Lee Sungmin imnida.” Namja yang lain tersenyum padanya. Tapi Hyeri malah menatap Sungmin aneh.
“Kkaja, Han Hyeri-ssi.” Kata Kyuhyun.
“Ne.” Sahutnya.
“Pekerjaan utamamu adalah menjadi kasir dan menyapa pengunjung. Kau tahu bagaimana cara memproses mesin kasir, kan?” tanya Kyuhyun saat mereka sudah berada di minimarket.
“Ne. Aku pernah bekerja sebagai kasir di restiran keluarga.”
“Oke. Sugohaseyo.”
Hyeri berdiri di belakang mesin kasir dan mengamati Lee Sungmin yang sedang memasukkan berbotol-botol minuman ke kulkas. Tiba-tiba Lee Sungmin menatapnya dan terenyum padanya. Hyeri balas tersenyum sebelum akhirnya ia memain ponselnya. Tepat saat itu, ada sebuah pesan yang masuk.
Sender : Han Miyoung
Di mana kau?! CEPAT PULANG!!!!
Hyeri menghela nafas. Ia agak merasa bersalah.
Klining!
Seorang pengunjung datang.
“Selamat da...” Hyeri langsung membawa pengunjung itu keluar. Kyuhyun dan Sungmin yang melihatnya heran.
“Nona! Ternyata Nona di sini?” tanya pengunjung itu, yang ternyata adalah pembantu di rumah Hyeri.
“Jangan katakan pada Umma, Appa, ataupun Unnie kalau aku di sini. Mereka tidak boleh tahu aku ada di sini! Arachi?”
“Tapi, kasihan Nyonya, Nona.”
“Ssst! Jangan cerita apapun lagi padaku! Pokoknya aku tidak akan pulang sebelum aku menemukan kakakku!”
Pembantunya itu menjadi agak takut melihat majikannya marah, dan akhirnya ia mengangguk.
“Kau jangan belanja di sini lagi. Belanja di tempat lain!” perintahnya.
“Ne, Nona.” Ia pergi. Hyeri menghela nafas dan kembali masuk ke minimarket.
“Han Hyeri-ssi!” panggil Kyuhyun.
“Ne?”
“Apa-apaan kau ini! Ada pelanggan bukannya kau sambut dengan baik malah kau usir. Kenapa kau ini? Kalau manager tahu, ia bisa memecatmu!”
“Ah?! Mianhae, mianhae. Aku tidak akan mengulanginya lagi!” Hyeri cepat-cepat meminta maaf dan membungkuk beberapa kali. Saat itulah kalung yang ia kenakan di balik kausnya keluar dan terlihat. Sungmin menatap kalung itu terus, teringat akan sesuatu.
“Jangan ulangi lagi!” bentak Kyuhyun.
“Ne, mianhae!” Hyeri membungkuk lagi.
Tak terasa, hari sudah siang. Seorang pengunjung datang. Seorang yeoja.
“Selamat datang!” sapa Hyeri sambil membungkuk, ia tersenyum lebar. Yeoja itu memperhatikannya terus, Hyeri jadi merasa canggung. Yeoja itu kemudian membawa minum yang akan ia beli ke kasir.
“Permisi,”
“Ne?” tanya Hyeri dengan riang.
“Siapakah namamu? Sepertinya aku mengenalmu.”
“Oh, Han Hyeri imnida.”
“Han Hyeri?”
“Ne. Wae?”
“Aniya. Sepertinya aku salah mengenalmu. Kau mirip sekali dengan salah seorang temanku saat aku masih kecil dulu.”
Hyeri tersenyum.
“Totalnya 5000 won.”
Yeoja itu menyerahkan uangnya.
“Gamsahamnida.”
Tidak sengaja Hyeri melihat Sungmin sedang memperhatikannya. Ia membungkuk dan tersenyum padanya, kemudian duduk di kursinya. Sungmin baru akan menghampiri Hyeri ketika Kyuhyun berteriak.
“Hyeri-ssi!”
“Ne?”
“Ponselmu berdering!”
Hyeri langsung berlari kecil dan mengangkat telepon setelah mengambil ponselnya dari tangan Kyuhyun.
“Yoboseyo.” Sungmin hanya mendengar kata itu, karena kemudian Hyeri keluar untuk menerima telepon. Tak lama kemudian, Hyeri kembali, tapi Sungmin tidak menyadarinya karena ia melamun di balik mesin kasir.
“Sungmin-ssi?”
Sungmin terkejut dan jatuh.
“Sungmin-ssi! Gwaenchanayo?” Hyeri membantu Sungmin berdiri.
“Ne, gwaenchana.” Sungmin berdiri dengan berpegangan pada meja.
“Sungmin-ssi, wae? Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau terkejut begitu?”
“Mana Kyuhyun?” Sungmin malah menanyakan Kyuhyun.
“Tadi, Kyuhyun-ssi izin pergi sebentar. Katanya tadi noonanya menelepon, meminta bertemu.”
“Oh, Cho Ara Noona.”
“Sungmin-ssi mengenal noonanya Kyuhyun-ssi?”
“Ne, ia sering datang ke sini. Kami tinggal bersama.”
“Dengan siapa?”
“Kyuhyun dan noonanya. Sejak kecil aku tinggal dengan mereka. Orang tuaku sudah meninggal, dan merekalah sahabat orang tuaku.”
Hyeri mengangguk.
“Tinggal dengan teman, ya? Senangnya.” Hyeri duduk di kursinya.
“Wae?”
Hyeri menggeleng.
“Kau bisa bercerita padaku. Pasti akan kujadikan rahasiaku yang paling besar!”
Hyeri tertawa kecil.
“Ne, dulu aku tinggal dengan oppaku. Tapi, saat itu ada gempa, dan oppa meninggalkanku. Aku menangis, dan seorang yeoja menghampiriku dan bilang akan menjadikanku anaknya. Akhirnya aku tinggal dengannya. Bisa dibilang, aku diadopsi oleh mereka.”
Dahi Sungmin berkerut mendengar cerita Hyeri. Gempa?
“Di mana orang tuamu?”
“Mereka meninggal karena gempa itu. Saat itu, mereka ada di rumah, sementara aku dan oppaku sedang bermain bersama di taman. Mereka tertimpa rumah kami yang runtuh.” Air mata Hyeri menetes.
“Mian telah membuatmu menangis. Uljimarayo,”
“Ne.” Hyeri menghapus air matanya.
“Orang tuaku juga meninggal karena gempa.”
“Mwo?”
“Ne. Aku terpisah dengan dongsaengku karena gempa itu. Aku pergi sebentar untuk mengambilkannya air minum karena ia terus menangis, dan saat aku kembali, ia sudah tidak ada. Aku mencarinya kemana-mana tapi ia tetap tidak ditemukan.” Sungmin menghapus air matanya yang sudah hampir jatuh.
“Uljimarayo.” Kata Hyeri. Sungmin mengangguk.
“Ngomong-ngomong, kenapa aku bisa menceritakan semua ini padamu, ya? Sebelumnya aku tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Hanya keluargaku yang tahu.”
“Aku juga. Rasanya, aku sudah mengenalmu lama sekali, Sungmin-ssi. Rasanya kita sudah dekat sejak bertahun-tahun yang lalu.”
“Kau ada acara nanti malam?”
“Tidak ada. Biasanya, setelah selesai bekerja aku langsung pulang.”
“Berarti tidak bisa, dong.” Sungmin terlihat sedih.
“Apanya yang tidak bisa?”
“Makan malam.”
“Makan malam?”
“Ne. Kita kan baru kenal, walaupun kita sama-sama merasa sudah kenal lama. Jadi, bagaimana kalau kita makan malam bersama setelah pulang kerja nanti?”
“Oke.”
“Kau setuju?” tanya Sungmin terkejut.
“Tentu saja.”
“Kau tidak takut padaku?”
“Untuk apa? Kau sudah seperti oppaku sendiri, Sungmin-ssi. Bagaimana kalau aku memanggilmu oppa?”
Sungmin tertawa.
“Kenapa tertawa? Kau tidak suka?”
“Aniyo. Aku suka dipanggil oppa. Hanya saja, kita baru saja kenal dan kau memanggilku oppa. Siapa tahu kita seumuran.”
“Aku lahir tahun 1988. Sungmin-ssi sendiri?”
Sungmin tertegun. Tahun 1988? Adiknya juga lahir di tahun itu.
“Sungmin-ssi kenapa diam?”
“Ah, aku lahir tahun 1986. Aku lebih tua darimu. Kau harus memanggilku oppa. Ngomong-ngomong, kau dan Kyuhyun lahir di tahun yang sama.”
“Jinca?”
“Ne.”
Hyeri mengangguk-angguk.
Klining!
Seorang pengunjung datang.
“Selamat da...”
Yeoja yang baru datang itu menampar Hyeri.
“Ya!” bentak Sungmin.
“Unnie!” teriak Hyeri sambil memegangi pipinya yang sakit.
“Diam kau!” yeoja itu menatap Sungmin tajam.
“Jadi di sini kau berada?! Kau malah asyik berduaan dengan namja ini sementara Umma dan Appa mengkhawatirkanmu di rumah?!” bentaknya. Sungmin hanya bisa menatap kedua yeoja di depannya itu.
“Apakah Nona Kim yang memberitahumu?”
“Ne! Kau ini! Kenapa kau bisa ada di sini?! Pulang sekarang! Dasar anak tidak tahu berterima kasih! Kami sudah mau menerimamu sebagai keluarga! Jadi ini balasanmu untuk kami?! Kabur dan tidak mempedulikan kami?!”
“Apa urusan Unnie?! Sejak kapan Unnie peduli padaku?!”
“Aku tidak peduli padamu! Aku peduli pada Umma dan Appa!”
“Kenapa sih Unnie selalu saja melarangku melakukan hal-hal yang aku suka? Yang aku inginkan?”
“Kau tidak suka? Kalau tidak suka, jangan menjadi anggota keluarga Han! Jadilah dirimu yang dulu! Seorang Lee Hyeri yang miskin dan yatim piatu!”
Sungmin terkejut. Lee Hyeri?!
“Unnie saja! Aku tidak mau! Aku masih bisa menjadi seorang anak yang tahu berterima kasih pada keluarga yang telah mengadopsiku.”
“Begini caranya berterima kasih?! Dengan kabur dengan alasan mencari oppamu yang meninggalkanmu itu?!”
“Aku tidak kabur! Aku hanya pergi untuk sementara!”
“Cuih. Sepertinya kau terobsesi sekali untuk menemukan oppamu. Oppamu itu jahat! Dia telah meninggalkanmu. Lagipula, kalung apa itu? Kalung pemberian oppamu?!” Han Miyoung atau tepatnya unnienya Hyeri, mengambil kalung yang berada di leher Hyeri.
“Unnie! Kembalikan!”
Miyoung melempar kalung itu hingga masuk ke bawah rak.
“Unnie!” Hyeri mulai menjambak rambut Miyoung. Miyoung tidak terima dan mereka jadi saling menjambak rambut.
“Mwoya?!” terdengar teriakan Kyuhyun yang baru datang, tapi kedua yeoja yang sedang bertengkar itu tidak peduli.
“Kyuhyun-ah, bantu aku memisahkan mereka!” perintah Sungmin.
“Ne, Hyung!”
Kyuhyun berusaha menahan gerakan Miyoung, sementara Sungmin menahan gerakan Hyeri.
“Siapa kau?! Lepaskan aku! Lepaskan!” Miyoung membentak Kyuhyun.
“Nona, mohon pergi dari sini sekarang juga supaya tidak menimbulkan keributan!” teriak Kyuhyun, melepaskan tangannya. Dengan tatapan sinis, Miyoung akhirnya meninggalkan minimarket itu. Sungmin melepaskan tangannya, dan Hyeri langsung melihat ke kolong rak untuk mencari kalungnya.
“Apa yang kau cari?” tanya Kyuhyun.
“Kalungku!” jawab Hyeri tanpa menoleh.
“Kalung?”
“Kalung pemberian oppaku. Kalung yang ia berikan sesaat sebelum kami berpisah.” Air mata Hyeri mulai mengalir. Sungmin langsung mengambil sapu di ruang karyawan dan berusaha mengambil kalung Hyeri di bawah rak. Kalungnya berhasil ditemukan.
“Sudahlah, uljimarayo. Kalung itu sudah ketemu, kan?” Sungmin menenangkan Hyeri.
“Gomawo, Oppa.” Kata Hyeri sambil menghapus air matanya.
Sungmin kembali teringat akan kata-kata Miyoung tentang Lee Hyeri.
“Tadi, unniemu bilang, Lee Hyeri?” tanya Sungmin.
“Oppa mendengarnya, ya.”
“Siapa Lee Hyeri?”
“Lee Hyeri itu... aku.”
“Namamu kan Han Hyeri?” tanya Kyuhyun tidak mengerti.
“Han itu nama keluargaku baruku. Aku mengubah namaku sejak aku menjadi keluarga Han. Sebelum aku menjadi keluarga Han, margaku adalah Lee.”
“Hyeri-ah?” Sungmin menggumamkan nama Hyeri.
“Mwo?”
“Aniya. Bagaimana oppamu meninggalkanmu? Aku lupa.”
“Oppa meninggalkanku sendirian sementara aku menangis, saat itu. Dan ia tidak pernah kembali ke sana.”
“Oppamu hanya ingin mengambil minum untukmu, karena kau terlalu lama menangis. Kau pasti haus.”
“Bagaimana Oppa bisa tahu?”
“Karena akulah Oppamu. Aku yang memberimu kalung itu, sesaat sebelum gempa itu.”
“Mwo?! Oppa adalah.. Sungminnie Oppa?”
“Itu aku, dongsaeng.”
“Oppa!” Hyeri memeluk Sungmin dan menangis.
“Bogosipoyo..” katanya.
“Nado, Hyeri-ah. Nado.” Kata Sungmin, memeluk erat adiknya, seakan tidak mau melepasnya lagi.
“Oppa janji jangan pernah pergi lagi, ya?” tanya Hyeri setelah melepaskan pelukannya.
“Ne. Oppa janji.”
“Jadi, kau Lee Hyeri?! Lee Hyeri si boneka itu?!”
“Kyuhyun-ssi!” teriak Hyeri tidak suka, sementara Kyuhyun tertawa.
“Kalian bisa tinggal di rumahku. Kalian kakak beradik, tidak boleh dipisahkan. Ayolah!”
“Oke. Tapi, nanti malam kami akan makan malam bersama, Kyuhyun, setelah itu kami akan ke rumah keluarga Han.”
“Oke. Aku akan bilang pada Umma, Appa, dan Noona. Ngomong-ngomong, Hyung, aku boleh mendekati adikmu, kan?”
Sungmin dan Hyeri berpandangan, lalu mereka tertawa.
“Ne, tentu saja boleh.”
“Jeongmal?!”
“Ne, kalau dengan kau aku bisa tenang. Aku kan sudah mengenalmu sejak dulu.” Sungmin masih tertawa.
“Kau mau dengan Kyuhyun kan, Hyeri-ah?”
Hyeri mengangguk pelan.
“Waaaa!” teriak Kyuhyun senang.
BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar